TheTapaktuanPost | Tapaktuan – Kepiawaian santri Madrasah Ulumul Qur’an (MUQ) Aceh Selatan ternyata tak sebatas menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an. Di atas panggung kesenian, para santri juga menunjukkan kemampuan melestarikan warisan budaya Aceh melalui pertunjukan Rapai Geleng yang memukau penonton.
Hal itu dibuktikan Sanggar Seni Seulaweut MUQ Aceh Selatan saat tampil dalam Festival Kebudayaan yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia di Gedung Rumoh Agam, Tapaktuan, Sabtu (24/10/2026).
Di tengah persaingan 12 sanggar seni dari berbagai wilayah Aceh Selatan, penampilan para santri MUQ mencuri perhatian melalui perpaduan gerakan yang kompak, hentakan rapai yang ritmis, serta syair-syair bernuansa Islami yang menjadi ciri khas kesenian tradisional Aceh tersebut.
Festival ini juga menjadi bagian dari upaya penjaringan potensi seni daerah menuju pelaksanaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) tahun mendatang.
Bagi MUQ Aceh Selatan, penampilan tersebut bukan sekadar unjuk kebolehan di panggung budaya. Lebih dari itu, keikutsertaan para santri menjadi bukti bahwa pendidikan pesantren dapat berjalan beriringan dengan pengembangan bakat dan pelestarian kearifan lokal.
Sanggar Seni Seulaweut MUQ Aceh Selatan bukan pendatang baru dalam dunia kesenian tradisional.
Sanggar binaan pesantren tersebut sebelumnya berhasil menorehkan sejumlah prestasi, termasuk meraih juara pertama Rapai Geleng pada ajang SOB Sebarat Selatan Aceh yang berlangsung di SMA Unggul Aceh Selatan.
Prestasi serupa kembali diraih ketika Sanggar Seni Seulaweut menyabet juara pertama Festival Rapai Geleng EXPOSE III tingkat regional Barat Selatan Aceh di Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat.
Rentetan prestasi itu memperlihatkan keseriusan MUQ Aceh Selatan dalam membina kemampuan seni para santri di tengah padatnya kegiatan pendidikan agama dan hafalan Al-Qur’an.
Pembina Awwal Sanggar Seni Seulaweut MUQ Aceh Selatan, Tgk. Muhammad Andri Fihri, S.Hum., M.Pd., mengatakan keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kedisiplinan dan kerja keras para santri dalam menjalani latihan.
Menurutnya, kemampuan menghafal Al-Qur’an dan menguasai kesenian tradisional bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dapat saling melengkapi dalam membentuk karakter generasi muda Aceh.
“Keberhasilan ini adalah bukti nyata bahwa santri MUQ tidak hanya penghafal Al-Qur’an dan menguasai ilmu agama, tetapi juga mampu memiliki jiwa seni yang tinggi untuk melestarikan warisan leluhur bangsa,” ujar Muhammad Andri Fihri.
Ia menjelaskan, para santri harus membagi waktu antara kegiatan belajar, menghafal Al-Qur’an, dan berlatih kesenian.
“Mereka berlatih di sela-sela hafalan suci mereka dengan disiplin baja, dan hari ini dunia melihat buktinya,” katanya.
Sementara itu, Direktur MUQ Aceh Selatan, Tgk. Muhammad Ridho Agung, S.Pd., M.Ag., menyampaikan apresiasi atas dedikasi para santri dan pembina yang terus mengharumkan nama lembaga melalui berbagai kegiatan seni budaya.
Menurutnya, pengembangan kesenian tradisional merupakan bagian dari pendidikan karakter yang diterapkan di lingkungan pesantren.
Ia menilai generasi muda Aceh perlu dibekali pemahaman agama yang kuat sekaligus kecintaan terhadap identitas dan warisan budaya daerah.
“Menjadi penghafal Al-Qur’an sekaligus garda terdepan pelestari seni budaya Aceh adalah formula sempurna untuk mencetak generasi Aceh Selatan yang Islami, berkeacehan, madani, maju, dan produktif,” ujar Muhammad Ridho Agung.
Ia menegaskan, MUQ Aceh Selatan akan terus memberikan ruang bagi para santri untuk mengembangkan potensi, baik dalam bidang keagamaan, akademik, maupun seni budaya.
Penampilan Sanggar Seni Seulaweut dalam Festival Kebudayaan tersebut sekaligus membawa pesan bahwa pelestarian budaya Aceh tidak hanya menjadi tanggung jawab seniman dan lembaga kebudayaan.
Dari lingkungan pesantren, generasi muda juga dapat mengambil peran penting menjaga Rapai Geleng agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di tangan para santri MUQ Aceh Selatan, Al-Qur’an tetap menjadi pedoman, sementara Rapai Geleng menjadi salah satu cara merawat identitas dan kekayaan budaya Aceh.
