Oleh : Zainal Putra, S.E, M.M
Virus Corona lagi diperbincangkan di seluruh kawasan dunia. Dari semula hanya bersifat endemi, karena telah menjangkiti ribuan orang di Kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Kini virus tersebut menjadi momok yang sangat menakutkan bagi seluruh penduduk di muka bumi. Sehingga istilahnya berubah menjadi pandemi.
Sebenarnya ‘Corona’ berasal dari bahasa latin yang berarti mahkota. Diberi nama Virus Corona dikarenakan disekujur tubuh virus itu memiliki paku yang menonjol menyerupai mahkota. Dalam bahasa ilmiah tonjolan menyerupai paku tersebut merupakan ‘protein spike’. Protein inilah yang berperan sebagai reseptor yang menempel pada host atau tuan rumah.
Virus ini telah berhasil diisolasi oleh ilmuan pertama kali pada tahun 1937 atau sekitar 83 tahun lalu, yang menyebabkan penyakit bronkitis menular pada unggas. Para virolog, membedakan Virus Corona dalam empat genus: alpha coronavirus, beta coronavirus, gamma coronavirus dan delta coronavirus. Ahli virus meyakini bahwa yang menyerang manusia merupakan genus alpha dan beta. Sedangkan genus delta dan gamma cenderung menyerang hewan.
Selanjutnya karena telah menjadi wabah yang heboh sejak akhir Desember 2019, maka World Health Organization (WHO) memberi nama Covid-19. Kepanjangan dari coronavirus disease that was discovered in 2019. Artinya penyakit Virus Corona yang ditemukan pada 2019. Dikatakan bahwa virus ini memiliki kesamaan genetik 88% dengan Virus Corona dari kelelawar, sehingga dituduhlah kelelawar yang bersalah sebagai penyebab wabah Covid-19 ini.
Up date data dari https://ncov2019.live per tanggal 27-03-2020, pukul 01:53 WIB, diperoleh informasi bahwa Covid-19 telah menginfeksi sebanyak 520.584 orang di seluruh dunia. Sebanyak 23.568 orang diantaranya meninggal dunia dan sebanyak 114.528 orang dinyatakan telah berhasil sembuh seperti sedia kala. Empat besar tingkat kematian paling tinggi secara berurutan adalah Italy 8.215, Spanyol 4.145, Cina 3.287 dan Iran 2.234. Sedangkan Indonesia dari 893 orang yang terinfeksi, sebanyak 78 orang telah menghadap sang Khalik alias meninggal dunia (8,73%). Sementara itu di negara big four tingkat kematiannya sebagai berikut: Italy 10,19%, Spanyol 7,38%, Cina 4,04% dan Iran 7,60%. Terlihat bahwa persentase tingkat kematian di Indonesia akibat wabah Covid-19 ini relatif tinggi, berada pada posisi kedua di bawah Italy. Sekedar informasi bahwa wabah ini telah melanda sebanyak 190 negara dari total 195 negara di dunia.
Dampak Ekonomi Corona
Sehubungan dengan semakin parahnya wabah ini, Pemerintah China menerapkan kebijakan lockdown total di seluruh kawasannya. Berbulan-bulan penduduk China hanya berdiam diri di dalam rumah masing-masing. Akibatnya banyak perusahaan tidak beroperasi. Ekspor China mengalami keterpurukan yang luar biasa.
Hasil jajak pendapat yang dilakukan Bloomberg ke sejumlah ekonom, diprediksi ekspor China turun sebesar 16,2 persen, dan sektor impor juga turun tajam sebesar 16,1 persen (https://www.cnnindonesia.com, tanggal 07-03-2020). Nilai perdagangan antara China dan AS juga turun 40 persen dalam dua bulan pertama di 2020 dari US$42 miliar pada tahun lalu menjadi US$25,4 miliar.
Bank Pembangunan Asia (ADB) memproyeksikan kerugian ekonomi di seluruh dunia mencapai US$ 347 miliar atau setara Rp 4.962 triliun. China mengalami kerugian paling besar yakni mencapai US$ 44 miliar, lalu negara berkembang Asia lainnya sebesar US$ 16 miliar, dan negara lainnya US$ 17 miliar.
Tidak dipungkiri pula ekonomi Indonesia turut melemah akibat wabah ini. Berdasarkan data Bloomberg Kamis (26/03/2020) pukul 11.24 WIB, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berada pada posisi Rp 16.331 per dollar AS. Sedangkan dalam asumsi makro APBN 2020, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan Rp 14.400, sedangkan pertumbuhan ekonomi diproyeksikan sebesar 5,3%. Melihat situasi yang semakin gawat ini, rasanya mustahil ekonomi Indonesia bisa tumbuh di atas 5,3%. Para ekonom berani menyatakan berkisar pada angka 4%. Tak hanya menyerang tubuh manusia, Corona juga turut menyerang kegiatan perdagangan luar negeri atau kegiatan ekspor-impor. Terjadi gejala meriang yang cukup signifikan terhadap Indonesia akibat Corona. Menurut BPS ekspor Indonesia turun 11,63% dan impornya turun 49,63% (https://finance.detik.com, tanggal 16-03-2020).
Kesiapan Anggaran Bencana Indonesia dan Solusinya
Pandemi Covid-19 ini telah ditetapkan sebagai bencana nasional, yang menjadi leading sektornya adalah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dalam APBN 2020, pemerintah hanya mengalokasikan untuk program penanggulangan bencana melalui BNPB sebesar Rp 478,1 milyar dari total anggaran BNBP 2020 sebesar Rp 700,6 Miliar.
Anggaran sebesar Rp 478,1 miliar itu dirasa sangat kurang. Jika Covid-19 terus mewabah di nusantara, maka diperkirakan akan menghabiskan anggaran negara sebesar Rp 200 triliun (https://www.cnnindonesia.com, tanggal 25-03-2020). Masih terdapat kekurangan sebesar Rp 199,52 triliun.
Penulis telah berupaya mensisir APBN 2020, hasilnya diketahui terdapat alokasi belanja barang sebesar Rp 337,2 triliun. Secara detail biasanya anggaran ini dipergunakan untuk belanja perjalanan dinas, honorarium kegiatan, belanja foto kopi, belanja alat tulis kantor dan belanja bahan pakai habis lainnya. Juga dipergunakan untuk biaya pemeliharaan kenderaan dinas pejabat, seperti untuk biaya perawatan dan biaya bahan bakar minyak.
Sebenarnya anggaran ini sangat tidak efisien. Lagi pula dengan kebijakan ‘work from home’ dan penghapusan Ujian Nasional bagi siswa maka anggaran tersebut sebagian besar menjadi menganggur (idle). Maka untuk menutupi kekurangan anggaran penanggulangan bencana Covid-19, penulis menyarankan kepada pemerintah supaya tidak segan-segan melakukan realokasi anggaran APBN sebesar Rp 199,52 triliun, dari pos belanja barang digeser ke pos anggaran penanggulangan bencana. Karena komitmen menyelamatkan nyawa rakyat itu adalah lebih penting. Sekian dan terima kasih.
Penulis adalah dosen Universitas Teuku Umar yang juga staf ahli Kantor Jasa Akuntan I Putu Gede Diatmika Area Aceh. Sekarang sedang menempuh Pendidikan S3 pada Program Doktor Ilmu Manajemen, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.
Ekonomi Corona







