Ratusan Penumpang Tujuan Simeulue Terancam Kelaparan di Pelabuhan Labuhanhaji

TheTapaktuanPost | Labuhanhaji. Sebanyak 322 penumpang tujuan Pulau Simeulue yang terlantar di Pelabuhan penyeberangan Labuhanhaji sejak Sabtu (20/7/2019) kini terancam kelaparan.

Ratusan penumpang ini sudah terlantar selama tiga hari akibat Kapal Feri KMP. Labuhan haji yang mereka tumpangi tidak bisa berlayar ke Pulau Simeulue akibat cuaca buruk yakni gelombang tinggi disertai angin kencang.

Bacaan Lainnya

“Pemkab Aceh Selatan melalui Dinas Sosial dan BPBD telah menyuplai bahan makanan masa panik ke penumpang tujuan Simeulue yang terlantar tersebut. Tapi stoknya hanya sampai besok pagi (Selasa-red). Setelah itu stoknya akan habis,” kata Camat Labuhanhaji, Gusmawi Mustafa saat dihubungi dari Tapaktuan, Senin (22/7) malam.

Menurutnya, Pemkab Aceh Selatan tidak bisa menambah suplai makanan masa panik karena statusnya bukan bencana alam tapi kejadian khusus yang membutuhkan bantuan dan kepedulian bersama dari pihak-pihak terkait.

Jika kejadian bencana alam, kata Gusmawi, Bupati Aceh Selatan bisa mengeluarkan surat rekomendasi kepada Bulog Sub Divre Blang Pidie untuk mengeluarkan beras dari gudangnya guna dibagikan kepada masyarakat. Tapi karena ini bukan kejadian bencana alam maka tidak ada dasar diambil kebijakan tersebut.

Selain telah mendistribusikan makanan masa panik, Pemkab Aceh Selatan juga telah menerjunkan satu unit mobil dapur umum ke Pelabuhan Labuhanhaji untuk melayani kebutuhan makanan para penumpang yang terlantar. Meskipun demikian, ketersediaan makanan terhadap para penumpang itu tetap akan terancam karena stok beras hanya cukup sampai pada Selasa pagi besok.

Karena itu, pihaknya mengharapkan kepada Pemerintah Aceh melalui dinas terkait serta donatur-donatur lainnya agar segera menyalurkan bantuan masa panik kepada penumpang Kapal Feri tujuan Simeulue yang sudah tiga hari terlantar di Pelabuhan Labuhanhaji.

“Kepedulian terhadap ratusan penumpang ini tidak mungkin hanya diharapkan kepada Pemkab Aceh Selatan saja. Melainkan butuh perhatian bersama khususnya Pemerintah Aceh. Sebab kepada Pemkab Simeulue juga tidak bisa diharapkan saat ini karena di sana juga sedang dilanda musibah banjir dan tanah longsor,” ungkap Gusmawi.

Diceritakan bahwa, kejadian terlantar ratusan penumpang tersebut bermula pada Sabtu (20/7) malam yang seharusnya seluruh penumpang yang sudah stanby diatas kapal itu sudah berlayar ke Simeulue. Namun rencana itu secara tiba-tiba di batalkan oleh Syahbandar. Karena cuaca di perairan Aceh Selatan hingga Simeulue sedang memburuk yakni gelombang tinggi disertai angin kencang.

“Berdasarkan pengakuan Kapten Kapal, pihak Syahbandar merekomendasikan Kapal Feri KMP. Labuhanhaji berangkat pada ke esokan harinya,” kata Gusmawi mengutip ucapan kapten kapal.

Tepat pada Minggu (21/7) sekitar pukul 06.00 WIB subuh, KMP. Labuhanhaji yang mengangkut sekitar 322 orang penumpang mulai berlayar menuju Pulau Simeuleu. Sekitar 2 jam perjalanan dari bibir pantai Labuhanhaji, KMP. Labuhanhaji mulai dihantam gelombang setinggi 5-6 meter disertai angin kencang dan badai.

Melihat kondisi yang sangat berbahaya itu serta berdasarkan hasil komunikasi dengan Syahbandar, akhirnya Kapten Kapal KMP. Labuhanhaji memilih memutar kembali haluan dan tiba kembali di dermaga Pelabuhan Labuhanhaji pada Minggu (21/7) sekitar pukul 09.00 WIB pagi.

Bekal Penumpang Menipis

Berdasarkan amatan pihaknya, lanjut Gusmawi, kondisi sebanyak 322 penumpang saat ini sangat memprihatinkan. Sejumlah penumpang yang tidak ada lagi bekal terpaksa harus mengembalikan tiket untuk berbelanja berbagai kebutuhannya mempertahankan hidupnya.

Sebagian penumpang yang tidak ada biaya menyewa penginapan, memilih tetap bertahan dalam kapal serta sebagian lainnya memilih tidur di pelataran halaman kantor pelabuhan dimaksud.

Mulai Jatuh Sakit

Tak hanya itu, kata Gusmawi, kondisi penumpang yang terkatung-katung sudah 3 hari belum ada kejelasan kapan berangkat juga telah mengakibatkan beberapa penumpang jatuh sakit.

Diantaranya, ada yang sedang mengalami sakit darah manis (DM), ibu hamil dan jatuh sakit karena lelah kurang tidur.

“Para penumpang yang sedang sakit ini, langsung kami evakuasi ke Puskesmas Labuhanhaji dengan dibantu oleh petugas kesehatan pelabuhan,” ungkapnya.

Pos terkait