TheTapaktuanPost | Meukek. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Berkah Cahaya Tanjung Harapan Meukek terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung peningkatan kualitas gizi masyarakat melalui kolaborasi strategis bersama pelaku UMKM lokal.
Kemitraan ini tidak hanya berfokus pada penyediaan bahan pangan berkualitas, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.
Kepala SPPG Berkah Cahaya Tanjung Harapan, M. Amsal Rustami SE, mengatakan, dalam pelaksanaan programnya, SPPG Berkah Cahaya Tanjung Harapan Meukek menggandeng berbagai supplier lokal untuk memenuhi kebutuhan bahan baku harian. Namun bahan pangan yang disalurkan dipastikan dalam kondisi segar, higienis, dan sesuai dengan standar gizi yang telah ditetapkan.
Keterlibatan UMKM lokal sebagai mitra utama memberikan dampak positif, baik dari segi kelancaran distribusi maupun peningkatan pendapatan pelaku usaha.
“Salah satu pelaku usaha yang merasakan langsung manfaat program ini adalah UMKM Rumah Tempe Selera milik Ferdi, yang menjadi pemasok Tempe dan tahu untuk kebutuhan MBG di SPPG Berkah Cahaya Meukek,” kata M. Amsal kepada TheTapaktuanPost di Meukek, Selasa (28/4/2026).
Ferdi, pelaku usaha UMKM Rumah Tempe Selera di Gampong Alue Meutuah Meukek yang menjadi pemasok Tempe dan Tahu untuk kebutuhan MBG di SPPG Berkah Cahaya, menyampaikan bahwa keberadaan SPPG yang dikelola Yayasan Berkah Cahaya Gampong Tanjung Harapan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan penyerapan hasil panen petani dan produksi UMKM.
“Alhamdulillah, dengan adanya MBG ini kami sangat bersyukur. Ini sangat membantu pelaku usaha UMKM dan para petani, karena hasil panen bisa terserap,” kata Ferdi.
“Alhamdulillah, sejak adanya program MBG, kami sebagai pelaku usaha Tempe dan Tahu merasakan perubahan yang sangat drastis. Dulu produksi tempe cuma 2-3 karung tetapi sekarang sudah 6 bahkan 7 karung untuk produksi tempe,” ujar Ferdi.
Lonjakan produksi itu tak hanya berdampak pada omzet, tetapi juga membuka lapangan kerja baru. Usaha yang sebelumnya dijalankan oleh satu hingga dua orang, kini mampu menyerap hingga 10 tenaga kerja dari lingkungan sekitar.
Di sisi lain, Ferdi juga melihat perubahan pada anak-anak di desanya. Program MBG dinilai memberi efek berantai yang positif, tidak hanya pada ekonomi, tetapi juga semangat belajar generasi muda.
Pihak SPPG Berkah Cahaya Tanjung Harapan Meukek menegaskan bahwa, pemilihan supplier lokal merupakan bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat sekitar. Dengan memanfaatkan potensi daerah, program ini mampu menciptakan siklus ekonomi yang berkelanjutan, di mana manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Kepala SPPG Berkah Cahaya Tanjung Harapan, M. Amsal menyatakan melalui kemitraan yang terjalin dengan baik antara SPPG dan UMKM, diharapkan program pemenuhan gizi dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan.
“Ke depan, SPPG Berkah Cahaya Tanjung Harapan Meukek berkomitmen untuk terus memperluas kerja sama dengan berbagai pihak guna mendukung tercapainya masyarakat yang sehat, mandiri, dan sejahtera,” ungkapnya.
Dia menambahkan, kehadiran SPPG dalam pelaksanaan program MBG mulai dirasakan manfaatnya oleh petani dan pelaku usaha UMKM di Kabupaten Aceh Selatan. Selain mendukung pemenuhan gizi masyarakat, program ini dinilai mampu membuka lapangan kerja baru dan menyerap hasil produksi petani serta membuka akses pasar lebih luas bagi pelaku UMKM lokal.
Menurut dia, selama ini petani kerap menghadapi ketidakpastian pasar. Namun, melalui SPPG sebagai bagian dari rantai pasok MBG, hasil produksi pertanian memiliki kepastian untuk disalurkan, selama memenuhi standar yang ditetapkan.
Ia menilai, skema tersebut tidak hanya menguntungkan dari sisi distribusi, tetapi juga mendorong petani untuk meningkatkan produktivitas. Permintaan bahan pangan yang stabil dari program MBG membuat petani lebih percaya diri dalam mengelola lahan dan membangun usaha UMKM.
“Dengan adanya penyerapan ini, petani menjadi lebih semangat untuk menanam dan mengolah hasil pertanian, karena sudah ada pasar yang jelas menampung,” katanya.
Kehadiran SPPG dalam program MBG menjadi penguat ekonomi berbasis desa. Melalui keterlibatan langsung dalam rantai pasok, petani kini tidak hanya menjadi produsen, melainkan bagian dari ekosistem yang lebih luas dalam pembangunan kesejahteraan masyarakat.
Dia menyatakan kebijakan penyerapan produk lokal dalam program MBG mengacu pada ketentuan Badan Gizi Nasional (BGN), yang mewajibkan penggunaan bahan pangan dari UMKM dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Itu sebabnya, pihaknya memprioritaskan bahan baku dari produsen lokal, sepanjang memenuhi standar keamanan dan mutu pangan.
“Program ini tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi masyarakat,” ujarnya seraya menegaskan bahwa pemberdayaan petani lokal merupakan bagian dari kebijakan utama dalam pelaksanaan program MBG.
Kebijakan tersebut mengacu pada Keputusan Kepala Badan Gizi Nasional Republik Indonesia Nomor 401.1 Tahun 2025 tentang Petunjuk Teknis Tata Kelola Penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis Tahun Anggaran 2026.
“Program MBG tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi penerima manfaat, tetapi juga dirancang untuk mendukung produk UMKM dan BUMDes agar ekonomi lokal dapat tumbuh dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar,” tambahnya.
Dengan skema tersebut, SPPG tidak hanya berfungsi sebagai penyedia layanan gizi, tetapi juga menjadi simpul penggerak ekonomi desa.
“Keterlibatan petani dan pelaku usaha UMKM dalam rantai pasok program dinilai mampu memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan,” pungkasnya.
