Perjuangan Mahasiswa dan Sikap Bijak Mualem Cabut Pergub JKA Diapresiasi

TheTapaktuanPost | Tapaktuan. Gelombang suara mahasiswa Aceh dalam beberapa hari terakhir akhirnya menemukan jawaban. Di tengah polemik Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) yang memicu keresahan masyarakat, keputusan Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem mencabut Pergub Nomor 2 Tahun 2026 menjadi titik terang yang disambut gegap gempita berbagai kalangan.

Di balik keputusan itu, ada energi besar yang lahir dari gerakan mahasiswa dan pemuda Aceh. Mereka turun ke jalan, menyuarakan kegelisahan masyarakat yang khawatir kehilangan akses layanan kesehatan. Bagi Ketua DPRK Aceh Selatan, Hj. Rema Mishul Azwa, gerakan tersebut bukan sekadar aksi demonstrasi biasa, melainkan bentuk keberanian moral generasi muda dalam menjaga hak dasar rakyat.

Bacaan Lainnya

“Mahasiswa Aceh hari ini telah menunjukkan keberpihakan yang nyata kepada rakyat. Mereka tidak sedang mencari popularitas ataupun berpolitik praktis, tetapi sedang menjaga hak masyarakat kecil agar tetap memperoleh pelayanan kesehatan,” kata Rema, kepada wartawan di Tapaktuan, Selasa (19/5/2026).

Menurutnya, apa yang dilakukan mahasiswa menjadi bukti bahwa idealisme generasi muda Aceh masih hidup. Di tengah meningkatnya sikap apatis terhadap persoalan sosial, mahasiswa justru hadir sebagai penyambung suara rakyat kecil.

Di bawah terik matahari, mereka berdiri membawa poster, menyampaikan aspirasi, dan menuntut agar kebijakan pemerintah tetap berpihak kepada masyarakat. Bagi Rema, itu adalah potret tanggung jawab moral anak muda terhadap masa depan Aceh.

“Mereka hadir membawa kegelisahan rakyat. Ini bukan perjuangan biasa, tetapi bentuk kepedulian terhadap hak masyarakat agar tetap terlindungi,” katanya.

Rema menilai mahasiswa telah memainkan peran penting sebagai pengingat bagi pemerintah dan para elite politik bahwa setiap kebijakan publik harus lahir dari kepentingan rakyat. Tekanan moral yang dibangun melalui aksi, diskusi, hingga penyampaian aspirasi secara terbuka akhirnya membuahkan hasil dengan dicabutnya pergub yang menuai kontroversi tersebut.

“Aspirasi rakyat tidak boleh dianggap angin lalu. Mahasiswa telah membuktikan bahwa suara rakyat yang diperjuangkan dengan tulus akan menemukan jalannya,” ujarnya.

Bagi Aceh sendiri, gerakan mahasiswa bukan hal baru. Sejarah panjang daerah ini selalu diwarnai keterlibatan pemuda dan kaum intelektual dalam mengawal perubahan sosial maupun kebijakan publik. Semangat kritis itu, kata Rema, harus terus dijaga agar demokrasi tetap hidup.

“Mahasiswa Aceh telah memperlihatkan bahwa gerakan intelektual masih hidup. Mereka menjadi benteng moral ketika masyarakat membutuhkan pembelaan,” tegasnya.

Di sisi lain, Rema juga memberikan apresiasi kepada Gubernur Aceh Muzakir Manaf yang dinilai menunjukkan sikap bijak dengan mendengar aspirasi masyarakat. Menurutnya, keputusan mencabut Pergub Nomor 2 Tahun 2026 merupakan bentuk keberanian seorang pemimpin dalam menempatkan kepentingan rakyat di atas segalanya.

“Kebesaran seorang pemimpin terlihat ketika mampu mendengar kritik dan menjadikan aspirasi rakyat sebagai dasar pengambilan keputusan. Sikap Mualem patut diapresiasi,” pungkasnya.

Pos terkait