TheTapaktuanPost | Tapaktuan – Krisis ketersediaan stok darah di RSUD dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan kembali menuai sorotan. Seorang pasien dengan kadar hemoglobin (HB) rendah dilaporkan belum mendapatkan transfusi darah selama dua hari, memicu keprihatinan dari Ketua Blood For Life Foundation (BFLF) Aceh Selatan, Gusmawi Mustafa.
Gusmawi menyebut kondisi tersebut sebagai persoalan serius yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Menurutnya, keterlambatan pemenuhan kebutuhan darah dapat berdampak langsung terhadap keselamatan nyawa pasien yang sedang menjalani perawatan.
“Siapa pun yang memiliki tanggung jawab terhadap pemenuhan kebutuhan darah di RSUD dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan jangan hanya diam, jangan tidur, apalagi sampai ‘ngorok’. Di ruang perawatan ada pasien yang sedang berpacu dengan waktu untuk mempertahankan hidupnya,” kata Gusmawi kepada wartawan di Tapaktuan, Jumat (26/6/2026).
Ia menilai, setiap menit keterlambatan memperoleh darah dapat memperburuk kondisi pasien. Di sisi lain, keluarga pasien harus menghadapi penantian panjang yang dipenuhi rasa cemas dan harapan agar darah yang dibutuhkan segera tersedia.
“Bayangkan jika yang terbaring itu adalah orang tua kita, pasangan kita, anak kita, atau saudara kandung kita. Tentu kita berharap ada yang segera bergerak membantu. Darah bukan sekadar cairan tubuh, tetapi harapan hidup bagi mereka yang sedang berjuang,” ungkapnya.
Gusmawi menegaskan, pemenuhan kebutuhan darah tidak bisa hanya dibebankan kepada relawan donor darah. Menurutnya, seluruh pihak yang memiliki kewenangan, mulai dari rumah sakit, Unit Transfusi Darah (UTD), instansi terkait hingga para pemangku kepentingan di sektor kesehatan, harus bersinergi agar kebutuhan darah pasien dapat terpenuhi tepat waktu.
Di sisi lain, ia juga mengajak masyarakat yang memenuhi syarat kesehatan untuk mendonorkan darah secara sukarela sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.
“Setetes darah yang kita sumbangkan mungkin terlihat kecil bagi kita, tetapi bagi pasien yang sedang menunggu transfusi, darah itu bisa menjadi alasan mereka tetap bernapas, tetap tersenyum, dan tetap memiliki kesempatan untuk berkumpul kembali dengan keluarganya,” katanya.
BFLF Aceh Selatan berharap persoalan minimnya stok darah di RSUDYA Aceh Selatan segera mendapat perhatian serius dari seluruh pihak terkait. Gusmawi menegaskan, tidak boleh ada lagi pasien yang harus menunggu berhari-hari untuk memperoleh transfusi darah yang menjadi kebutuhan mendesak dalam proses penyelamatan nyawa.
“Jangan biarkan ada keluarga yang kehilangan orang yang mereka cintai hanya karena darah yang dibutuhkan tidak kunjung tersedia. Saatnya semua pihak bergerak, karena setiap tetes darah adalah kehidupan, dan setiap kehidupan sangat berharga,” tutupnya.
