TheTapaktuanPost | Tapaktuan — Tak banyak tokoh politik yang memilih meninggalkan partai ketika pengaruhnya masih begitu besar. Karena itu, kabar pengunduran diri Tgk. Abrar Muda dari kepengurusan sekaligus keanggotaan Partai Nanggroe Aceh (PNA) menjadi perbincangan hangat di Aceh Selatan.
Bagi sebagian orang, itu hanya sebuah surat pengunduran diri. Namun bagi ribuan kader dan simpatisan PNA, keputusan tersebut ibarat berakhirnya satu babak penting dalam perjalanan politik partai yang selama hampir dua dekade bertumpu pada figur yang dikenal luas sebagai Tgk. Muda.
Namanya bukan sosok baru dalam politik Aceh. Sebelum perdamaian lahir, ia dikenal sebagai salah satu Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Setelah konflik berakhir, ia memilih jalur demokrasi dan menjadi salah seorang tokoh yang ikut membesarkan PNA, partai yang didirikan mantan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf.
Di Aceh Selatan, perannya bahkan jauh melampaui jabatan struktural. Ia dikenal sebagai penggerak utama mesin partai, menjembatani komunikasi dari tingkat elite hingga akar rumput. Dalam banyak momentum politik, pengaruhnya menjadi salah satu faktor yang sulit diabaikan.
Jejak keberhasilannya pun tercatat jelas.
Pada level Provinsi Aceh, Tgk. Abrar Muda menjadi bagian dari perjuangan politik yang mengantarkan Irwandi Yusuf memenangi Pilkada Aceh pada 2006 bersama Muhammad Nazar serta kembali memenangkan kontestasi pada 2017 berpasangan dengan Nova Iriansyah.
Di kampung halamannya, Aceh Selatan, kiprahnya lebih mencolok lagi. Di bawah konsolidasi politik yang dibangunnya, pasangan H. Azwir S.Sos dan Tgk. Amran berhasil memenangkan Pilkada Aceh Selatan 2018.
Namun prestasi yang paling sering dikenang adalah keberhasilannya menjaga PNA tetap menjadi kekuatan utama di parlemen daerah.
Pada Pemilu Legislatif 2019, PNA meraih enam kursi DPRK Aceh Selatan dan menjadi salah satu partai dengan perolehan kursi terbanyak.
Lima tahun berselang, ketika banyak pihak memprediksi kekuatan PNA akan menurun, hasilnya justru menunjukkan hal berbeda. PNA kembali menjadi salah satu pemenang Pemilu 2024 dengan meraih lima kursi DPRK Aceh Selatan.
Jumlah kursinya memang berkurang satu, tetapi dari sisi akumulasi suara sah, PNA masih mampu mengungguli Partai Aceh yang juga memperoleh lima kursi. Sehingga PNA masih mampu mempertahankan kursi Ketua DPRK Aceh Selatan.
Dua kali berturut-turut memenangkan Pemilu Legislatif di Aceh Selatan menjadi catatan yang memperkuat reputasi Tgk. Abrar Muda sebagai salah satu arsitek politik paling berpengaruh di daerah tersebut.
Kini, perjalanan panjang itu berakhir.
Melalui surat yang berlaku efektif sejak Rabu, 22 Juli 2026, Tgk. Abrar Muda menyatakan mengundurkan diri dari seluruh kepengurusan dan keanggotaan PNA.
Dalam suratnya, ia menegaskan keputusan itu diambil atas kehendaknya sendiri.
“Keputusan saya untuk mengundurkan diri dari kepengurusan dan keanggotaan PNA ini saya ambil secara sukarela dan tanpa adanya paksaan dari pihak mana pun.”
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh kader dan pengurus atas kepercayaan, kesempatan, serta kebersamaan selama menjadi bagian dari PNA. Tak lupa, ia memohon maaf atas segala kekhilafan selama mengemban amanah di partai.
Saat dikonfirmasi TheTapaktuanPost, Kamis (23/7/2026), jawaban Tgk. Abrar Muda sangat singkat.
“Saya ingin istirahat sejenak dalam kancah politik.”
Kalimat itu sederhana, tetapi memunculkan banyak pertanyaan. Apakah ini benar-benar akhir perjalanan politiknya? Ataukah hanya jeda sebelum kembali ke panggung politik Aceh?
Belum ada yang bisa menjawabnya.
Yang pasti, kepergian sosok yang selama ini dikenal sebagai motor penggerak PNA meninggalkan pekerjaan rumah yang tidak ringan bagi partai tersebut. Menjaga soliditas kader, mempertahankan basis suara, sekaligus mencari figur dengan pengaruh sekuat Tgk. Abrar Muda tentu bukan perkara mudah.
Dalam politik, tokoh bisa datang dan pergi. Namun hanya sedikit yang meninggalkan jejak sedalam mereka yang pernah mengubah arah perjalanan sebuah partai.
Bagi PNA di Aceh Selatan, pengunduran diri Tgk. Abrar Muda bukan sekadar kehilangan seorang pengurus. Ia menandai berakhirnya sebuah era yang telah mengantar partai itu dua kali berdiri di barisan pemenang pemilu.
Semoga sehat selalu panglima, salam Hormat…[]
