TheTapaktuanPost | Meukek. Senin pagi di sejumlah sekolah dan posyandu di Kecamatan Meukek, Kabupaten Aceh Selatan, berlangsung berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi aktivitas pembagian makanan bergizi yang selama beberapa bulan terakhir menjadi bagian dari rutinitas para siswa, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Program yang selama ini menjangkau ribuan warga tersebut dipastikan dihentikan sementara hingga waktu yang belum ditentukan. Akibatnya, sebanyak 2.502 penerima manfaat yang tersebar di 18 sekolah dan lima posyandu kini harus menunggu kepastian kelanjutan program yang digagas untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat itu.
Penghentian sementara program tersebut dibenarkan oleh Amsal, Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Yayasan Berkah Cahaya yang menjadi mitra pelaksana MBG di Kecamatan Meukek.
Menurut Amsal, penghentian operasional dilakukan karena dana operasional dari Badan Gizi Nasional (BGN) pusat belum dilakukan top up sehingga distribusi makanan kepada para penerima manfaat tidak dapat dilanjutkan untuk sementara waktu.
“Untuk sementara operasional penyaluran MBG dihentikan sampai ada kejelasan lebih lanjut. Penyebabnya karena dana operasional dari BGN pusat belum dilakukan top up,” ujar Amsal saat dihubungi wartawan di Tapaktuan, Senin (8/6/2026).
Bagi sebagian masyarakat, penghentian program ini bukan sekadar berhentinya distribusi makanan. MBG selama ini menjadi salah satu upaya nyata dalam mendukung pemenuhan gizi anak-anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita yang berada dalam masa pertumbuhan penting.
Data yang diperoleh menunjukkan jumlah penerima manfaat MBG di Kecamatan Meukek mencapai 2.502 orang. Mereka terdiri dari berbagai kelompok sasaran yang selama ini menjadi prioritas program peningkatan gizi nasional.
Sebanyak 269 penerima merupakan siswa PAUD dan TK, 624 siswa SD dan MI, 420 siswa SMP, serta 470 siswa SMA dan MA. Selain itu terdapat 197 balita, 43 ibu hamil, dan 143 ibu menyusui yang juga menjadi penerima manfaat program tersebut.
Tidak hanya itu, MBG juga menjangkau 313 tenaga pendidik dan 23 kader posyandu yang selama ini terlibat dalam mendukung pelaksanaan program di lapangan.
Program tersebut sebelumnya dilaksanakan di delapan lembaga PAUD dan TK, empat sekolah SD/MI, dua sekolah SMP/MTs, empat sekolah SMA/MA, serta lima posyandu yang tersebar di berbagai gampong dalam wilayah Kecamatan Meukek.
Penghentian sementara ini memunculkan harapan agar persoalan administrasi dan pendanaan dapat segera diselesaikan sehingga layanan kembali berjalan normal. Sebab, bagi banyak keluarga, terutama yang berada di wilayah pedesaan, program MBG tidak hanya membantu pemenuhan kebutuhan gizi harian anak-anak, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
Hingga kini, para penerima manfaat masih menunggu kejelasan mengenai kapan program tersebut akan kembali beroperasi. Sementara itu, pihak pelaksana berharap proses top up dana dari Badan Gizi Nasional dapat segera dilakukan agar distribusi makanan bergizi gratis kepada ribuan penerima manfaat di Kecamatan Meukek dapat kembali berjalan seperti sediakala.
Bagi ribuan siswa yang setiap hari menantikan paket makanan bergizi di sekolah, serta para ibu dan balita yang selama ini merasakan manfaat program tersebut, kepastian kelanjutan MBG kini menjadi harapan yang dinanti.





