Masyarakat Bantah Klaim BPBD Aceh Selatan Bangun Jembatan Darurat Diterjang Banjir Di Bulohseuma

TheTapaktuanPost | Trumon. Puluhan anggota eks GAM yang kini disebut Komite Peralihan Aceh (KPA) Sagoe Trumon, membantah klaim pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Selatan telah membangun jembatan darurat yang hancur diterjang banjir di Kemukiman Bulohseuma, Kecamatan Trumon.

“BPBD Aceh Selatan telah menyampaikan informasi keliru dan menyesatkan kepada publik. Sebab yang sebenar-benarnya sesuai fakta dilapangan sama sekali tak ada keterlibatan mereka (BPBD) saat proses pekerjaan berlangsung dilapangan,” kata Panglima Sagoe KPA Trumon, Khairuman yang secara khusus menghubungi wartawan di Tapaktuan, Minggu (30/11/2025).

Bacaan Lainnya

Penegasan ini disampaikan Khairuman mewakili anggota KPA dan masyarakat Kecamatan Trumon khususnya Kemukiman Bulohseuma menyikapi pernyataan Kepala BPBD Aceh Selatan, H. Zainal dimedia massa yang secara sepihak berani mengklaim ikut terlibat dalam pembuatan jembatan darurat guna memulihkan kondisi terisolir Bulohseuma pasca jembatan penghubung ambruk diterjang banjir.

“Kami yang saat itu berada dan terlibat langsung menggelar gotong royong bersama masyarakat berani bersaksi bahwa satu orang pun tak terlibat petugas BPBD,” tegas Khairuman.

Dia mengungkapkan, pasca diterjang banjir besar hingga meluluhlantakkan jembatan penghubung dikawasan terpencil itu, ribuan masyarakat Bulohseuma terisolir dan transportasi lumpuh total selama 4 hari.

Masyarakat setempat, ungkapnya, merasa sedih dan sangat terpukul atas sikap abai dan acuh Pemkab Aceh Selatan karena selama 4 hari 4 malam terisolir tak ada inisiatif Pemkab Aceh Selatan menyediakan perahu karet untuk memulihkan kondisi transportasi warga.

“Jangankan inisiatif membangun jembatan darurat, untuk menyediakan perahu karet saja tak ada. Padahal ribuan warga sudah 4 hari terisolir. Banyak kondisi darurat harus ditanggung warga seperti ibu hamil dan anak-anak yang sakit serta berbagai keperluan darurat lainnya,” beber Khairuman.

Dia menegaskan, pembuatan jembatan darurat tersebut murni di inisiasi oleh Dinas PUPR Provinsi Aceh, di bawah pengawasan Teuku Risnandar, ST, MT dan Tim Teknis M. Hakim, ST. Sementara dalam proses pengerjaannya dilapangan dibantu oleh Polsek dan Koramil serta KPA sago Trĺumon.

“Kami siap bersaksi, tak ada keterlibatan petugas BPBD Aceh Selatan dilapangan, jangan seenak jidat mereka aja klaim ikut terlibat dari hasil jerih payah gotong royong masyarakat,” sesalnya.

Sebelumnya, Kalak BPBD Aceh Selatan H. Zainal mengatakan pihaknya telah membangun jembatan darurat untuk membuka akses korban banjir yang terisolir di Kemukiman Bulohseuma, Kecamatan Trumon. Dia menyatakan sebelumnya kawasan Bulohseuma terisolir karena ada jembatan putus akibat banjir.

“Saat ini jembatan darurat sedang dibangun untuk membuka akses ke kawasan Bulohseuma. Tim BPBD juga sudah ke lokasi menangani korban banjir di Kemukiman Bulohseuma,” kata Zainal.

Ketinggian banjir di wilayah tersebut saat ini meningkat. Banjir akibat hujan lebat, sehingga sejumlah sungai di kawasan tersebut meluap. Ketinggian air berkisar 30 hingga 130 centimeter.

“Kondisi banjir saat ini naik. Tim juga sudah ke lokasi banjir menangani masyarakat yang terdampak banjir serta menyalurkan bantuan darurat,” katanya.

Ribuan warga Kemukiman Bulohseuma, Kecamatan Trumon, Kabupaten Aceh Selatan, dilaporkan terisolir akibat banjir menyusul hujan dengan intensitas tinggi di wilayah tersebut.
Informasi dihimpun, beberapa jembatan penghubung ke Kemukiman Bulohseuma putus dan badan jalan amblas sepanjang sekitar 30 meter akibat banjir.

Kondisi tersebut menyebabkan transportasi darat dari dan ke wilayah pesisir di Kabupaten Aceh Selatan tersebut lumpuh total. Sementara, sebagian permukiman penduduk terendam banjir.

Lismadi, warga Bulohseuma, meminta pemerintah daerah mengerahkan tim membantu masyarakat yang kini terisolasi akibat banjir serta menyalurkan bantuan darurat.

Selain banjir, kata dia, listrik di seluruh wilayah Bulohseuma padam tiga hari tiga malam. Warga kini benar-benar terisolasi, bukan hanya secara geografis, tetapi juga secara perhatian pemerintah.

“Sudah tiga hari masyarakat Beulohseuma terisolir setelah tiga jembatan penghubung putus dan badan jalan amblas akibat banjir besar. kondisi ini membuat masyarakat tidak dapat beraktivitas,” kata Lismadi.

Pos terkait