TheTapaktuanPost | Tapaktuan. Pemkab Aceh Selatan bersama SKPK terkait lainnya menggelar acara pergerakan massa sebagai implementasi kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) untuk bergerak sinergi dalam upaya penanganan dan pencegahan masalah gizi khususnya kasus stunting.
Kegiatan yang dibuka oleh Sekdakab H. Nasjuddin SH mewakili Bupati Aceh Selatan, berlangsung di Halaman Kantor Dinas Kesehatan Aceh Selatan, di Tapaktuan, Jumat (7/12/2018).
Rangkaian kegiatan dalam rangka kampanye germas dalam upaya mencegah penyakit stunting tersebut, diawali pelaksanaan senam jantung sehat serta makan buah dan sayur bersama.
Selanjutnya, pembacaan deklarasi dan pemukulan gendang bersama oleh Sekdakab H. Nasjudin mewakili Bupati Aceh Selatan, didampingi Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, Ferdius, SKM,M.Kes, pejabat Forkopimda dan Kadis Kesehatan Aceh Selatan sebagai tanda telah dimulainya gerakan masyarakat hidup sehat di daerah itu.
Selain itu, juga turut dilaksanakan penandatanganan deklarasi germas untuk pencegahan stunting oleh perwakilan tokoh masyarakat dan perwakilan ibu hamil.
Bupati Aceh Selatan H. Azwir S.Sos dalam amanat tertulisnya yang dibacakan oleh Sekdakab H. Nasjudin menyatakan bahwa, germas menjadi momentum bagi seluruh masyarakat untuk membudayakan pola hidup sehat yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan berprilaku sehat.
“Untuk memulainya, harus dimulai dari diri sendiri dan keluarga. Keluarga merupakan bagian terkecil dari masyarakat yang membentuk kepribadian seorang individu, sehingga terjadi perubahan perilaku keluarga dan masyarakat khususnya dalam mengenali risiko penyakit yang berdampak pada pembangunan kualitas sumber daya manusia,” kata H. Nasjudin.
Menurutnya, permasalahan kesehatan yang dihadapi saat ini sebagian besar disebabkan pola perilaku hidup yang belum sesuai kaedah kesehatan. Masyarakat cenderung mengkonsumsi makanan siap saji, tinggi gula, garam dan lemak di iringi dengan kebiasaan merokok yang merupakan faktor risiko utama menculnya penyakit.
Disamping itu, ketersediaan air bersih dan sanitasi lingkungan yang belum mendukung pola hidup bersih dan sehat (PHBS) juga merupakan faktor penentu, optimalnya derajat kesehatan masyarakat. Indikator sensitif mengukur tingkat derajat kesehatan masyarakat adalah angka kematian ibu, kematian bayi dan status gizi balita.
Yang paling penting harus diperhatikan lagi, lanjutnya, adalah proses tumbuh kembang anak mulai dari kandungan sampai usia 2 tahun yang dikenal 1000 hari pertama kehidupan, merupakan periode emas yang paling menentukan. Jika pada periode itu tidak diperhatikan dengan baik dan benar, akibat ketidaktahuan dan perilaku yang keliru terkait pola makan, pola asuh, pola kebersihan dan lingkungan sanitasi yang buruk.
Maka akan menimbulkan masalah kesehatan dan gizi, salah satunya adalah akan timbul kasus anak stunting atau pendek.
“Stunting adalah tinggi badan seorang anak lebih pendek dibanding tinggi badan orang lain pada umumnya di umur yang sama. Ini diakibatkan karena pemenuhan gizi anak tidak cukup, beresiko penyakit degeneratif saat dewasa sehingga menimbulkan kerugian jangka panjang terutama aspek ekonomi dan pembangunan SDM handal,” paparnya.
Karena itu, sambung Nasjudin, melalui momen ini pihaknya mengajak seluruh pihak terkait untuk secara bersama-sama bergerak sinergi dalam upaya penanganan dan pencegahan masalah gizi khususnya stunting.
Sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 1 tahun 2017 tentang Germas, kata Nasjudin, maka pihaknya menghimbau atau mengajak masyarakat untuk mendukung upaya penanggulangan dan pencegahan masalah gizi khususnya stunting dengan cara meningkatkan budaya hidup sehat tanpa rokok, budaya makan buah dan sayur bersumber dari pangan lokal, menciptakan desa bebas buang air besar sembarangan, menggunakan air bersih dan jamban yang sehat dan mengakses fasilitas kesehatan sebagai wadah komunikasi, koordinasi dan konsultasi kesehatan.
Acara ini turut dihadiri para pejabat kepala SKPK, para camat, seluruh Kepala Puskesmas se-Aceh Selatan, para keuchik dalam Kecamatan Tapaktuan dan puluhan mahasiswa Poltekkes Aceh Prodi Keperawatan Tapaktuan.
