TheTapaktuanPost | Kluet Utara — Pintu rumah kayu itu terbuka pelan ketika rombongan pejabat teras di Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan tiba di Gampong Krueng Batu, Kecamatan Kluet Utara.
Di balik dinding yang mulai lapuk dan atap yang tampak menua, Muhammad Husni Thamrin bersama istri serta tiga anaknya menyambut tamu yang datang dengan penuh harap.
Rumah sederhana itu telah mereka tempati selama lebih dari sepuluh tahun. Sejumlah bagian bangunan terlihat rusak. Bagi keluarga tersebut, rumah itu bukan sekadar tempat berteduh, tetapi juga saksi perjuangan menjalani kehidupan dengan segala keterbatasan.
Pada Minggu (2/8/2026) siang itu, Bupati Aceh Selatan H. Mirwan MS, SE, M.Sos memilih tidak hanya melihat dari halaman. Ia masuk ke dalam rumah, duduk bersama keluarga, mendengarkan cerita tentang kehidupan yang mereka jalani, sekaligus menyaksikan langsung kondisi hunian yang dinilai sudah tidak layak.
Turut mendampingi dalam kunjungan tersebut Sekretaris Daerah Aceh Selatan Diva Samudera Putra, SE, MM, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Renol Riandy, ST, M.Si, serta Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh Selatan Gusmawi Mustafa.
Usai meninjau setiap sudut rumah, Mirwan langsung memberikan instruksi kepada Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman agar Muhammad Husni Thamrin diusulkan sebagai calon penerima Program Bantuan Bangun Baru Rumah Tahun Anggaran 2027.
Keputusan itu disambut haru oleh keluarga Husni. Raut wajah yang semula dipenuhi kegelisahan perlahan berubah menjadi senyum. Harapan yang selama bertahun-tahun hanya tersimpan dalam doa, kini mulai menemukan jalan.
Menurut Mirwan, seorang kepala daerah tidak cukup hanya menerima laporan di ruang kerja. Kondisi masyarakat harus dilihat secara langsung agar setiap kebijakan benar-benar lahir dari kebutuhan di lapangan.
“Seorang pemimpin tidak boleh hanya menerima laporan dari balik meja kerja. Kami harus turun langsung ke lapangan, melihat sendiri kondisi rumah masyarakat, masuk ke dapurnya, berbincang dengan keluarganya, serta mendengarkan apa yang benar-benar mereka rasakan. Dengan cara itulah pemerintah dapat memahami kebutuhan masyarakat secara nyata dan mengambil keputusan yang cepat serta tepat,” ujarnya.
Bagi Mirwan, rumah layak huni bukan sekadar bangunan fisik. Di sanalah anak-anak tumbuh, keluarga membangun harapan, dan masa depan dipersiapkan.
Karena itu, katanya, ketika pemerintah menemukan warga yang benar-benar membutuhkan, bantuan tidak boleh berlarut-larut menunggu.
“Ketika kami menyaksikan langsung kondisi seperti ini, tidak ada alasan untuk menunda. Pemerintah harus hadir dan bergerak memberikan solusi bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan,” katanya.
Ia berharap rumah yang nantinya dibangun bukan hanya menjadi tempat tinggal yang lebih aman dan nyaman, tetapi juga menjadi awal kehidupan yang lebih baik bagi keluarga Muhammad Husni Thamrin.
Kunjungan ke rumah sederhana di pelosok Kluet Utara itu menjadi pengingat bahwa di balik angka-angka pembangunan masih ada keluarga yang menunggu perhatian negara. Dari ruang tamu yang sempit dan dinding yang mulai rapuh, lahir sebuah keputusan yang diharapkan mampu mengubah kehidupan satu keluarga—sekaligus menjadi simbol bahwa kehadiran pemerintah tidak berhenti pada rapat dan dokumen, melainkan hadir di depan pintu rumah warganya sendiri.
