TheTapaktuanPost.com | Pidie – Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang seharusnya berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan di Gampong Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, Aceh, Rabu (4/11/2026), justru berakhir tragis. Bentrokan antara warga dan aparat keamanan dilaporkan menyebabkan satu orang meninggal dunia dan enam lainnya mengalami luka-luka.
Insiden yang diduga dipicu persoalan pengibaran bendera Bulan Bintang itu kini menjadi sorotan. Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Aceh mengecam keras dugaan kekerasan bersenjata terhadap warga sipil dan mendesak investigasi independen untuk mengungkap siapa yang bertanggung jawab.
Korban meninggal dunia disebut bernama Abzalul. Berdasarkan informasi awal yang dihimpun, korban diduga mengalami luka tembak saat kericuhan terjadi. Namun, penyebab pasti kematian korban, sumber tembakan, serta pihak yang terlibat masih memerlukan penyelidikan resmi.
Enam warga lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. Sejumlah korban diduga mengalami luka akibat tembakan maupun tindakan kekerasan fisik. Informasi mengenai jenis luka dan kondisi para korban juga belum seluruhnya terverifikasi.
Informasi sementara yang dikutip dari masakini.co dan theacehpost.com menyebutkan, ketegangan bermula ketika warga mengibarkan bendera Bulan Bintang di sekitar lokasi pelaksanaan khanduri Maulid Nabi.
Situasi dilaporkan memanas setelah sejumlah personel TNI Angkatan Darat yang disebut berasal dari Komando Tiro mendatangi lokasi kegiatan.
Kedatangan aparat disebut mendapat reaksi dari warga hingga terjadi ketegangan yang kemudian berkembang menjadi bentrokan.
Meski demikian, kronologi lengkap peristiwa, termasuk tindakan masing-masing pihak sebelum bentrokan pecah, belum dapat dipastikan.
Seorang warga setempat, Iskandar, mengaku istrinya turut menjadi korban dalam peristiwa tersebut.
Menurut Iskandar, istrinya ditemukan tergeletak tidak jauh dari lokasi bentrokan.
“Siapa pun yang berada di lokasi saat itu pasti mendapatkan penganiayaan oleh aparat,” kata Iskandar.
Sementara itu, sejumlah rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan suasana kepanikan. Warga terlihat berupaya menyelamatkan orang-orang yang terluka, sementara perempuan dan anak-anak berlarian menjauhi lokasi kejadian.
Dalam rekaman tersebut juga terdengar suara menyerupai letusan senjata api. Namun, sumber suara dan kaitannya dengan korban belum dapat dipastikan hanya berdasarkan video yang beredar.
Kericuhan itu juga dilaporkan mengakibatkan kerusakan sejumlah perlengkapan Maulid, termasuk mimbar yang telah disiapkan masyarakat.
KontraS: Jangan Sampai Perdamaian Aceh Kembali Terluka
Koordinator KontraS Aceh, Azharul Husna, mengecam keras insiden yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka tersebut.
Menurutnya, dugaan penggunaan kekerasan bersenjata terhadap masyarakat sipil dalam kegiatan keagamaan merupakan persoalan serius yang harus diusut secara terbuka.
“Penggunaan kekerasan bersenjata terhadap warga sipil, terlebih ketika masyarakat sedang menjalankan kegiatan keagamaan dan tradisi, merupakan persoalan serius yang tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun,” ujar Azharul Husna.
Ia menilai peristiwa tersebut bukan hanya menyangkut keselamatan masyarakat, tetapi juga berpotensi mencederai rasa keadilan dan semangat perdamaian yang telah lama dibangun di Aceh.
KontraS mengingatkan, apabila insiden itu berkaitan dengan persoalan pengibaran bendera Bulan Bintang, penyelesaiannya harus mengedepankan dialog dan mekanisme hukum.
Azharul menegaskan, persoalan simbol daerah harus ditempatkan dalam kerangka Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh serta semangat perdamaian yang menjadi landasan kehidupan masyarakat Aceh pascakonflik.
Menurutnya, pendekatan keamanan yang berujung pada kekerasan justru berpotensi memperbesar ketegangan dan menimbulkan luka baru di tengah masyarakat.
Atas peristiwa tersebut, KontraS Aceh mendesak Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Polri, dan lembaga berwenang lainnya segera melakukan investigasi independen.
Penyelidikan diminta tidak hanya mengungkap penyebab bentrokan, tetapi juga menelusuri dugaan penggunaan senjata api, asal tembakan, serta kemungkinan adanya penyalahgunaan kewenangan.
KontraS menegaskan, setiap pihak yang terbukti melakukan pelanggaran hukum harus dimintai pertanggungjawaban melalui proses yang transparan dan adil.
Selain itu, pemerintah dan instansi terkait diminta memastikan seluruh korban luka memperoleh perawatan medis yang memadai, sementara keluarga korban meninggal mendapatkan perlindungan dan pendampingan.
KontraS juga meminta aparat keamanan mengedepankan pendekatan persuasif dalam menangani persoalan sosial dan simbolik yang sensitif di Aceh.
Bagi KontraS, tragedi di Tiro harus menjadi perhatian serius agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih luas dan mengganggu kehidupan masyarakat.
Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan resmi dari pihak TNI maupun kepolisian yang dapat mengonfirmasi kronologi lengkap kejadian, dugaan penembakan, serta jumlah korban.
