Enam Warga Terjangkit, Aceh Selatan Dinyatakan KLB Difteri

TheTapaktuanPost | Tapaktuan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh Selatan mengungkapkan penemuan penyakit difteri di beberapa kecamatan di daerah itu. Sejauh ini sudah ada enam warga positif suspek difteri sehingga sudah masuk dalam Kejadian Luar Biasa (KLB).

“Sebenarnya satu saja temuan kasus sudah dapat dimasukkan dalam kategori KLB, apalagi ini sudah enam kasus,” kata Sekretaris Dinkes Aceh Selatan, Novi Rosmita SE, M.Kes saat dikonfirmasi TheTapaktuanPost di Tapaktuan, Kamis (24/10/2019).

Dijelaskan bahwa, difteri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri pada hidung dan tenggorokan. Meskipun tidak selalu menimbulkan gejala, namun penyakit ini biasanya ditandai oleh munculnya selaput abu-abu yang melapisi tenggorokan dan amandel.

“Jika tidak ditangani segera, maka bakteri difteri bisa mengeluarkan racun yang dapat merusak sejumlah organ seperti jantung, ginjal atau otak. Difteri tergolong penyakit menular berbahaya dan berpotensi mengancam jiwa namun bisa dicegah melalui imunisasi,” jelas Novi.

Ihwal KLB penyakit difteri ini juga dibenarkan oleh Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Aceh Selatan, Sri Milda SKM.

Disebutkan bahwa, enam orang telah terjangkit difteri tersebut masing-masing di Desa Paya Ateuk, Kecamatan Pasie Raja 2 orang. Desa Durian Kawan, Kecamatan Kluet Timur 1 orang, Desa Buket Gadeng, Kecamatan Kota Bahagia 1 orang, di Kecamatan Kluet Selatan 1 orang dan Desa Kampung Hilir, Kecamatan Tapaktuan 1 orang.

“Sasaran utama penyakit ini adalah anak-anak. Buktinya dari 6 orang yang telah terjangkit difteri di Aceh Selatan, 5 orang diantaranya berumur 2 – 10 tahun. Hanya 1 orang berumur 35 tahun,” kata Sri Milda SKM.

Untuk mencegah penyakit difteri terus terjangkit secara luas di Aceh Selatan, pihak Dinkes bersama Puskesmas terus berupaya secara maksimal melakukan langkah penanganan kasus sesuai Standar Operasional Prosuder (SOP) yang telah ditetapkan.

Diantaranya, melakukan prolilaksis terhadap seluruh kontak erat penderita sekaligus pemberian erytrimicin kepada seluruh kontak erat dimaksud.

Menurutnya, banyaknya anak-anak terjangkit penyakit tersebut disebabkan karena capaian imunisasi Difteri Pertusis Tetanus (DPT) untuk anak-anak usia 3-9 bulan dan imunisasi Difteri Tetanus (DT) untuk anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) di Aceh Selatan tahun 2018 lalu tergolong sangat rendah.

“Tahun 2019 ini kita panen difteri akibat dari rendahnya capaian imunisasi DPT dan DT tahun 2018 lalu. Sebenarnya, pihak Dinkes bersama Puskesmas sangat gencar menggelar imunisasi bahkan sampai ke sekolah-sekolah, tapi sayangnya selalu terjadi penolakan secara besar-besaran dilapangan,” sesalnya.

Karena itu, Kabid P2P Dinkes Aceh Selatan Sri Milda SKM sangat mengharapkan kepada seluruh lapisan masyarakat khususnya para orang tua dan wali murid agar saat berlangsung lagi Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) pada bulan November 2019 mendatang, tidak terjadi lagi sikap penolakan terhadap kegiatan imunisasi.

“Kami sangat berharap, masyarakat bersedia mengizinkan anak-anaknya untuk di imunisasi. Semoga tidak terjadi lagi aksi penolakan ke depannya,” harapnya.

Sementara itu, Kepala UPTD Puskesmas Tapaktuan, dr. Risva juga membenarkan pihaknya telah menemukan salah seorang warga suspek difteri saat menjalani pemeriksaan di instansi medis tersebut.

“Iya benar, sudah diambil hapusan swapnya untuk dikirim ke laboratorium. Saat ini tengah menunggu hasilnya. Pasien tersebut langsung dirujuk ke RSUDYA yakni ke dokter spesialis anak dr. Nelly Sp.A,” ujarnya.