TheTapaktuanPost | Tapaktuan — Kondisi Workshop Marmer Politeknik Aceh Selatan (Poltas) disorot alumni kampus. Fasilitas yang pernah menjadi bagian dari sejarah pengembangan pendidikan vokasi kampus tersebut disebut kini tidak lagi dimanfaatkan sebagaimana sebelumnya.
Alumni perdana Poltas, Ismail Ismed, menilai kondisi Workshop Marmer perlu menjadi bahan evaluasi terhadap pengelolaan fasilitas dan arah pengembangan kampus.
“Workshop Marmer itu bagian dari sejarah berdirinya Poltas. Kalau sekarang justru dikuasai tawon atau binatang berbisa, ini tentu menjadi gambaran yang memprihatinkan terhadap pengelolaan fasilitas kampus,” kata Ismed kepada wartawan di Tapaktuan, Rabu (30/9/2026).
Menurutnya, persoalan tersebut bukan semata menyangkut kondisi sebuah bangunan, melainkan juga berkaitan dengan konsistensi Poltas dalam menjaga aset, sejarah, serta potensi daerah yang sejak awal menjadi bagian dari pendidikan vokasi.
Ismed menilai pengembangan bidang baru, termasuk Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit, seharusnya tidak serta-merta menghilangkan perhatian terhadap sektor marmer yang pernah menjadi salah satu ikon bidang pengembangan Poltas.
“Kalau ingin maju, kampus harus mampu mengembangkan potensi baru tanpa meninggalkan fondasi yang sudah ada. Jangan sampai apa yang tercantum dalam Rencana Induk Pengembangan hanya berhenti sebagai dokumen,” katanya.
Ia berharap kondisi Workshop Marmer menjadi bahan evaluasi bagi Direktur Poltas, terutama menyangkut arah kebijakan, pengelolaan fasilitas pendidikan, dan pemanfaatan potensi lokal.
“Jangan sampai sejarah Poltas hanya tinggal cerita. Workshop Marmer harus dilihat kembali sebagai bagian dari identitas dan potensi akademik kampus,” tegas Ismed.
Menanggapi kondisi tersebut, Direktur Poltas,
Ir. Nuzuli Fitriadi, S.T., M.T., IPM menjelaskan bahwa tidak aktifnya Workshop Marmer berkaitan dengan perubahan arah kurikulum dan sejumlah pertimbangan teknis maupun ekonomis.
“Workshop tersebut tidak lagi digunakan sebagai fasilitas praktikum setelah kurikulum pendidikan beralih dan dikembangkan ke bidang Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit,” kata Nuzuli.
Menurutnya, keberadaan politeknik di daerah pada prinsipnya diarahkan untuk mendukung kebutuhan industri dan membuka peluang kerja bagi lulusan sesuai potensi serta perkembangan sektor usaha di daerah.
Selain perubahan kurikulum, aspek keekonomian juga menjadi pertimbangan. Pengoperasian Workshop Marmer dinilai belum mampu memberikan hasil komersial yang sebanding dengan modal dan biaya operasional yang harus dikeluarkan.
Kapasitas peralatan yang tersedia disebut belum memadai apabila workshop tersebut dikembangkan ke skala produksi. Di sisi lain, fasilitas pengolahan atau pembelahan batu dinilai lebih ideal berada dekat dengan lokasi bahan baku sehingga biaya pengangkutan dapat ditekan.
Meski demikian, Nuzuli menyatakan pengembangan sektor marmer belum sepenuhnya ditinggalkan. Kampus saat ini disebut masih berupaya mencari investor atau mitra yang bersedia bekerja sama untuk mengoptimalkan kembali potensi tersebut.
“Kerja sama dengan investor diharapkan dapat membuka peluang pemanfaatan fasilitas dan pengembangan sektor marmer secara lebih maksimal pada masa mendatang,” pungkas Nuzuli.




