TheTapaktuanPost | Tapaktuan. Suasana haru menyelimuti Masjid Agung Istiqamah Tapaktuan, Sabtu (23/5/2026), saat Madrasah Ulumul Qur’an (MUQ) Aceh Selatan menggelar Tasyakuran Khataman Hafalan Al-Qur’an 30 Juz bagi 19 santri dan santriwati terbaiknya.
Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan para hafiz dan hafizah muda itu menggema penuh kekhusyukan di dalam masjid. Di tengah prosesi berlangsung, Ketua DPRK Aceh Selatan, Hj. Rema Mishul Azwa tampak tak kuasa menahan air mata.
Bukan karena kesedihan, melainkan rasa haru dan bangga menyaksikan generasi muda Aceh Selatan mampu menghafal 30 juz Al-Qur’an di usia muda. Air mata Rema jatuh perlahan ketika para santri satu per satu melantunkan hafalan mereka di hadapan tamu undangan dan wali santri.
“Sungguh luar biasa ciptaan-Mu ya Allah. Saya bangga dan terharu atas capaian santri MUQ Aceh Selatan dalam menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an. Semoga MUQ Aceh Selatan terus maju melahirkan generasi yang bertakwa dan mencintai Al-Qur’an,” ungkap Rema Mishul Azwa dengan suara bergetar.
Sebagai seorang perempuan sekaligus Ketua DPRK Aceh Selatan, ia mengaku bangga memiliki putra-putri daerah yang mampu menjaga kemuliaan Al-Qur’an melalui hafalan dan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari.
“Tak dapat dilukiskan dengan kata-kata rasa takzim kami kepada para ustaz dan ustazah yang telah mendidik serta membina para santri. Ini bukan perkara mudah, melainkan ilham dan pertolongan dari Allah SWT,” ujarnya.
Kegiatan tasyakuran berlangsung tertib dan khidmat di bawah kepemimpinan Ketua Panitia, Ustadz Muhammad Ragil Ichfa, Lc, didampingi Sekretaris Panitia Tgk. Azhar, S.H. Acara turut diisi sambutan wali santri yang diwakili Drs. H. Nasrijal.
Pimpinan Pesantren MUQ Aceh Selatan, Muhammad Ridho Agung menegaskan bahwa khataman hafalan Al-Qur’an bukan sekadar seremoni, tetapi momentum memperkuat kecintaan terhadap Al-Qur’an dan menjaga hafalan secara istiqamah sepanjang hayat.
“Menjadi penghafal Al-Qur’an adalah kemuliaan besar. Namun tantangan sebenarnya adalah bagaimana menjaga hafalan dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari,” kata Muhammad Ridho Agung.
Ia menyebutkan, seorang hafiz dan hafizah tidak boleh berhenti setelah menyelesaikan hafalan 30 juz. Menurutnya, murojaah atau mengulang hafalan merupakan tugas seumur hidup bagi para penjaga Al-Qur’an.
“Ketika telah memilih menjadi penghafal Al-Qur’an, maka murojaah adalah profesi kita seumur hidup,” tuturnya.
Ridho Agung berharap para santri terus memperbaiki akhlak, memperkuat hafalan, serta menjadi generasi Qur’ani yang mampu memberi manfaat bagi masyarakat, agama, dan bangsa.
“Anak-anak kami para hafiz dan hafizah, jangan berhenti pada hafalan semata. Jagalah, amalkan, dan jadilah pelita di tengah masyarakat,” pesannya.
MUQ Aceh Selatan sendiri terus berkomitmen melahirkan generasi hafiz dan hafizah yang berilmu, berakhlak mulia, serta mampu menjadi penerang umat sesuai nilai-nilai Al-Qur’an.
Adapun 19 santri dan santriwati yang mengikuti Tasyakuran Khataman Al-Qur’an 30 Juz Tahun 2026 yakni Teuku Syahraka Azizi, Muhammad Ali, Akhdan Arif Athaya, Hanifa Khaira Umami, Syarifah Rizky Aisyah, Hafizah, Nadira Azzahiraf NS, Ristiyul Hibah, Altifa Wafi, Dea Aprilia, Khadijatul Mutsanna, Hilwa Adzra Wina, Aurel Asyifa Nazila, Angga Syahputra, Sri Helma Hafizah, Al Ikram, Fadhilah Tazkya, Cut Diah Salsabila, dan M. Taufiq Al-Hafidh.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Syariat Islam Indra Hidayat, S.Ag., M.Ag., Ketua MPU Aceh Selatan Abon Tgk. H. Teuku Armia Ahmad, Pembina Yayasan Ulumul Qur’an Aceh Selatan H. Ahmad Ibrahim, B.A., anggota DPRK, serta para orang tua dan wali santri yang memenuhi masjid dengan suasana penuh syukur dan kebanggaan.






