TheTapaktuanPost | Tapaktuan – Mantan kombatan GAM wilayah Lhok Tapaktuan, T Raja Heru Trumon, sependapat dengan wacana pemilihan ulang Wali Nanggroe (WN) Aceh, sehubungan akan berakhirnya periodesasi masa tugas Wali Nanggroe Malik Mahmud Al-Haytar.
Namun, ia menolak keras rencana segelintir elit politik di Aceh akan menghapus atau menghilangkan keberadaan lembaga WN di Aceh.
“Wacana pergantian WN itu tak masalah jika sosok yang menjabat saat ini kurang tepat silahkan pilih sosok yang lebih baik dan pantas. Tapi jika ada pihak tertentu yang ingin menghilangkan lembaga dan status WN di Aceh seperti statemen anggota DPD RI Gazali Abas maka akan saya tantang meskipun nyawa taruhannya,” kata T Raja Heru Trumon kepada wartawan di Tapaktuan, Sabtu (17/11/2018).
Menurutnya, siapapun yang mendesak penghapusan lembaga WN di Aceh, sama halnya sengaja memprovokasi atau mengobok-obok kondisi keamanan dan ketertiban ditengah-tengah masyarakat Aceh sekarang ini sudah sangat kondusif.
“Orang yang meminta lembaga WN di hilangkan adalah orang yang tidak memahami atau tak faham substansi butir-butir MoU Helsinky sebagai cikal bakalnya terwujud perdamaian di bumi Aceh yang disepakati antara RI dan GAM dihadapan dunia internasional,” sesal T Raja Heru.
Karena itu, sambung T Raja Heru, pihaknya sebagai bagian dari pelaku sejarah pergerakan sayap militer GAM dibawah komando KPA wilayah Lhok Tapaktuan, mengingatkan kepada senator Aceh, Gazali Abas serta elit-elit politik lainnya di Aceh agar lebih cermat dan lebih bertanggungjawab dalam mengeluarkan statemen terkait pembubaran lembaga WN dihadapan masyarakat.
Sebab, kata dia, jauh sebelum gonjang ganjing sekarang ini lembaga WN telah lebih dulu ada di Aceh namun sayangnya akibat digerus arus globalisasi perkembangan zaman lembaga tersebut lenyap begitu saja.
“Namun, Alhamdulillah berkat izin ALLAH SWT melalui perjuangan GAM lembaga WN kembali terbentuk di Aceh sehingga sejarah Aceh kembali tumbuh secara perlahan untuk dikenang oleh generasi penerus,” ungkapnya.
Menurutnya, tidak mudah menumbuhkan kembali sejarah Aceh yang sudah pernah hilang tersebut. Buktinya, harus butuh waktu selama 30 tahun lebih rakyat Aceh hidup dalam konflik bersenjata dengan begitu banyak pengorbanan nyawa dan harta yang di lakukan oleh bangsa Aceh hingga berakhir dengan terciptanya perdamaian.
“Makanya, senator Gazali Abas tolong buka mata Anda dengan terang benderang sehingga tak asal bicara yang akhirnya bisa memperkeruh suasana Aceh saat ini sudah sangat kondusif. Seharusnya Anda perwakilan kami di Jakarta memperjuangkan hak – hak kekhususan Aceh yang sudah di sepakati dengan Pemerintah RI, bukan malah menghilangkan yang sudah ada,” pungkasnya.