TheTapaktuanPost.com | Kluet Selatan – Bagi Zipara FC, sepak bola bukan sekadar urusan menang atau kalah. Klub asal Gampong Pulo Ie, Kecamatan Kluet Selatan, Kabupaten Aceh Selatan, itu menjadikan lapangan hijau sebagai panggung menyuarakan keresahan masyarakat terhadap ancaman kerusakan Sungai Kluet.
Pesan tersebut mereka gaungkan dalam Turnamen Sepak Bola Sagoe Cup yang digelar Panglima Sagoe di Kecamatan Kluet Tengah, Minggu, (1/11/2026).
Ada yang berbeda dari penampilan Zipara FC saat menghadapi Sagoe Sejahtera asal Gunung Pudung, Kluet Utara. Para pemain mengenakan jersey bertuliskan “Stop Rusak Sungai Kluet“, sebuah pesan yang sengaja dibawa ke tengah pertandingan.
Aksi itu bukan tanpa alasan. Bagi masyarakat Pulo Ie, Sungai Kluet memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari, termasuk sebagai sumber air bagi sebagian warga.
Ancaman abrasi sungai bahkan telah berdampak langsung terhadap permukiman masyarakat. Sebanyak empat rumah di Gampong Pulo Ie sebelumnya terpaksa dibongkar akibat tergerus abrasi.
Salah seorang pemain Zipara FC, Agil Munawar, mengatakan pesan penyelamatan Sungai Kluet sengaja disuarakan melalui sepak bola agar mendapat perhatian lebih luas.
“Perusakan Sungai Kluet yang diduga disebabkan oleh aktivitas tambang ilegal di hulu sungai telah membawa dampak mudarat bagi masyarakat Pulo Ie dan juga masyarakat Kluet secara luas,” kata Agil.
Menurutnya, masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran Sungai Kluet menghadapi sejumlah kekhawatiran, mulai dari sedimentasi, dugaan pencemaran bahan kimia hingga ancaman banjir.
Karena itu, Zipara FC berharap pesan yang mereka bawa tidak berhenti sebagai tulisan di jersey, tetapi menjadi perhatian serius pemerintah dan aparat penegak hukum.
“Atas segala keresahan tersebut, kami memiliki pijakan yang kuat untuk bersuara, salah satunya melalui ajang kompetisi ini, agar bisa didengar pemerintah, aparat penegak hukum, para panglima eks-kombatan, serta masyarakat luas,” ujarnya.
Meski harus mengakui keunggulan Sagoe Sejahtera dalam pertandingan tersebut, Zipara FC tetap membawa pulang sesuatu yang mereka anggap lebih penting: tersampaikannya aspirasi masyarakat untuk menyelamatkan Sungai Kluet.
Bagi kesebelasan asal Pulo Ie itu, kekalahan di lapangan bukan akhir perjuangan. Mereka berharap seruan “Stop Rusak Sungai Kluet“ menjadi pengingat bahwa keselamatan sungai menyangkut masa depan masyarakat Kluet Raya.
Sementara itu, dugaan aktivitas ilegal dan pencemaran di hulu Sungai Kluet yang disampaikan pemain Zipara FC masih memerlukan pemeriksaan serta konfirmasi dari instansi berwenang.
