Namanya Mini, Cita-citanya Besar: Ikhtiar Dayah Mini Aceh Melahirkan Ulama Berkelas Dunia

Oleh: Bung Syarif*

ADA sesuatu yang menarik dari sebuah lembaga pendidikan Islam di Banda Aceh. Namanya sederhana, bahkan terkesan kecil: Dayah Mini Aceh.

Bacaan Lainnya

Namun, jangan terkecoh oleh namanya. Di balik kata “Mini” itu tersimpan cita-cita yang justru sangat besar—mencetak kader ulama muda yang berilmu, militan, istiqamah dan mampu menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di tengah perubahan zaman.

Dayah Mini Aceh didirikan pada 1 April 2017 oleh Tgk. Umar Rafsanjani, Lc, MA, alumni Dayah Darussalam Al Waliyah, Labuhan Haji, Aceh Selatan. Berlokasi di Jalan Teuku Meurah, Dusun Musafir, Gampong Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, dayah salafiyah ini tumbuh perlahan, tetapi menunjukkan perkembangan yang patut diperhitungkan.

Sembilan tahun bukanlah waktu yang panjang bagi sebuah lembaga pendidikan. Namun, perjalanan Dayah Mini Aceh menunjukkan bahwa sebuah lembaga tidak selalu diukur dari usia dan kemegahan bangunannya. Yang lebih penting adalah sejauh mana ia mampu melahirkan manusia yang bermanfaat bagi agama dan masyarakat.

Itulah yang membuat saya tertarik mengamati perjalanan Dayah Mini Aceh. Saya pertama kali intens berkomunikasi dengan Abi Umar pada 16 Desember 2016, ketika beliau saya kenal setelah pengabdiannya sebagai salah seorang punggawa pada Dinas Pendidikan Dayah Kota Banda Aceh.

Kesan pertama saya, Abi Umar merupakan sosok yang tegas. Namun, di balik ketegasannya itu, ia juga pribadi yang humoris dan memiliki sisi melankolis.

Karakter itulah yang kemudian tampaknya menjadi salah satu modal dalam membangun Dayah Mini Aceh: tegas dalam prinsip, tetapi lentur dalam membangun komunikasi dan jejaring.

Pada awal berdirinya, saya sempat penasaran mengapa nama yang dipilih adalah “Dayah Mini Aceh”. Dalam tradisi dayah, lazim kita menemukan nama yang menggunakan identitas almamater atau daerah asal, seperti Al Aziziyah, Al Waliyah, Al Fata, Al Huda, Al Munawarah dan Al Amiriyah.

Konon, lembaga ini sebelumnya menggunakan nama Dayah Darussalam Aceh, sebelum kemudian berkembang dengan nama Dayah Mini Aceh. Nama tersebut selanjutnya diperkuat secara legal melalui akta notaris pada 22 Juli 2020.

Kini identitasnya sudah jelas: Dayah Mini Aceh.
Namanya memang mini. Tetapi perjalanan dan cita-citanya tidak boleh dipandang kecil. Justru di situlah menariknya.

Salah satu perkembangan penting Dayah Mini Aceh adalah keberhasilannya memperoleh akreditasi B. Lebih dari itu, dayah ini juga telah memperoleh izin penyelenggaraan Satuan Pendidikan Muadalah (SPM) dari Kementerian Agama Republik Indonesia. Bagi dunia pendidikan dayah, ini bukan sekadar administrasi.

Program Muadalah memberikan ruang bagi pendidikan khas pesantren untuk tetap mempertahankan karakter dan tradisi keilmuannya, sekaligus memiliki pengakuan dalam sistem pendidikan nasional.

Artinya, santri tidak harus memilih antara mempertahankan tradisi dayah atau memperoleh pengakuan negara. Keduanya dapat berjalan beriringan.

Lulusan pendidikan Muadalah pada jenjang yang diselenggarakan memiliki peluang untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi maupun mengikuti berbagai jalur pendidikan dan profesi sesuai ketentuan yang berlaku.

Di sinilah saya melihat Dayah Mini Aceh sedang mencoba menjawab tantangan zaman: mempertahankan kitab kuning tanpa mengabaikan tuntutan legalitas pendidikan modern.

Keberhasilan sebuah dayah tentu tidak cukup dilihat dari gedung dan jumlah santrinya. Ukuran yang lebih penting adalah bagaimana para santri itu tampil di tengah masyarakat.

Dalam konteks ini, kiprah santri Dayah Mini Aceh di Malaysia menjadi catatan menarik. Sejumlah santrinya dipercaya menjadi imam dan penceramah di masjid maupun surau di negeri jiran tersebut, khususnya selama bulan Ramadan.

Bahkan sebelum pandemi, sejumlah santri Dayah Mini Aceh telah mendapat kepercayaan untuk menjadi imam dan penceramah di Malaysia. Bagi saya, ini bukan sekadar perjalanan lintas negara. Ini adalah bentuk sederhana dari diplomasi keagamaan.

Ketika seorang santri Aceh berdiri menjadi imam di sebuah masjid di Malaysia, yang dibawa bukan hanya kemampuan membaca Al-Qur’an. Ia membawa tradisi keilmuan, karakter dan wajah Islam Aceh. Dan itu tentu bukan perkara kecil.

Abi Umar sendiri bukan sosok yang asing dengan dunia dakwah lintas negara. Pengalamannya bermukim cukup lama di Al-Azhar, Kairo, Mesir, serta aktivitas dakwahnya di Malaysia menjadi modal tersendiri dalam membangun jejaring pendidikan dan keagamaan.
Malaysia bahkan dapat disebut sebagai salah satu ruang pengabdiannya selain Aceh.

Salah satu kekuatan Dayah Mini Aceh, menurut pengamatan saya, terletak pada upaya membangun kolaborasi antara tradisi keilmuan Timur Tengah dan kearifan lokal Aceh.

Guru-guru yang mengajar tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memahami karakter pendidikan dayah. Inilah yang membuat saya membayangkan Dayah Mini Aceh memiliki peluang untuk berkembang menjadi salah satu dayah salafiyah yang memiliki wawasan internasional.

Tentu, itu bukan pekerjaan satu atau dua tahun.
Diperlukan konsistensi, manajemen yang profesional, dukungan masyarakat, kekuatan finansial, serta kaderisasi guru dan pimpinan yang berkelanjutan. Namun, fondasinya sudah mulai terlihat.

Dayah Mini Aceh juga pernah menjadi bagian dari program pembinaan santri tahfiz yang dilaksanakan Dinas Pendidikan Dayah Kota Banda Aceh pada periode 2018–2020. Dalam berbagai evaluasi, santri tahfiz Dayah Mini Aceh menunjukkan prestasi yang membanggakan.

Program tersebut memang tidak lagi berjalan seperti sebelumnya akibat kondisi fiskal pemerintah daerah. Namun, semangat pembinaan tahfiz tidak semestinya ikut berhenti.
Sebab, Aceh tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar berbicara tentang agama. Aceh membutuhkan generasi yang menguasai ilmu, menghafal Al-Qur’an, memahami kitab turats, berakhlak dan mampu menghadapi persoalan masyarakat modern.

Di sinilah pendidikan dayah memiliki peran strategis. Apalagi Dayah Mini Aceh saat ini juga membina sekitar 120 santri yatim dan dhuafa.
Mereka bukan hanya membutuhkan ruang belajar. Mereka membutuhkan perhatian, makanan, pakaian, kitab, fasilitas pendidikan dan biaya hidup selama menuntut ilmu.

Karena itu, membantu pendidikan mereka sesungguhnya bukan hanya membantu sebuah lembaga. Kita sedang ikut menyiapkan generasi masa depan Aceh.

Mini dalam Nama, Besar dalam Cita-cita

Saya membayangkan, dua dekade dari sekarang, Dayah Mini Aceh bukan lagi sekadar dikenal di Banda Aceh atau Aceh. Dengan jaringan yang terus dibangun, bukan mustahil santri dari Malaysia dan negara jiran lainnya akan datang menimba ilmu di sana.

Jika konsistensi itu dijaga, kualitas guru terus diperkuat, tata kelola semakin profesional dan dukungan masyarakat terus tumbuh, Dayah Mini Aceh berpeluang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang mempertemukan tradisi dayah Aceh, keilmuan Timur Tengah dan kebutuhan dunia modern.

Tentu, semua itu membutuhkan kerja panjang.
Tetapi bukankah semua lembaga besar selalu bermula dari sebuah mimpi? Dayah Mini Aceh telah membuktikannya. Dari sebuah mimpi mencetak ulama muda, lahir santri yang dipercaya menjadi imam di negeri jiran. Dari pendidikan tradisional, lahir lembaga yang mulai menyesuaikan diri dengan sistem pendidikan nasional melalui Muadalah. Dari sebuah dayah yang namanya terdengar sederhana, muncul cita-cita yang melampaui batas daerah.

Namanya boleh saja mini, tetapi cita-citanya besar. Semoga Abi Umar Rafsanjani bersama seluruh guru dan pengurus Dayah Mini Aceh terus diberi kekuatan untuk menjaga amanah tersebut. Sebab, pada akhirnya, membangun dayah bukan sekadar membangun gedung.
Membangun dayah adalah membangun manusia. Dan ketika manusia yang dibangun adalah calon ulama, maka sesungguhnya yang sedang dibangun adalah masa depan umat.

Bagi para Ayah dan Bunda di Aceh yang ingin memberikan pendidikan agama kepada putra-putrinya, Dayah Mini Aceh dapat menjadi salah satu pilihan untuk dipertimbangkan. Di sana santri tidak hanya belajar kitab turats, tetapi juga mendapatkan pembinaan tahfiz serta pendidikan yang memiliki legalitas melalui program Muadalah.

Untuk mendukung pembinaan santri yatim dan dhuafa, masyarakat dan para dermawan juga dapat berpartisipasi melalui gerakan Jumat Berkah yang selama ini dikembangkan Dayah Mini Aceh. Semoga setiap tangan yang membantu pendidikan para santri menjadi bagian dari amal jariyah yang terus mengalir.

Selamat berjuang Abi Umar. Selamat berkhidmat seluruh guru dan pengurus Dayah Mini Aceh.
Teruslah menjaga tradisi, memperkuat ilmu dan memperluas manfaat. Karena Aceh tidak pernah kekurangan orang pintar. Yang selalu kita harapkan adalah lahirnya ulama yang berilmu, berakhlak, istiqamah dan mampu menjawab tantangan zaman.

───

Penulis adalah JZ01CPR, Magister Hukum Tata Negara USK, Kabid SDM dan Manajemen Disdik Dayah Banda Aceh, penulis buku “Reformasi Birokrasi dari Banda Aceh untuk Indonesia”, Ketua Komite Dayah Terpadu Inshafuddin, Wali Santri Dayah Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB), ICMI Kota Banda Aceh, Wakil Sekretaris PW Syarikat Islam Aceh, mantan Ketua Umum Remaja Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Dosen Legal Drafting FSH UIN Ar-Raniry, MW KAHMI Aceh, Direktur Aceh Research Institute (ARI), mantan Ketua Umum DPD Jaringan Nusantara Aceh, mantan Sekjen DPP ISKADA Aceh, Fungsionaris DPD KNPI Aceh, Fasilitator Aksi Bergizi (Flower Aceh-UNICEF), Fasilitator Program Dayah Ramah Anak Terintegrasi (Pro DAI) YaHijau-UNICEF, dan Direktur Forum Milenial Literasi Aceh.

Pos terkait