TheTapaktuanPost | Banda Aceh. Blood For Life Foundation (BFLF) Kabupaten Aceh Selatan menerima bantuan satu unit inkubator portable rumahan dari Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (FT Unsyiah) Banda Aceh.
Peralatan medis untuk mengurangi angka kematian bayi lahir premature ini diserahkan langsung oleh Dosen Teknik Mesin Jurusan Teknik Mesin dan Industri FT Unsyiah yang juga agen relawan Aceh, Ratna Sary S.T.,M.T. diterima Ketua BFLF Aceh Selatan Gusmawi Mustafa S.E, di Rumah Singgah Syariah BFLF Pusat, Jalan Gabus No. 52 Lamprit, Banda Aceh, Rabu (17/2/2021).
Inkubator portable rumahan hasil rancangan dan inovasi dosen dan mahasiswa Jurusan Teknik Mesin dan Industri FT Unsyiah ini, nantinya langsung dikelola BFLF Aceh Selatan dan bisa dipinjam pakaikan secara gratis kepada masyarakat Aceh Selatan yang membutuhkan khususnya para ibu-ibu yang baru melahirkan bayi premature.
Ratna Sary mengatakan, incubator portable yang ini kali pertama baru rampung di produksi di FT Unsyiah tersebut rencananya akan disalurkan ke BFLF-BFLF di 23 kabupaten/kota di Aceh. Dipilihnya BFLF untuk bekerjasama karena BFLF yang ada di setiap daerah di Aceh merupakan sebuah organisasi yang bergerak secara sukarela khususnya dalam bidang sosial dan kesehatan.
“Dari 23 kabupaten/kota di Aceh, BFLF Aceh Selatan merupakan yang perdana menerima bantuan incubator portable ini,” kata Ratna Sary.
Menurutnya, incubator portable ini tidak ditempatkan di fasilitas kesehatan (Faskes) pemerintah melainkan langsung ditempatkan di Rumah Singgah BFLF Aceh Selatan agar masyarakat yang membutuhkannya bisa dengan mudah meminjampakaikannya.
“Masyarakat bisa meminjampakaikannya secara gratis untuk dibawa pulang ke rumahnya. Sampai anaknya yang lahir premature mencapai berat sekitar 2,4 Kg baru dikembalikan lagi ke BFLF. Itu jangkanya sekitar 1-2 bulan,” ujar Ratna Sary, seraya menyatakan terhadap kerusakan-kerusakan yang terjadi diharapkan penanggungjawab disetiap daerah dalam hal ini BFLF sendiri yang langsung memperbaikinya.
Ratna Sary mengungkapkan, incubator portable rumahan tersebut pertama sekali diciptakan oleh Dosen Fakultas Teknik Mesin Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Ir. Raldi Artono Koestoer, DEA. Ia berinisiatif merancang inkubator rumahan yang dapat digunakan oleh orang tua bayi di rumah. Ia berharap orang tua yang mempunyai bayi prematur akan terbantu dan tidak merasa takut dengan biaya perawatan bayi prematur yang mahal.
Ketertarikannya bermula pada tahun 1989. Saat itu, Prof. Raldi berkunjung ke kediaman kakaknya yang berprofesi sebagai dokter anak. Di sana ia melihat sebuah inkubator yang sudah rusak. Menurut keterangan, sebelumnya ada bayi terpanggang di dalam inkubator bayi tersebut.
Penyebabnya adalah suhu yang terlalu tinggi di dalam inkubator sehingga bayi mengalami overheating. Saat itu ia mencoba menganalisa apa yang menyebabkan hal itu terjadi. Dengan latar belakang pendidikan Teknik Mesin, ia lalu tertantang untuk membuat inkubator bayi rumahan yang sederhana dan murah pembuatannya. Pada tahun 1994 ia mulai membuat penelitian dengan bahan kardus dan triplek yang dirancang sebesar ukuran inkubator bayi. Kendala yang dihadapi pada saat itu adalah dalam mengendalikan suhu di inkubator, sementara alat pengontrol elektronik buatan Eropa dan Jepang harganya cukup mahal.
Pada tahun 2006 ia melanjutkan penelitian tersebut di Laboratorium Perpindahan Kalor Departemen Teknik Mesin FT UI untuk program Appropriate Technology Implementation (ATI) IMHERE, yang didanai oleh DIKTI. Menurut Prof. Raldi, bayi yang lahir prematur mengalami hipotermia, sehingga harus langsung diletakkan di inkubator bayi untuk dihangatkan. Bayi memerlukan temperatur suhu lingkungan yang mendekati suhu kandungan ibunya.
Berat bayi prematur, rata-rata 1,2 Kg, sangat kecil dibandingkan bayi normal. Saat baru dilahirkan, bayi belum memiliki energi yang cukup untuk beradaptasi dengan perubahan suhu tersebut. Jika tidak cepat ditangani maka bayi akan gemetar kedinginan.
Teknologi pada inkubator bayi tersebut dirancang pada suhu 33-34 °C lebih rendah sedikit dari suhu dalam kandungan yaitu 37 °C. Teknologinya menggunakan sirkulasi dan konveksi alamiah. Cara kerjanya yaitu udara dari bawah mengalir ke atas tanpa kipas angin dengan system ducting khusus dan sistem lubang fresh air. Pemanas yang digunakan yaitu lampu dengan watt kecil, yang telah diukur dengan kebutuhan kalor di ruang bayi. Inkubator bayi rumahan tersebut tidak menggunakan kipas angin sehingga bayi dapat merasa tenang karena tidak ada suara apapun di dalam inkubator.
Bahan penyusunnya yaitu kayu yang bersifat isolatif terhadap kalor, juga aman dari kebocoran listrik. Sementara itu, kebutuhan listrik yang digunakan juga 10 kali lebih kecil dari inkubator pada umumnya yang digunakan di rumah sakit. Itulah alasannya mengapa inkubator ini dapat digunakan di rumah. Prof. Raldi menyarankan kepada orang tua untuk tidak menggunakan AC di kamar bayi, agar bayi tetap berada pada keadaan hangat.
Profesor yang gemar bermain musik dan menyanyi ini, tidak mempermasalahkan jika inkubator bayi miliknya ditiru orang lain. Ia justru senang karena berarti semakin banyak bayi yang mendapat menfaat inkubator bayi yang harganya terjangkau. Ia mengaku, saat ini kendala besar yang dihadapi orang tua bayi prematur adalah mahalnya biaya perawatan bayi pascadilahirkan di rumah sakit.
“Awalnya, saat saya baru pulang kuliah dari UI tahun 2014 lalu kami bawa pulang satu alat incubator portable ke Aceh. Waktu dikirim dari Jakarta problemnya adalah kacanya pecah dan biaya pengiriman juga besar sekali mencapai Rp. 1.5 juta. Hingga akhirnya kita berinisiatif merancang dan memproduksinya sendiri di FT Unsyiah bekerjasama dengan UI. Alhamdulillah, saat ini untuk wilayah Pulau Sumatera sudah ditunjuk Unsyiah sebagai pusat produksinya,” papar Ratna Sary.
Ratna Sary memastikan bahwa, produksi incubator portable ini sudah melewati serangkaian pengujian kesehatan dan keselamatan oleh instansi terkait dan bahkan saat ini sudah memiliki standar SNI.
“Sebenarnya alat medis ini sudah lama di produksi di UI namun untuk Unsyiah sendiri ini baru kali pertama. Bahkan sampai saat ini sudah menolong sebanyak 4.100 lebih bayi premature dan sudah digunakan di 115 kabupaten/kota di seluruh Indonesia,” pungkasnya.


