TheTapaktuanPost | Trumon Timur – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Seuneubok Pusaka, Kecamatan Trumon Timur, Kabupaten Aceh Selatan, akhirnya berhasil dipadamkan secara total setelah upaya intensif selama 10 hari. Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera memastikan seluruh titik api telah ditangani dan tidak lagi menimbulkan ancaman lanjutan.
Keberhasilan ini menjadi hasil kerja sama lintas instansi, termasuk tim Manggala Agni, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, BPBD Aceh Selatan serta pihak perusahaan perkebunan yang berada di sekitar lokasi kebakaran.
Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, menjelaskan bahwa proses pemadaman berlangsung selama 10 hari dengan berbagai tantangan di lapangan.
“Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Seuneubok Pusaka, Kecamatan Trumon Timur, Kabupaten Aceh Selatan, kami nyatakan padam total. Operasi pemadaman berlangsung selama 10 hari kerja,” katanya, Kamis (16/7/2026) dikutip dari Antara.
Kebakaran pertama kali terdeteksi pada Senin (6/7/2026), dengan luas awal sekitar 20 hektare. Namun, seiring waktu, api terus meluas hingga mencapai sekitar 28 hektare sebelum akhirnya berhasil dikendalikan.
Dalam operasi ini, Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera mengerahkan satu regu tim Manggala Agni dari Daops Sumatera I/Sibolangit. Selain itu, upaya pemadaman juga melibatkan berbagai pihak lainnya.
Ferdian mengungkapkan bahwa proses pemadaman tidak berjalan mudah. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan sumber air di lokasi kejadian.
“Lahan yang terbakar tersebut merupakan kawasan gambut. Fungsi lahan terbakar itu Hak Guna Usaha (HGU) dan kawasan konservasi. Vegetasi lahan terdiri anakan kayu, semak belukar, tanaman pakis, sawit, dan lainnya,” kata Ferdian Krisnanto.
Selain kondisi lahan gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan, tim juga menghadapi situasi di mana titik api semakin menjauh dari sumber air. Kanal air di lokasi bahkan sempat mengering, sehingga menyulitkan proses pemadaman.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, tim sempat merencanakan pembuatan embung atau penampungan air menggunakan alat berat sebagai sumber air alternatif. Memasuki tahap akhir, kebakaran mulai menyisakan asap dengan pola titik api yang terpisah-pisah atau disebut sebagai pulau-pulau api.
Kondisi ini membuat proses pemadaman harus dilakukan secara teliti dan bertahap untuk memastikan tidak ada titik api yang tersisa.
Tim Manggala Agni terus melakukan penyisiran hingga seluruh titik api benar-benar padam. Upaya ini penting untuk mencegah munculnya kembali kebakaran di lokasi yang sama.
Setelah dinyatakan padam total, tim yang bertugas di lokasi segera melakukan demobilisasi. Personel kemudian dijadwalkan untuk melanjutkan tugas di wilayah lain yang juga mengalami karhutla.
“Kini, kondisi karhutla padam total. Selanjutnya tim Manggala Agni demobilisasi, melaksanakan pergantian tugas dan personel baru yang melaksanakan pemadaman Karhutla di Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh,” kata Ferdian Krisnanto.





