TheTapaktuanPost.com | Samadua – Bukan ikan yang kini menjadi satu-satunya perhatian nelayan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Gunong Cut, Kecamatan Samadua, Aceh Selatan. Kolam sandaran tempat mereka menggantungkan hidup justru ditanami pohon pisang dan pinang sebagai bentuk protes terhadap pendangkalan pelabuhan yang tak kunjung ditangani.
Aksi tak biasa itu berlangsung pada Kamis (29/10/2026) sekitar pukul 17.00 WIB. Sejumlah nelayan sengaja menanam pohon pisang dan pinang di kawasan kolam sandaran sebagai sindiran kepada pemerintah yang dinilai belum memberikan solusi atas persoalan yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Bagi para nelayan, aksi tersebut bukan sekadar luapan kekesalan. Mereka mengaku keselamatan saat melaut kini dipertaruhkan akibat kolam pelabuhan yang semakin dangkal dan pintu keluar masuk perahu yang menyempit.
Panglima Laot Lhok Gunong Cut, Noviman, mengatakan sedikitnya sekitar 50 perahu dan boat nelayan menggantungkan aktivitasnya di pelabuhan tersebut.
Namun, kondisi alur pelayaran yang dangkal dan sempit membuat aktivitas keluar masuk pelabuhan semakin sulit. Bahkan, menurutnya, sejumlah perahu telah beberapa kali mengalami kecelakaan hingga karam.
“Sudah sering perahu dan boat yang mendarat di sini karam saat keluar masuk pelabuhan. Kita khawatirkan akan menelan korban, terlebih waktu turun melaut pada pagi buta, masih suasana gelap gulita. Kondisi ini sangat mencemaskan,” ujar Noviman kepada wartawan di lokasi.
Ia mengungkapkan, keluhan mengenai pendangkalan kolam sandaran dan penyempitan pintu masuk pelabuhan sebenarnya sudah berulang kali disampaikan kepada pemerintah.
Namun, hingga kini, para nelayan mengaku belum melihat adanya penanganan nyata.
“Sudah berulang kali diusulkan kepada pemerintah untuk dilakukan penanganan atas kondisi pendangkalan dan pintu keluar masuk sempit, namun belum kunjung disahuti. Sebagai bentuk kekecewaan dan kekesalan itu, kami tanami pohon pisang dan pinang di TPI,” katanya.
Noviman menjelaskan, persoalan pendangkalan bukan hanya menyangkut keselamatan, tetapi juga berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat pesisir.
Kesulitan keluar masuk pelabuhan membuat nelayan menghadapi risiko kerusakan perahu, kerugian materi, hingga terganggunya aktivitas mencari nafkah.
Menurutnya, kondisi tersebut sangat memberatkan nelayan yang sebagian besar menggantungkan kebutuhan sehari-hari dari hasil tangkapan laut.
“Bagaimana nelayan bisa sejahtera jika kondisi TPI tidak tersentuh kepedulian. Tolonglah bapak-bapak dan ibu-ibu kami yang punya koneksi serta relasi dengan pemerintah untuk memperjuangkan nasib nelayan yang mendarat di TPI Gunong Cut. Jangan biarkan kondisi ini terus terpuruk,” pintanya.
Ia menegaskan, nelayan Gunong Cut selama ini berusaha bertahan menghadapi kondisi pelabuhan. Namun, rentetan kecelakaan perahu membuat mereka semakin khawatir, terutama ketika harus berangkat melaut sebelum matahari terbit.
Karena itu, aksi menanam pohon pisang dan pinang menjadi cara nelayan menyampaikan keresahan sekaligus menarik perhatian para pemangku kebijakan.
“Aksi penanaman pohon pisang dan pinang murni sebagai bentuk kekesalan dan kekecewaan seluruh nelayan. Karenanya, sudi kiranya pemerintah daerah dan provinsi mengalokasikan anggaran untuk pengerukan kolam sandaran dan memperluas pintu keluar masuk,” tegasnya.
Para nelayan berharap pemerintah kabupaten maupun Pemerintah Aceh segera turun tangan melakukan pengerukan kolam sandaran dan normalisasi pintu masuk pelabuhan.
Menurut Noviman, perbaikan tersebut sangat mendesak agar puluhan perahu dapat beraktivitas dengan aman sekaligus mengurangi risiko kecelakaan yang selama ini menghantui nelayan.
Ia mengingatkan, di balik setiap perahu yang berangkat melaut, ada keluarga yang menggantungkan harapan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membiayai pendidikan anak-anak mereka.
“Kami punya tanggungan, punya anak yang harus dididik dan disekolahkan. Jika penanganan TPI tidak terwujud, lalu bagaimana mencari penghasilan untuk hidup,” pungkasnya.
Kini, pohon pisang dan pinang yang ditanam di kolam sandaran TPI Gunong Cut menjadi simbol kekecewaan para nelayan. Mereka berharap aksi tersebut mendapat perhatian pemerintah sebelum kecelakaan berikutnya kembali terjadi.
Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan resmi dari instansi pemerintah terkait mengenai rencana penanganan pendangkalan TPI Gunong Cut.





