TheTapaktuanPost | Kluet Utara. Musibah bencana alam pengikisan tebing sungai (erosi) setiap kali DAS Krueng Kluet meluap saat intensitas curah hujan tinggi, di Desa Kedai Padang, Kecamatan Kluet Utara, Aceh Selatan kembali “memakan korban”.
Setelah dua unit rumah warga yang berdiri disepanjang bantaran sungai sempat dikosongkan dan penghuninya diungsikan sementara ke rumah sanak familinya pada Jumat (1/5/2020) pagi, akhirnya salah satu rumah diantaranya terpaksa harus dibongkar paksa pada Jumat sore, berhubung arus sungai makin besar dan mengganas.
Sisa satu rumah lagi, rencananya kembali akan dibongkar pada Sabtu (2/5/2020) sore ini.
Sejak bencana erosi ini menerjang pemukiman penduduk di Desa Kedai Padang disepanjang bantaran DAS Krueng Kluet sejak tahun 2017 lalu, sampai saat ini tercatat sudah sebanyak 8 unit rumah warga yang bermukim disepanjang bantaran sungai wilayah setempat telah dibongkar paksa.
Sekretaris Desa (Sekdes) Kedai Padang, Teuku Raja Inal, melaporkan bahwa pasca arus DAS Krueng Kluet kembali mengganas pada Jumat (1/5/2020), perangkat desa bersama masyarakat setempat berinisiatif mengosongkan dua unit rumah warga dan penghuninya berjumlah 9 jiwa diungsikan ke rumah sanak famili.
“Benar, setelah paginya rumah dikosongkan dan penghuninya diungsikan, pada sore harinya salah satu rumah milik Halimah terpaksa harus dibongkar,” ungkap T. Raja Inal saat dihubungi kembali, Sabtu (2/5/2020).
Menurutnya, proses pembongkaran secara paksa rumah Hilamah berkonstruksi semi permanen oleh perangkat desa bersama masyarakat itu dilakukan dengan pertimbangan arus DAS Krueng Kluet makin besar dan deras terus menghantam tebing sungai.
Akibat hantaman arus sungai cukup deras itu, sejumlah pohon tampak terus tumbang, tanah disepanjang bantaran sungai juga terus amblas.
“Jarak antara tebing sungai dengan pondasi rumah ibuk Halimah yang telah dibongkar itu kurang dari 1 meter lagi,” ungkap T. Raja Inal.
Jika intensitas curah hujan diwilayah itu terus meningkat, maka arus DAS Krueng Kluet kembali akan meluap. Makanya, kata dia, jika kondisi itu terus berlangsung pihaknya memprediksi, satu unit lagi rumah atas nama pemiliknya Juned terpaksa juga harus dibongkar paksa.
“Kemungkinan besar rumah satu lagi milik Juned juga harus dibongkar. Proses pembongkaran bisa jadi akan berlangsung sore ini (Sabtu sore-red), kita lihat situasi dulu,” ujarnya.
Selain 2 unit rumah ini, lanjutnya, saat ini masih ada sebanyak 10 unit rumah lagi yang juga berdiri disepanjang bantaran DAS Krueng Kluet di Desa Kedai Padang posisinya juga telah terancam bakal amblas dan terserat arus jika air sungai yang berhulu dari Gunung Leuser tersebut kembali meluap.
“Ada sebanyak 10 rumah warga lagi yang posisinya terancam sehingga berada dibawah bayang-bayang pembongkaran paksa juga untuk menyelamatkan barang-barang berharga di dalam rumah tersebut,” ujarnya seraya menyebutkan puluhan hektar lahan perkebunan dan pertanian milik warga termasuk areal kuburan umum dan lapangan bola telah lebih dulu porak-poranda diterjang arus sungai tersebut sejak tahun 2017 lalu.
Adapun sebanyak 8 unit rumah penduduk yang telah dibongkar paksa sejak tahun 2017 lalu masing-masing milik M. Syarif, Nuridah, Jariah, Salihin, Sufri Zs, Armia, Jasimah dan Halimah/Pak Warta.
Masyarakat Kedai Padang Kembali Berduka, Total Sudah 8 unit Rumah Dibongkar Paksa







