Arti Milad GAM 4 Desember 1976 – 4 Desember 2018

  • Whatsapp

Senin, 3 Desember 2018 | 16.40 WIB

TheTapaktuanPost | Banda Aceh.
Fase pertama pergerakan perjuangan merebut kembali kemerdekaan Aceh adalah dimulai pada tanggal 4 Desember 1976 ketika Dr. Muhammad Hasan Ditiro memproklamirkan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Gunung Halimon, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh.

Inilah permulaan pesan perlawanan Gerakan Aceh Merdeka terhadap Pemerintah Indonesia. Setelah Aceh Merdeka diproklamirkan, langsung menyulut konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka dengan Pemerintah RI. Konflik bersenjata yang memakan korban ribuan nyawa manusia dan harta benda tersebut berlangsung lebih kurang selama 30 tahun lebih.

Fase kedua setelah perjanjian perdamaian yang dikenal dengan MoU Helsinki yang disepakati GAM dengan Pemerintah RI. Peringatan Milad Gerakan Aceh Merdeka dilakukan dengan cara doa bersama, termasuk Peringatan Milad Gerakan Aceh Merdeka yang ke – 42 tahun 2018 ini, di lakukan dengan cara doa bersama dikompleks makam sang ploklamator Gerakan Aceh Merdeka di Meureu, Aceh Besar.

Pelaksanaan doa dikuburan almarhum Wali Nanggroe Teungku Hasan Tiro merupakan rangkaian acara dalam rangka menyambut milad Gerakan Aceh Merdeka ke – 42.

Beda halnya dimasa konflik bersenjata dulu, peringatan Milad Gerakan Aceh Merdeka dilakukan dalam bentuk upacara pengibaran bendera bulan bintang dan parade pasukan Gerakan Aceh Merdeka. Peringatan Milad Gerakan Aceh Merdeka tersebut juga dilakukan oleh semua wilayah hingga sagoe dalam struktur Gerakan Aceh Merdeka dari mulai komando pusat hingga desa-desa. Waktu itu kondisi diperkampungan maupun perkotaan menjadi mencekam, sehingga mengakibatkan atau berdampak kepada situasi aktivitas perekonomian masyarakat menjadi lesu dan sepi.

Seluruh mantan kombatan GAM disetiap wilayah di Aceh hingga wilayah Deli, Sumatera Utara, mentaati dan menjunjung tinggi proses damai yang telah ditandatangani pada 15 Agustus 2015 silam dengan tidak lagi mengibarkan bendera Bulan Bintang tapi hanya doa bersama mengenang para syuhada Aceh dan rekan – rekan yang telah mendahului kita semua.

Tapi sungguh memilukan bahwa pemerintah Republik Indonesia sampai saat ini terkesan masih belum ‘ikhlas’ dengan hasil damai tersebut.

Sebagai bukti bahwa pemerintah pusat tidak mematuhi dan menjunjung hasil kesepakatan perdamaian karena sampai saat ini belum disetujuinya draf qanun bendera, lambang dan hymne sebagaimana amanah MoU Helsinki. Dan banyak lagi yang belum ada realisasi isi MoU Helsinki dimaksud.

Kenapa Harus 4 Desember

Dalam Buku The Price of Freedom : The Unifinished of Diary Tgk Hasan Tiro mengutarakan “Saya sudah lama memutuskan bahwa Deklarasi Kemerdekaan Aceh Sumatera harus dilakukan pada tanggal 4 Desember dengan alasan simbolis dan historis.

Itu adalah hari dimana Belanda menembak dan membunuh Kepala Negara Aceh Sumatera, Tengku Cik Mat di Tiro dalam pertempuran di Alue Bhot, tanggal 3 Desember 1911. Belanda karenanya mencatat bahwa 4 Desember 1911 adalah hari akhir Aceh sebagai entitas yang berdaulat karena hari itu merupakan hari kemenangan Belanda atas Kerajaan Aceh Sumatera.

Milad Gerakan Aceh Merdeka 4 Desember sangatlah esensial, makna yang tersirat dikemukakan oleh Tgk Hasan Tiro kepada generasi Aceh adalah kebangkitan Aceh yang merdeka. Maka deklarasi Aceh Merdeka pada 4 Desember 1976 juga merupakan kebangkitan Aceh untuk memperoleh kemerdekaan. Sesuatu keniscayaan nantinya Aceh dapat mandiri secara politik, ekonomi dan sosial budaya. Dengan kata lain Aceh harus menjadi daerah yang bisa mengatur diri sendiri dan terbebas dari belenggu penjajahan.

Pasca damai, seyogianya momentum Milad Gerakan Aceh Merdeka dapat dijadikan spirit kebangkitan membangun Aceh lebih baik dan merata hingga kepelosok negeri. Baik ekonomi sandang dan pangan hingga pembangunan sosial budaya.

Walaupun badai konflik telah berlalu namun upaya untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan adalah upaya selanjutnya yang harus di lakukan oleh Pemerintah Aceh.

Hendaknya peringatan Milad Gerakan Aceh Merdeka pada 4 Desember bukan diartikan sebagai serimonial saja akan tetapi dapat dijadikan pesan dan semangat untuk kita semua melakukan refleksi kebangkitan Aceh pasca damai. Semoga Aceh bisa bangkit dan terwujudnya keadilan dan kesejahteraan yang merata, sehingga hasil damai benar – benar menjadi milik bangsa Aceh se-utuhnya.

Biodata Penulis :

Nama Lengkap : Baharun Bin Tgk Pakeh, SE alias Tgk Al – Fama.

1. Salah satu Representative/perwakilan GAM (juru runding GAM semasa join security committe JSC 2003.

2. Representative GAM dalam negeri ke Finland dalam rangka penandatanganan MoU Helsinski tahun 2005

3. Mantan Kabid BRA pusat di deputi dua

4. Mantan ketua penyedia barang dan jasa BRR NAS-Nias

5. S1 manajemen, Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) Banda Aceh

6. Eks – Kombatan GAM Wilayah Lhok Tapaktuan.

7. Pernah bekerja pada UNICEF sebagai tim assesment pendataan korban konflik

8. Asal Kota Fajar, Kecamatan Kluet Utara Aceh Selatan, tinggal di Banda Aceh