Pemkab Aceh Selatan Programkan Penangkaran Orang Utan di Rantau Sialang

  • Whatsapp

TheTapaktuanPost | Tapaktuan. Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan merencanakan Rantau Sialang, Kecamatan Kluet Selatan sebagai lokasi penangkaran orang utan, untuk melakukan pelestarian dan populasi orang utan di daerah penghasil pala tersebut.

“Kita pilih wilayah hutan Rantau Sialang karena di kawasan itu terdapat berbagai macam ragam satwa langka yang habitat dan populasinya di lindungi,” kata Bupati Aceh Selatan Tgk. Amran saat menerima kunjungan Duta Wisata di Pendopo, Tapaktuan, Selasa (26/7/2022).

Bacaan Lainnya

Untuk membangun penangkaran orang utan tersebut, kata bupati, diperkirakan membutuhkan anggaran lebih kurang mencapai Rp.1,5 miliar. Itu sebabnya, kata bupati, terkait rencana ini harus terlebih dahulu di koordinasikan dengan pihak leading sector terkait.

“Sebab kawasan hutan Rantau Sialang tersebut masuk kedalam koridor Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang kelestariannya dilindungi,” kata bupati.

Untuk memudahkan pengawasan dan pemantauannya, tambah bupati, pihaknya akan membuat rumusan yang sistematis dan komprehensif dengan mengacu pada berbagai regulasi aturan perundang-undangan yang ada.
Dalam rangka menjaga dan menyelamatkan kelestarian Taman Nasional Gunung Leuser dan seluruh satwa yang bernaung di kawasan hutan tersebut.

“Lokasinya tidak terlalu jauh dari jalan nasional, berkisar tiga kilo meter. Nantinya akan dibuat papan dan sarang sebagai sarana bernaung orang utan. Besar kemungkinan objek penangkaran ini digandrungi wisatawan, sehingga bisa memajukan sektor pariwisata di daerah kita,” ungkap Tgk. Amran.

Makanya, Bupati Aceh Selatan mengimbau Duta Wisata Aceh Selatan Tahun 2022, Bambang Lesmana Dwi P dan Sal Sabila untuk terus menggali dan mempromosikan berbagai potensi wisata dan kebudayaan daerah agar dikenali lebih dekat oleh masyarakat luar, baik dilevel nasional maupun mancanegara.

“Tunjukkan kemampuan adik-adik dalam mengorbitkan potensi wisata, seperti situs sejarah, tempat-tempat relegius dan berbagai objek wisata unggulan lainnya yang tersebar di seantero Aceh Selatan. Saya yakin, sebagai generasi muda dan duta wisata daerah, adik-adik lebih mampu dan strategis membangkitkan dunia pariwisata Aceh Selatan lebih maju ke depannya,” imbuh bupati.

“Selalu bersemangat dan tingkatkan koordinasi dengan pihak-pihak terkait agar tidak salah langkah. Semoga nantinya, Duta Wisata Aceh Selatan tahun 2022 bisa melenggang ke even yang terkemuka di level nasional,” pesan bupati.

Sal Sabila, gadis yang masih menempa pendidikan kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, mengatakan, saat ini pihaknya sedang memprogramkan promosi objek wisata Aceh Selatan dengan menggunakan bahasa isyarakat sebagai komunikasi dengan kaum tunawicara dan tunarungu disamping konten biasa.

“Bahasa isyarat kita program untuk membantu berkomunikasi dengan kalangan tunawicara dan tunarungu. Sehingga semua kalangan bisa mengetahui informasi promosi  yang kita sampaikan. Selain itu kami juga inten mengemas sector kebudayaan,” jelas Sal Sabila kepada bupati.  

Bambang Lesmana, menambahkan, saat ini mereka sedang dijadwalkan akan dinobatkan oleh pihak Pemerintah Aceh melalui Dinas Pariwisata pada 10 November 2022 mendatang.

“Kami mohon doa dan dukungan dari masyarakat Aceh Selatan, semoga bisa sukses pada event-event selanjutanya,” pungkas Bambang Lesmana mahasiwa bahasa Inggris di Unsyiah ini.

Pos terkait