TheTapaktuanPost | Tapaktuan. Gua Kalam di Gampong Jambo Apha, Kecamatan Tapaktuan, Aceh Selatan, kian mencuri perhatian sebagai salah satu destinasi wisata alam unggulan di daerah tersebut.
Keindahan alam yang masih asri, dipadukan dengan aliran air yang jernih serta suasana sejuk, menjadikan lokasi ini salah satu pilihan favorit wisatawan untuk menghabiskan waktu libur, terutama pada akhir pekan.
Berdasarkan pantauan di lokasi, kawasan wisata tampak ramai oleh aktivitas pengunjung yang datang silih berganti. Sejumlah kendaraan roda dua memenuhi area parkir, sementara para wisatawan terlihat antusias menikmati panorama Gua Kalam yang dikenal memiliki aliran air jernih dan formasi batuan alami yang unik.
Salah seorang pengunjung, Rahmad (25), mengaku sengaja datang bersama teman-temannya untuk menikmati suasana alam yang masih terjaga.
“Tempatnya sejuk dan airnya sangat jernih, cocok untuk santai,” ujarnya, Minggu (19/4/2026).
Selain menikmati keindahan alam, banyak wisatawan juga memanfaatkan momen tersebut untuk berfoto di sejumlah titik spot foto menarik di area gua. Pesona Gua Kalam yang masih alami menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi kalangan generasi muda.
Di sisi lain, meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan turut disambut positif oleh masyarakat setempat. Aktivitas wisata dinilai mampu mendorong perputaran ekonomi warga, mulai dari jasa parkir hingga penjualan makanan ringan.
“Kami sangat senang karena setiap akhir pekan banyak pengunjung datang. Ini membantu menambah penghasilan warga,” kata seorang warga Gampong Jambo Apha.
Ketua Pemuda Gampong Jambo Apha, Ismail Ali Raja L, mengatakan pihaknya bersama pemuda setempat terus berupaya memberikan pendampingan kepada pengunjung sekaligus melakukan sosialisasi berbasis kearifan lokal.
Upaya itu dilakukan untuk menjaga kelestarian kawasan Gua Kalam, termasuk mengimbau agar tidak ada aktivitas atau ritual yang dapat merusak lingkungan.
Ia juga menyampaikan bahwa akses menuju lokasi wisata masih menjadi kendala. Pembangunan jalan yang pernah dilakukan sebelumnya belum sepenuhnya tuntas hingga ke kawasan Gua Kalam karena terkendala kondisi geografis di wilayah Batu Jam.
“Pada tahun anggaran 2025, kami bergotong royong menggunakan dana desa untuk membuka akses. Namun di tahun 2026 ini belum ada lagi anggaran lanjutan karena keterbatasan dana,” ujarnya.
Selain akses jalan, pengelolaan jasa pendamping wisata dan sistem parkir juga dinilai belum optimal. Saat ini, pengaturan parkir masih bersifat sukarela, sementara tarif jasa pendamping dianggap masih berada di bawah standar.
Ke depan, pihak pemuda berharap adanya legalitas berbadan hukum melalui akta notaris untuk mengatur kelayakan tarif parkir maupun jasa pendamping wisata. Langkah itu dinilai penting agar tata kelola wisata di kawasan tersebut menjadi lebih profesional.
Tak hanya itu, warga juga berharap adanya dukungan pembangunan fasilitas pendukung seperti ruang ganti, MCK, mushalla mini, pondok singgah, serta penyediaan jaringan listrik untuk menunjang aktivitas pelaku usaha di sekitar kawasan Lubuk Simerah.
Dengan pesona alam yang memikat dan dukungan masyarakat lokal, Gua Kalam berpotensi menjadi ikon wisata unggulan Aceh Selatan. Bagi wisatawan yang mencari destinasi bernuansa alam, Gua Kalam menjadi pilihan tepat untuk menikmati keindahan yang masih alami dan menenangkan. Pengunjung pun tetap diimbau menjaga kebersihan serta kelestarian lingkungan.
