Sejarah Berdirinya Dayah Darussalam Peninggalan Abuya Muda Waly

TheTapaktuanPost | Labuhanhaji Barat. DAYAH Darussalam, di Gampong Blang Poroh, Kecamatan Labuhanhaji Barat, Kabupaten Aceh Selatan merupakan salah satu dayah tertua yang masih aktif di Aceh saat ini. Didirikan oleh ulama kharismatik Syekh H Abuya Muhammad Waly Al Khalidi yang tersohor dengan panggilan Syekh H Abuya Muda Waly sekira tahun 1940.

Di pusat pendidikan agama Islam mazhab Syafi’i dan faham Ahlussunnah wal Jamaah INI hanya mampu menampung 2.250 santri, karena keterbatasan fasilitas. Sementara setiap tahun jumlah santri yang mendaftar selelau di atas jumlah batas penerimaan. Inilah yang menjadi kendala bagi pengelola dayah, untuk membantu generasi pilihan Aceh yang memilih belajar agama di dayah tersebut. Mereka datang dari pelbagai pelosok Aceh maupun luar Aceh, bahkan dari negara tetangga. 

“Penerimaan santri terpaksa kita batasi mengingat keterbatasan fasilitas. Jika tidak, mungkin jumlah santri melebihi kapasitas, setidaknya tembus 4.000 orang. Kebijakan ini terpaksa kita lakukan demi kenyamanan santRi dalam belajar,” kata Sekretaris Dayah Darussalam, Abi Hidayat Muhibuddin Waly yang tidak lain adalah putra kedua Abuya Prof DR H Muhibuddin Waly saat berbincang dengan wartawan belum lama ini. 

Abi Hidayat Muhibuddin Waly menjelaskan, awalnya Dayah Darussalam didirikan kakeknya (Syekh H Abuya Muda Waly-red) di atas lahan seluas 400×250 meter per segi. Atas partisipasi masyarakat, baik sumbangan dana maupun wakaf, lahan dayah sudah bertambah menjadi 4,4 hektare. Terakhir tahun 2014 masyarakat berhasil menghibahkan kembali lahan seluas satu hektare, hingga  kini luas Dayah Darussalam Labuhanhaji sudah mencapai 5,5 hektare. 

Keberadaan Dayah Darussalam dilengkapi berbagai fasilitas ibadah, ruang belajar, perpustakaan, asrama putra-putri dan pemondokan (bilik). Di dayah ini sudah banyak dilahirkan ulama-ulama terkemuka, tidak hanya warga Aceh dan Sumatera tetapi menyebar ke seluruh penjuru nusantara hingga Asia Tenggara. 

“Jumlah santri tahun ini di tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA), dari kelas I sampai IX sebanyak 2.250 orang. Pembatasan penerimaan santri untuk menghindari proses belajar mengajar berdesakan. Harapan kita, fasilitas Dayah Darussalam dapat ditingkatkan agar dapat menampung putra-putri kita yang haqul yakin menuntut ilmu agama,” tandas Abi Hidayat.

Sesuai aturan, katanya, setiap santri yang masuk ke Dayah Darussalam tetap dimulai dari kelas I (Madrasah Ibtidaiyah). Walaupun sebelumnya telah menamatkan sekolah SMA sederajat di luar dayah. Penerapan ini, katanya, sudah berlangsung sejak kakeknya Syekh H Abuya Muda Waly masih hidup.

Menurut Abi Hidayat, jumlah jemaah membludak terjadi pada bulan puasa (Ramadhan). Selain ribuan santri Dayah Darusslam sendiri, pada saat itu dibanjiri ribuah jemaah lainnya yang datang secara khusus untuk melaksanakan ibadah suluk. Lokasi dan masjid Syekhuna (masjid guru kita) disesaki jemaah dengan lantunan suara zikir, tasbih, yasinan dan pengajian. Darussalam tidak pernah sepi dari aktivitas ibadah. 

Seperti dikemukanan salah seorang jemaah, Hanafiah, (60), walaupun usia lebih setengah abad, namun sesampai di sini kami merasa kuat dan mampu menunaikan ibadah secara teratur dan kusyuk. “Tidak terasa jauh dari keluarga, malah ada kesejukan dan kedamaian bagi kami. Semoga amal ibadah kami dapat diterima Allah SWT,” ungkapnya.

Ulama kharismatik Aceh yang tersohor hingga ke Asia Tenggara, Syekh H Abuya Muda Waly Al Khalidy lahir di Blang Poroh, Labuhan Haji, Kabupaten Aceh Selatan, sekira tahun 1917. Putra Syekh H Muhammad Salim sosok pendakwah dan guru agama Islam asal Batusangkar, Sumatera Barat ini, awalnya menekuni pendidikan di sekolah Volks Scholl yang didirikan Belanda. 

Tamat dari Volks School dilanjutkan ke Vervolg School lalu belajar ilmu agama kepada ayahanda beliau sendiri Syekh H Muhammad Salim. Hasrat belajar ditunjang kegigihan dan kecerdasan membuat Maulana Syekh H Muda Waly Al Khalidy masuk Pasantren Jami’iyyah Al Khairiyyah Labuhanhaji pimpinan Teungku Muhammad Ali yang lebih dikenal masyarakat luas dengan sebutan Teungku Lampisang, Aceh Besar. 

Dikutip dari buku Ayah Kami Syekhul Islam Abuya Muhammad Waly Al Khalidy Bapak Pendidikan Aceh karangan Prof DR H Muhibuddin Waly. Empat tahun belajar di pesantren Jami’iyyah Al Khairiyyah berlanjut ke Bustanul Huda Blang Pidie, dipimpin ulama asal Aceh Besar, Syekh Mahmud. Kemudian Ia pindah ke Kuta Raja (Banda Aceh sekarang) hingga melanjutkan pendidikaN ke Normal Islam di Padang, Sumatera Barat. 

Di pesantren Bustanul Huda, Syekh H Abuya Muda Waly mempelajari kitab-kitab mashyur mazhab Syafi’i seperti I’anatut Thalibin, Tahrir dan Mahalii dalam ilmu Fiqih. Sedangkan dalam ilmu bahasa Arab didalami kitab Alfiyah dan Ibnu Aqil serta ilmu tauhid lainnya. Seterusnya Abuya H Muda Waly terus belajar ilmu agama ke berbagai pesantren di Aceh hingga ke Sumatera Barat.

Informasi dihimpun dari berbagai sumber, Syekh H Abuya Muda Waly Al Khalidy pernah berguru di antaranya pada Syekh H Muhammad Salim Aceh Selatan (ayah kandung sendiri), Syekh Muhammad Ali Lampisang Aceh Besar, Syekh Mahmud, Blang Pidie, Syekh H Hasan Krueng Kale Aceh Besar, Syekh Hasbullah Indrapuri Aceh Besar, Syekh Abdul Ghani Al Khalidy Batu Basurek Bangkinang Sumatera Barat serta kepada sejumlah ulama-ulama lain. 

Sekembali dari menunaikan ibadah haji dengan menggunakan kapal laut sekira tahun 1939, putra pasangan Syekh H. Muhammad Salim dengan Janadat Binti Keuchik Nyak Ujud ini mendirikan Madrasah Tarbiyah Islamiyah di Labuhan Haji. Pengembangannya lebih pesat di Dayah Darussalam berjuluk “Fi Manbail ilmi wal Hikam” Madrasah tertinggi diberi titel “Bustanul Muhaqiqiin” (Kebun orang-orang yang memperdalam ilmu-ilmu pengetahuan). 

Melalui Mazhab Syafi’i dan faham Ahlussunnah wal Jamaah dalam i’tiqad serta ilmu Tasawuf Tariqat Al-Khalidi An-Naqsyabandi, Abuya H Muda Waly telah mendidik ribuan murid. Dari Darussalam telah lahir ulama-ulama besar, tidak hanya warga Aceh tetapi datang dari pelbagai pelosok hingga Asia Tenggara. Selain ulama-ulama terkemuka, Dayah Darusslam telah mencetak ribuan Imam Chik dan pemuka-pemuka agama lainnya. 

Catatan yang diperoleh, selain putra sendiri, Abuya H Muda Wali telah mendidik kader-kader Islam Syafi’iyah menjadi guru-guru agama di pelosok-pelosok Aceh, diantaranya; Tengku Syeikh Adnan Mahmud Bakongan (Aceh Selatan), Tengku Syeikh Qamaruddin Teunom (Aceh Jaya) Tengku Syeikh ‘Utsman Al-Fauzi Cot Iri (Aceh Besar), Tuanku Idrus Batu Basurek Bangkinang (Sumatera Barat), Tuanku Labai Sati Malalo Padang Panjang (Sumatera Barat). 

Seterusnya, Tengku Mohd. Daud Zamzamy (Aceh Besar),Tengku Syeikh ‘Abdul ‘Aziz Saleh, Samalanga (Aceh Jeumpa), Tengku Syekh Mohd. ‘Isa Peudada (Aceh jeumpa), Tengku H Mohd. Amin (Abu Tumin) Blang Bladeh (Bireun), Tengku Syekh Syahbuddin Syah Keumala (Aceh Utara), Tengku Syekh Jamaluddin Teupin Punti (Lhoksukon), Tengku Syeikh Ahmad Blang Nibong (Aceh Utara). 

Tidak ketinggalan, Tengku Syeikh Nawawi Harahap (Tapanuli), Tengku Jafar Siddik (Aceh Tenggara), Tengku Amin ‘Umar Panton Labu Aceh (Utara), Tengku ‘Abbas Parembeu (Aceh Barat), Tengku Syeikh Mohd. Daud Gayo (Aceh Pidie), Tengku Syeikh Ahmad Lam Lawi (Aceh Pidie), Tengku Abu Bakar Sabil Alu Tampak (Aceh Barat), Tengku Abdullah Tanoh Mirah (Bireuen), Abon Arongan Simpang Mamplam (Bireuen) dan masih banyak ulama-ulama lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu. 

Hingga wafat pada tanggal 28 Maret 1961, almarhum Syekh H Abuya Muda Waly Al Khalidy memiliki empat orang istri setia yaitu; Ummi Padang (Sumatera Barat), Ummi Paoh (Labuhanhaji), Ummi Manggeng (Abdya) dan Ummi Teunom (Aceh Jaya). Semasa hidup almarhum juga dikarunia 8 putra sebagai generasi penerus pendidikan, yakni Abuya Tgk H Muhibbuddin Waly (Alm), Abuya Tgk H Mawardi Waly, Abuya Tgk H Harun Rachid Waly (alm), Syekh H Abuya Jamaluddin Waly (alm), Abuya Tgk H Amran Waly, Abuya Tgk H M Nasir Waly (alm), Abuya Tgk H Ruslan Waly (alm) dan Abuya Tgk H Syekh Abdurrauf Waly. 

Di berbagai tulisan diriwayatkan banyak karomah (keunikan) yang pernah terjadi dalam perjalanan hidup Abuya H Muda Waly hingga menghadap sang khalid. Di antaranya, beliau mempunyai firasat batin untuk bisa melihat hal-hal yang sebelumnya. Bentuk tubuh terlihat tinggi saat duduk dan berdiri dengan masyarakat. Pada saat proses pemakaman Abuya H Muda Waly dilaksanakan, muncul cahaya keumala (seberkas sinar putih bercahaya). Cahaya terang itu membentang ke langit. Subhanallah, semua ini terjadi atas kehendak dan kemuliaan Allah SWT. 

Saat mengajar ilmu agama kepada santri, Abuya H Muda Waly lebih banyak memberi nasehat agar selalu mentaati perintah dan menjauhi larangan Allah. Dalam perdebatan agama, beliau tampil bijaksana dan mampu memberi penjelasan sesuai aqidah dan kitab-kitab yang dipelajari. Ulama kharismatik ini disegani dan keharuman namanya tercium hingga ke zazirah Arab. Dan masih banyak panutan lain yang tidak pernah pudar dalam ingatan, sebagaimana dikisahkan alumni dayah Darussalam seperti Teungku Khalifah Abu Bakar dan Teungku Muhammad Anas. (gonews.co)

Pos terkait