Narkoba Merambah hingga Pelosok Desa, Sekolah di Aceh Selatan Didorong Jadi Benteng Pencegahan

TheTapaktuanPost | Tapaktuan – Ancaman penyalahgunaan narkoba yang semakin meluas hingga ke pelosok desa menjadi perhatian serius dunia pendidikan di Aceh Selatan.

Sekolah kini didorong mengambil peran lebih besar dalam membentengi generasi muda melalui pengintegrasian materi pencegahan narkoba ke dalam proses belajar mengajar.

Bacaan Lainnya

Langkah tersebut diperkuat melalui program Integrasi Kurikulum Anti Narkoba (IKAN) yang dibahas dalam kegiatan Evaluasi Pelaksanaan Fasilitasi Advokasi Bidang Pencegahan oleh Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Aceh Selatan, Selasa (20/10/2026).

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Aceh Selatan, M. Najur, yang tampil sebagai narasumber utama dalam kegiatan di Aula Dinas Pariwisata Tapaktuan, mengingatkan bahwa peredaran dan penyalahgunaan narkoba tidak lagi menjadi ancaman bagi masyarakat perkotaan semata.

“Bahaya ancaman narkoba hari ini tidak lagi mengenal batas wilayah. Bukan hanya menyasar daerah perkotaan, tetapi bahayanya sudah merambah hingga ke pelosok desa. Ini tentu sangat mengkhawatirkan,” ujar M. Najur.

Menurutnya, kondisi tersebut menuntut perubahan pendekatan dalam upaya pencegahan. Edukasi bahaya narkoba tidak cukup hanya dilakukan melalui sosialisasi sesaat, tetapi perlu ditanamkan secara berkelanjutan melalui pendidikan di sekolah.

Melalui program IKAN, para guru didorong mengintegrasikan pengetahuan mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba ke dalam mata pelajaran yang mereka ampu.

Dengan pendekatan tersebut, pesan pencegahan diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi bagian dari pembentukan karakter dan kesadaran peserta didik sejak dini.

Namun, Najur mengingatkan bahwa sekolah tidak dapat bekerja sendirian. Keterlibatan keluarga, terutama orang tua, menjadi faktor penting dalam melindungi anak-anak dari ancaman narkoba.

“Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada BNNK Aceh Selatan yang telah menyelenggarakan kegiatan yang sangat strategis ini. Saya berharap upaya pencegahan ini terus kita pertahankan, bahkan diperluas jangkauannya dengan melibatkan peran aktif orang tua murid,” katanya.

Ia menegaskan, kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat harus dibangun secara konsisten agar upaya pencegahan benar-benar menjangkau lingkungan kehidupan anak.

“Pencegahan penyalahgunaan narkoba memerlukan kolaborasi yang kuat antara sekolah, keluarga, dan masyarakat agar anak-anak kita benar-benar terlindungi dari bahaya narkoba,” tegasnya.

Dalam kegiatan yang diikuti para guru pengampu mata pelajaran tersebut, Najur juga meminta tenaga pendidik menjadi garda terdepan dalam menyampaikan informasi yang benar mengenai bahaya narkoba, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Menariknya, kepedulian Najur terhadap gerakan antinarkoba tidak hanya diwujudkan melalui kebijakan pendidikan. Ia juga dikenal sebagai pencipta lagu bertema pencegahan narkoba yang telah dinyanyikan dan dipelajari di sejumlah satuan pendidikan di Aceh Selatan.

Sementara itu, kegiatan yang digelar BNNK Aceh Selatan tersebut diarahkan untuk memperkuat penyusunan panduan integrasi materi antinarkoba dalam pembelajaran.

Dengan demikian, setiap guru diharapkan memiliki pedoman yang jelas dalam menyampaikan pesan pencegahan sesuai karakteristik mata pelajaran masing-masing.

Penguatan kurikulum antinarkoba ini diharapkan menjadi langkah nyata menjadikan sekolah bukan sekadar tempat menimba ilmu, tetapi juga benteng awal dalam melindungi generasi muda Aceh Selatan dari ancaman penyalahgunaan narkoba.

Pos terkait