TheTapaktuanPost | Labuhanhaji Barat. Sekretaris Dayah Darussalam, Desa Blang Poroh, Kecamatan Labuhanhaji Barat, Aceh Selatan, Abi Hidayat, membenarkan bahwa pondok pesantren tertua di Aceh yang didirikan oleh Abuya Syech H. Muda Waly Al-Khalidy tersebut meniadakan kegiatan suluk rutin pada bulan ramadhan tahun 2020 ini.
“Benar, demi untuk kebaikan bersama kegiatan suluk rutin dibulan ramadhan tahun ini ditiadakan. Langkah ini diambil demi untuk mencegah penyebaran wabah virus corona (Covid-19) yang sudah berstatus pandemi sekarang ini,” kata Abi Hidayat saat dihubungi dari Tapaktuan, Senin (20/4/2020).
Menurutnya, penghentian pelaksanaan ibadah dalam jumlah skala besar seperti itu ditengah pandemi Covid-19, telah lebih dulu terjadi terhadap jamaah Umroh di tanah suci makkah. Bahkan, tidak saja jamaah Umroh, agenda rutin ibadah haji tahun ini saja sedang dipertimbangkan atau dikaji akan dibatalkan.
“Tingkat ibadah Umroh saja yang jelas-jelas pahalanya berlipat ganda telah dihentikan, apalagi pelaksanaan ibadah suluk rutin dibulan suci ramadhan di pesantren ini. Tentu harus kita tiadakan dulu untuk sementara waktu, demi kebaikan bersama,” ujar Abi.
Ia menjelaskan, ditiadakan kegiatan suluk rutin dibulan suci ramadhan tahun ini, menindaklanjuti aturan sosial distancing dan physical distancing yang telah ditetapkan pemerintah dalam rangka menangkal penyebaran Covid-19.
Merujuk dari aturan tersebut, lanjut Abi, pihaknya harus segera mengambil langkah cepat dan tepat. Sebab berdasarkan pengalaman ditahun-tahun sebelumnya, setiap digelar kegiatan suluk dibulan suci ramadhan, selalu dipadati oleh ribuan jamaah baik berasal dari Aceh Selatan maupun kabupaten/kota lainnya di Aceh.
“Pengalaman tahun-tahun lalu ya, setiap kegiatan suluk dibulan ramadhan itu, jamaahnya tidak kurang dari 1.000 orang. Ditengah pandemi virus corona sekarang ini, jumlah jamaah sebesar itu tentu saja sangat rentan terjangkit virus mematikan yang belum ditemukan vaksinnya itu,” ungkap Abi.
Meskipun akan diterapkan aturan jaga jarak (physical distancing), pihaknya tetap akan mengalami kendala dalam mengatur jarak antar jamaah selama mengikuti ibadah suluk. Selain terbatasnya lokasi tempat juga akan mengganggu kekusyukkan (fokus) para jamaah.
Bukan itu saja, sambung Abi, kebiasaannya keberadaan jamaah suluk rutin dibulan suci ramadhan sudah barang tentu pasti akan dikunjungi oleh sanak keluarganya. Terlebih sanak keluarga yang baru pulang dari perantauan. “Biasanya, setiap sore hari dibulan suci ramadhan itu lokasi pesantren darusssalam selalu dipenuhi masyarakat yang mengunjungi keluarganya sedang melaksanakan ibadah suluk. Bayangkan saja, jika pengunjung itu baru pulang dari perantauan,” beber Abi.
Karena itu, ia berharap kepada semua pihak agar dapat memahami dan memaklumi keputusan yang diambil tersebut, demi untuk kebaikan bersama.
“Intinya bahwa, jika kegiatan suluk tetap digelar di bulan suci ramadhan tahun ini sangat beresiko. Bukan dalam artian kita takut mati karena ajal seseorang memang telah diatur oleh ALLAH SWT. Tapi kita juga wajib berusaha menghindar dari ancaman wabah virus yang jelas-jelas telah menggemparkan seantero dunia,” pungkas Abi Hidayat.


