Jafnimar Jakfar Hampir Menangis di Gubuk Reyot Janda Miskin

TheTapaktuanPost | Pasie Raja. Rawut wajah Hj. Jafnimar Jakfar Azwir, istri Bupati Aceh Selatan mendadak sedih bahkan nyaris menetes air mata. Dengan didampingi putra semata wayangnya, H. Ikhwan Azwir SE, bola mata istri orang nomor satu di Aceh Selatan ini terlihat berkaca-kaca.

Kedua tangannya tampak terus mengelus-elus tubuh perempuan renta yang hidup sebatang kara dibawah gubuk reyot berukuran 5×5 meter berlantai tanah dan berdinding papan sudah lapuk.

Janda miskin yang terpaksa harus bertahan hidup seorang diri sejak zaman konflik ini, bernama Nur Halimah (56), ia tinggal di Desa Ujong Padang Rasian, Kecamatan Pasie Raja, Kabupaten Aceh Selatan.

Ihwal keberadaan janda miskin yang hidup dirumah tak layak huni ini, pertama sekali diketahui oleh Hj. Jafnimar Jakfar pada Kamis 7 November 2019 setelah dilaporkan oleh putra semata wayangnya, H. Ikhwan Azwir SE.

Mengetahui kondisi itu, “first lady” Aceh Selatan ini langsung merasa prihatin dan tergugah hatinya. Persoalan ini langsung diresponnya dengan cara turun langsung ke lokasi pada Jumat (8/11/2019) pagi.

Tanpa melibatkan dinas terkait, Jafnimar Jakfar langsung turun ke rumah janda miskin itu hanya didampingi sopir dan ajudannya. Namun ketika hendak sampai di tempat tujuan, Camat Pasie Raja Anakri, yang secara tiba-tiba mengetahui kedatangan Jafnimar Jakfar langsung buru-buru datang untuk menyambut kedatangan istri Bupati Aceh Selatan ini.

Berselang beberapa saat kemudian, juga datang Kepala Rayon PLN Kuta Fajar, Zulham didampingi TKSK Pasie Raja, T. Bintang.

Ketika sampai di Desa Ujong Padang Rasian, Jafnimar Jakfar didampingi H. Ikhwan Azwir SE langsung menuju ke rumah Nur Halimah. Dengan berbekal sehelai tikar anyaman tangan, Nur Halimah menyambut kedatangan istri bupati tersebut.

Saat disambangi Jafnimar Jakfar, kondisi Nur Halimah ternyata sedang sakit, makanya secara kebetulan yang bersangkutan berada di rumah pada pagi itu. Sebab jika fisiknya sehat, ia selalu rutin pergi ke Pasar Inpres Tapaktuan dengan menumpangi mobil angkutan umum.

Di pasar tertua yang berada dipusat Kota Tapaktuan itu, Nur Halimah setiap harinya menjual sayur-mayur yang dibawanya dari Desa Ujong Padang Rasian, Pasie Raja. Setelah barang dagangannya habis laku, baru ia kembali pulang ke rumahnya.

“Saat ini kondisi fisik saya sedang sakit, makanya sudah beberapa hari tidak berjualan ke Tapaktuan,” kata Nur Halimah sembari menunjuk daun singkong, cabai serta sayur-mayur lainnya mulai layu dirumahnya.

Istri Bupati Aceh Selatan, Hj. Jafnimar Jakfar mengatakan, tempat tinggal yang dihuni Nur Halimah benar-benar tak layak huni.

Hasil amatan dilokasi, dinding gubuk reyot yang terbuat dari papan sudah banyak bolong-bolong karena mayoritas papan yang ada sudah lapuk dimakan usia. Pemandangan serupa juga terlihat pada lantai. Lantai yang dulunya di cor semen juga sudah terkelupas sehingga sudah nampak tanah.

Gubuk kecil ini hanya memiliki satu kamar tidur berukuran sangat kecil yang bersisian langsung dengan dapur tempat masak. Tempat memasak terbuat dari tungku batu, menggunakan material kayu dan batok kelapa.

Dalam kamar sangat mungil itu, terlihat kasur yang sudah sangat tua langsung terbaring diatas tanah dengan dikelilingi kelambu besar. Tragisnya, dinding papan sekeliling kamar juga bolong-bolong. Bahkan, satu unit jendela kamar juga terlihat kacanya sudah pecah. Untuk keamanannya, Nur Halimah menutupi bolong-bolong itu dengan kertas koran bekas.

Tempat tinggal Nur Halimah ini juga tidak ada aliran listrik PLN. Dimalam hari, Nur Halimah hanya menggunakan Lampu Teplok minyak tanah sebagai alat penerangan. Bisa jadi, dari ribuan rumah penduduk di Kecamatan Pasie Raja, rumah Nur Halimah lah merupakan satu-satunya rumah masyarakat miskin belum teraliri listrik di daerah itu.

Yang sedihnya lagi, gubuk reyot yang dihuni janda miskin itu justru berdiri diatas tanah orang lain yang hanya dipinjam pakaikan padanya. Gubuk itu sendiri juga bantuan dari pemerintah yang dibangun belasan tahun silam sebelum konflik bersenjata berkecamuk.

“Kalau bisa, tolong ibuk jangan tinggal sendiri dirumah ini. Karena kondisinya sudah sangat tidak aman, bisa berbahaya dan mengancam keselamatan jiwa ibuk,” ucap Jafnimar Jakfar dengan nada sedih.

Kepada Camat Pasie Raja, Anakri, yang hadir di rumah Nur Halimah, istri Bupati Aceh Selatan Hj. Jafnimar Jakfar memerintahkan agar segera berkoordinasi dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim), sehingga bisa segera mempersiapkan syarat-syarat yang dibutuhkan untuk merealisasikan program bantuan rumah kaum dhuafa terhadap janda miskin tersebut.

“Kepada Pak Camat, tolong ya segera dipersiapkan apa-apa syarat yang dibutuhkan. Lalu segera berkoordinasi dengan Dinas Perkim. Jika mengalami kendala segera laporkan kepada saya,” tegas Jafnimar Jakfar.

Sentil Pejabat

Dalam kesempatan itu, Jafnimar Jakfar sempat menyentil oknum pemangku kepentingan mulai level desa, kecamatan hingga kabupaten di daerah itu yang masih juga menyalurkan program bantuan rumah kaum dhuafa dan program PKH secara tidak tepat sasaran.

“Jujur saya katakan, saya merasa sangat miris ketika mendengar informasi, sampai saat ini masih ada kasus penyaluran program bantuan tidak tepat sasaran. Bantuan justru dinikmati oleh masyarakat mampu, sementara masyarakat yang betul-betul membutuhkan justru luput dari perhatian,” sesalnya.

Sementara, kepada pihak PLN Rayon Kuta Fajar, istri Bupati Aceh Selatan juga mengharapkan agar bisa membantu pemasangan aliran listrik ke rumah janda miskin itu.

Permintaan itu, direspon langsung oleh Kepala Rayon PLN Kuta Fajar, Zulham. Ia berjanji, aliran listrik ke rumah janda miskin itu akan terpasang dalam minggu ini juga secara gratis.

“Aliran listrik akan kami pasang secara gratis. Menggunakan pra-bayar 2 ampare, sebab dengan sistem isi pulsa bisa meringankan beliau. Karena bisa di isi Rp. 20 ribu,” ucap Zulham.

Diakhir kunjungannya, Jafnimar Jakfar juga turut serta menyerahkan beberapa paket bantuan kepada Nur Halimah. Diantaranya, Piring, Gelas, Kain Sarung, Sajadah, Telekung, Bakal Kain, Beras, Telur serta perlengkapan dapur lainnya.

“Selain itu, ini ada juga sedikit modal usaha kami bawa. Meskipun bantuan ini belum seberapa besar, tapi kami berharap semoga bantuan ini dapat dipergunakan dengan sebaik mungkin. Sehingga dapat meringankan beban ibu Nur Halimah menjalani hidup sehari-hari. Satu lagi harapan kami adalah dengan bantuan beberapa perangkat shalat yang kami bawakan, semoga ibu Nur Halimah makin kuat beribadah sebagai bekal hari akhirat kelak,” pungkasnya.