Istri Bupati Mirwan Dikukuhkan Jadi Ibunda Guru, PGRI Titip Nasib Guru Aceh Selatan

TheTapaktuanPost | Banda Aceh – Pengukuhan Devina Hafisah, istri Bupati Aceh Selatan H. Mirwan MS, sebagai Ibunda Guru Kabupaten Aceh Selatan membawa harapan baru bagi kalangan pendidik. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) setempat berharap kehadirannya tidak berhenti pada jabatan simbolis, tetapi mampu menjadi jembatan perjuangan kesejahteraan dan perlindungan profesi guru.

Harapan tersebut disampaikan Ketua PGRI Aceh Selatan, Fatayuddin, S.Pd., menyusul pelantikan dan pengukuhan Ibunda Guru dari 23 kabupaten/kota se-Aceh yang berlangsung di Aula Dinas Pendidikan Aceh, Banda Aceh, Sabtu (24/10/2026).

Bacaan Lainnya

Devina Hafisah dikukuhkan bersama para Ibunda Guru kabupaten/kota lainnya oleh Ibunda Guru Aceh, Marlina Usman, istri Gubernur Aceh Muzakir Manaf.

Prosesi tersebut turut disaksikan Ketua PGRI Aceh Selatan Fatayuddin bersama sejumlah pengurus, serta Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Selatan, M. Najur, M.Pd., yang juga menjabat Wakil Ketua PGRI Provinsi Aceh.

Fatayuddin mengatakan, pengukuhan Ibunda Guru harus menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara organisasi profesi guru dan pemerintah daerah, terutama dalam menjawab berbagai persoalan yang dihadapi tenaga pendidik.

Menurutnya, masih banyak agenda pendidikan yang membutuhkan perhatian dan dukungan bersama, mulai dari peningkatan kompetensi hingga kesejahteraan dan perlindungan hukum bagi guru.

“Pelantikan dan pengukuhan Ibunda Guru ini bukan hanya sekadar acara seremonial, tetapi harus menjadi harapan baru bagi kemajuan pendidikan di daerah,” ujar Fatayuddin kepada TheTapaktuanPost, Minggu (25/10/2026).

Ia berharap Devina Hafisah dapat mengambil peran aktif dalam memperkuat komunikasi antara PGRI dan Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan.

“Dengan dikukuhkannya Devina Hafisah sebagai Ibunda Guru Aceh Selatan, kami berharap terjalin kerja sama yang baik untuk menjembatani aspirasi guru dengan pemerintah daerah, terutama dalam memperjuangkan kesejahteraan para pendidik di Negeri Tuan Tapa,” katanya.

Fatayuddin mengungkapkan, PGRI Aceh Selatan telah menaruh harapan terhadap sejumlah program yang dapat diperjuangkan bersama Ibunda Guru.

Program tersebut meliputi peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru, penguatan literasi dan numerasi, pendidikan karakter, serta perlindungan hukum dan kesejahteraan tenaga pendidik.

Selain itu, PGRI juga mendorong penguatan digitalisasi pendidikan, pemberian motivasi dan apresiasi bagi guru berprestasi, pemberdayaan guru perempuan, serta pengembangan pendidikan inklusif.

Perhatian terhadap pemerataan layanan pendidikan hingga pelestarian budaya dan kearifan lokal juga menjadi bagian dari agenda yang diharapkan dapat dikembangkan melalui kemitraan tersebut.

“Semua program itu membutuhkan sinergi dan kemitraan yang baik antara PGRI Aceh Selatan dan Ibunda Guru. Kami berharap kerja sama ini benar-benar memberikan manfaat bagi para pendidik,” tegas Fatayuddin.

Sementara itu, Ibunda Guru Aceh, Marlina Usman, menegaskan bahwa pengukuhan Ibunda Guru di seluruh kabupaten/kota bukan semata-mata pemberian gelar kehormatan.

Menurutnya, jabatan tersebut mengandung tanggung jawab sosial untuk mendukung perjuangan para pendidik, terutama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan guru.

“Selamat dan terima kasih atas kesediaan ibu-ibu semua sebagai Ibunda Guru di daerah masing-masing. Kami percaya amanah ini akan meneguhkan semangat kita dalam upaya meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan para guru,” ujar Marlina.

Ia menjelaskan, Ibunda Guru diharapkan mampu mendampingi perjuangan PGRI dalam meningkatkan profesionalisme, memperjuangkan kesejahteraan, serta memperkuat perlindungan hukum bagi pendidik dan tenaga kependidikan.

Keberadaan Ibunda Guru juga diharapkan dapat menyelaraskan program pendidikan pemerintah daerah dengan agenda perjuangan organisasi profesi guru.

“Ibunda Guru juga bertugas mendukung penguatan program pemberdayaan tenaga pendidik, khususnya guru perempuan, serta mendorong kemandirian dan peningkatan literasi bagi para guru,” jelasnya.

Senada dengan itu, Ketua PGRI Aceh, Al Munzir, S.Pd.I., M.Si., menilai pengukuhan Ibunda Guru dari 23 kabupaten/kota merupakan langkah memperkuat kemitraan dalam memajukan pendidikan di Aceh.

Ia berharap para Ibunda Guru dapat menjadi mitra strategis PGRI, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, khususnya dalam memperjuangkan hak dan kesejahteraan tenaga pendidik.

“Dengan dilantik dan dikukuhkannya Ibunda Guru, semoga PGRI Aceh dapat menjalin kerja sama dan kemitraan yang baik dalam meningkatkan kualitas pendidikan, terutama memperjuangkan kesejahteraan serta memberikan perlindungan terhadap guru,” ungkap Al Munzir.

Pelantikan tersebut turut dihadiri Plt Sekda Aceh, Asisten Pemerintahan, Keistimewaan dan Kesejahteraan Rakyat, Kepala Dinas Pendidikan Aceh, serta sejumlah kepala daerah dan tamu undangan lainnya.

Bagi PGRI Aceh Selatan, pengukuhan Devina Hafisah kini diharapkan menjadi awal kemitraan yang lebih konkret dengan pemerintah daerah.

Sebab, ukuran keberhasilan seorang Ibunda Guru bukan sekadar pengukuhan jabatan, melainkan sejauh mana kehadirannya mampu membantu memperjuangkan aspirasi, perlindungan, dan kesejahteraan para pendidik.

Pos terkait