TheTapaktuanPost | Meukek – Pencarian Edi Yanto (40), nelayan asal Gampong Tanjung Harapan, Kecamatan Meukek, Aceh Selatan, yang dilaporkan hilang saat melaut akhirnya membuahkan hasil. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di perairan perbatasan Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya (Abdya), Jumat (18/9/2026) sekitar pukul 11.00 WIB.
Informasi yang dihimpun di Pelabuhan Pasie Meukek menyebutkan, jenazah Edi ditemukan terapung di laut sekitar 12 mil dari pantai. Korban pertama kali ditemukan oleh nelayan asal Labuhanhaji.
Informasi penemuan itu kemudian diteruskan kepada nelayan Meukek yang sedang melakukan pencarian di sekitar perairan Ujong Manggeng, Abdya, serta dilaporkan kepada tim gabungan BPBD Aceh Selatan, BPBD Abdya dan Basarnas Pos Meulaboh.
Karena lokasi penemuan lebih dekat dengan wilayah Abdya, personel BPBD Abdya lebih dahulu menjangkau lokasi dan mengevakuasi jenazah menggunakan rubber boat.
Tim BPBD Aceh Selatan bersama Basarnas Pos Meulaboh yang juga bergerak melakukan penjemputan kemudian melanjutkan proses evakuasi jenazah menuju Pelabuhan Pasie Meukek dengan mengerahkan dua unit rubber boat.
Pantauan wartawan, Camat Meukek Teuku Ikbal Hidayatullah, S.Ag., bersama unsur Muspika dan ratusan masyarakat telah menunggu di Pelabuhan Pasie Meukek.
Suasana haru menyelimuti pelabuhan ketika jenazah tiba. Isak tangis keluarga, termasuk istri korban, pecah saat menyambut kedatangan jenazah Edi Yanto yang tiba di Pelabuhan Pasie Meukek sekitar pukul 13.45 WIB usai shalat jum’at.
Jenazah kemudian dibawa menggunakan ambulans Puskesmas Meukek menuju kediaman istri korban di Gampong Keude Meukek.
Setelah pelaksanaan fardu kifayah, jenazah direncanakan dimakamkan di kampung halamannya, Gampong Tanjung Harapan, Kecamatan Meukek.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun di lokasi, boat kecil bermesin robin yang digunakan Edi saat melaut belum ditemukan bersama jenazah.
Kondisi jenazah dilaporkan mengalami sejumlah luka, terutama pada bagian wajah. Belum diketahui penyebab luka tersebut.
“Sebuah kantong plastik berisi sebungkus rokok merek Insta masih utuh terikat di tangan korban,” kata salah seorang nelayan yang ikut dalam proses evakuasi.
Edi Yanto sebelumnya dilaporkan hilang setelah pergi melaut seorang diri pada Rabu (16/9/2026) sekitar pukul 05.00 WIB. Seperti biasa, ia mencari ikan menggunakan boat kecil bermesin robin bersama sejumlah nelayan lainnya.
Biasanya Edi kembali mendarat di Pantai Gampong Tanjung Harapan atau Pelabuhan Pasie Meukek pada sore hari. Namun hingga malam, korban tak kunjung pulang.
Rekan sesama nelayan disebut masih melihat Edi sekitar pukul 12.00 WIB pada hari tersebut. Keluarga yang khawatir kemudian melakukan pencarian.
Pencarian semakin intensif pada Kamis (17/9/2026) dengan mengerahkan sejumlah boat nelayan dari Pelabuhan Pasie Meukek.
Petunjuk pertama ditemukan ketika tim pencari menjumpai sebuah kotak fiber yang diduga bagian dari boat korban mengapung di tengah laut.
“Tim baru berhasil menemukan fiber boat robin korban di laut lepas, berjarak sekitar tiga mil dari bibir Pantai Pawoh, Labuhanhaji, atau sekitar dua mil dari bibir Pantai Ujong Manggeng, Abdya,” kata Keuchik Gampong Tanjung Harapan, Munirudin.
Munirudin yang akrab disapa Toke Munir mengatakan, keluarga meyakini fiber tersebut merupakan bagian dari boat yang digunakan Edi. Keyakinan itu diperkuat setelah mertua korban yang ikut dalam pencarian mengenalinya. Boat robin tersebut diketahui merupakan milik mertua korban.
“Mertua korban sangat yakin bahwa fiber tersebut bagian dari boat robin yang dikemudikan menantunya. Tim pencari bersama sejumlah boat nelayan terus mengintensifkan pencarian di sekitar lokasi penemuan fiber untuk menemukan korban,” ujarnya.
Pada Rabu sore, sejumlah wilayah Aceh Selatan dilanda hujan deras disertai angin kencang yang juga memicu banjir dan longsor. Namun, hingga kini belum diketahui apakah kondisi cuaca tersebut berkaitan dengan peristiwa yang dialami Edi Yanto.
