Tiga Sekolah Dilanda Persoalan, M. Najur Bergerak Cepat hingga Larut Malam

TheTapaktuanPost | Trumon Timur – Tiga persoalan yang mencuat hampir bersamaan di sejumlah sekolah di Kabupaten Aceh Selatan membuat Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Aceh Selatan, M. Najur, bergerak dari satu kecamatan ke kecamatan lainnya. Tak sekadar menerima laporan di balik meja, ia memilih turun langsung menelusuri persoalan, bahkan hingga selepas salat Isya.

Persoalan tersebut meliputi polemik pengelolaan lingkungan SD Negeri Titi Poben di Kecamatan Trumon Timur, dugaan ketidaksesuaian spesifikasi proyek revitalisasi SMP Rahmatul Ibad senilai Rp1,83 miliar di Trumon Tengah, hingga insiden pembakaran material bangunan SD Negeri Ujong Pulo Cut di Bakongan Timur.

Bacaan Lainnya

Dalam dua hari, Rabu hingga Kamis (7–8/10/2026), Najur mendatangi sejumlah lokasi, menemui kepala sekolah, camat, keuchik, serta pihak terkait untuk menggali informasi dan mencari jalan keluar atas persoalan yang berkembang.

Bahkan, pada Kamis malam, ketika sebagian besar aktivitas pemerintahan telah berakhir, Najur masih mendatangi Gampong Ujong Pulo Cut untuk menelusuri insiden pembakaran material sekolah yang ditaksir menimbulkan kerugian sekitar Rp6 juta.

Gerak cepat tersebut mendapat apresiasi dari sejumlah aparatur kecamatan, pemerintah gampong, dan masyarakat. Mereka menilai kehadiran langsung pimpinan dinas menjadi langkah penting untuk mempercepat penanganan persoalan sekaligus mencegah kesalahpahaman berkembang menjadi polemik berkepanjangan.

Persoalan pertama mencuat di SD Negeri Titi Poben, Kecamatan Trumon Timur, setelah sebuah media online pada Rabu (7/10/2026) memberitakan keluhan mengenai kondisi lingkungan sekolah yang dinilai kurang terurus.

Dalam pemberitaan tersebut, Harianto, yang disebut sebagai wali murid, mempertanyakan tanggung jawab kepala sekolah dan meminta Disdikbud Aceh Selatan melakukan evaluasi apabila ditemukan kelalaian.

Namun, belakangan muncul informasi berbeda yang menyebutkan bahwa keluhan tersebut diduga berkaitan dengan persoalan pribadi, bukan aspirasi bersama para wali murid.

Merespons persoalan itu, Najur langsung mendatangi sekolah didampingi Camat Trumon Timur, Ellida Mursini B, S.Mn., dan Keuchik Titi Poben, Ismail.

Dalam kunjungan tersebut, Najur berkomunikasi dengan kepala sekolah serta menggali informasi dari pemerintah gampong untuk mengetahui duduk persoalan.

Camat Trumon Timur, Ellida Mursini, mengapresiasi respons cepat kepala dinas yang dinilainya tidak membiarkan persoalan pendidikan berlarut-larut.

“Kami sangat senang dengan respons cepat Bapak Kepala Dinas Pendidikan Aceh Selatan. Dengan respons seperti ini, riak-riak kecil di lapangan bisa segera reda dan tidak sampai menjadi ombak besar,” ujar Ellida.

Menurutnya, keterlibatan pemerintah kecamatan dan gampong dalam penanganan persoalan sekolah merupakan bentuk kolaborasi yang perlu dipertahankan.

“Kami merasa sangat dihargai karena dilibatkan dalam penanganan persoalan. Kolaborasi seperti ini harus dibudayakan. Kami siap mendukung kemajuan pendidikan di wilayah kami,” tegasnya.

Apresiasi serupa disampaikan Liswardi, warga Seuleukat.

“Sebagai masyarakat yang peduli terhadap pendidikan, kami sangat mengapresiasi sikap dan tindakan beliau. Orang-orang seperti inilah yang sangat kita butuhkan,” kata Liswardi.

Persoalan berikutnya mencuat di SMP Rahmatul Ibad, Gampong Ladang Rimba, Kecamatan Trumon Tengah.

Proyek revitalisasi sekolah senilai Rp1.832.400.000 yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026 tersebut menjadi sorotan setelah muncul pemberitaan mengenai dugaan ketidaksesuaian spesifikasi teknis dan kualitas pekerjaan.

Berdasarkan papan informasi kegiatan, proyek tersebut dilaksanakan melalui Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) dengan masa pekerjaan 180 hari kalender, mulai 30 April hingga 28 Oktober 2026.

Namun, dugaan penyimpangan tersebut dibantah pihak sekolah dan pengawas revitalisasi.

Pengawas proyek, Arizon, menegaskan bahwa seluruh pekerjaan telah mengacu pada Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan petunjuk teknis revitalisasi tahun 2026 dari kementerian.

“Sejak awal pekerjaan sampai saat ini, revitalisasi SMP Rahmatul Ibad telah mengikuti RAB yang disusun tim teknis dan petunjuk teknis dari kementerian,” kata Arizon.

Menurutnya, pekerjaan mulai dari bagian bawah hingga struktur atas bangunan telah dilaksanakan sesuai spesifikasi.

Arizon menjelaskan, setiap perubahan pekerjaan harus melalui rapat P2SP dan memperoleh persetujuan berjenjang sesuai ketentuan.

“Kalaupun ada perubahan RAB, semuanya melalui rapat P2SP dan persetujuan berjenjang sesuai juknis revitalisasi 2026,” jelasnya.

Ia menambahkan, pelaksanaan proyek juga dipantau secara berkala oleh fasilitator yang ditugaskan kementerian.

“Karena itu, kami sangat yakin pekerjaan revitalisasi tersebut telah sesuai aturan yang berlaku,” tegasnya.

Pihak sekolah dan camat setempat juga membantah dugaan penyimpangan yang berkembang dalam pemberitaan sebelumnya.
Meski demikian, kepastian kesesuaian pekerjaan dengan spesifikasi teknis tetap harus didasarkan pada dokumen perencanaan dan pemeriksaan fisik apabila diperlukan.

Menanggapi polemik tersebut, Najur juga dilaporkan mendatangi wilayah Trumon Tengah untuk menelusuri persoalan yang berkembang.

Persoalan ketiga terjadi di SD Negeri Ujong Pulo Cut, Kecamatan Bakongan Timur, Kamis (8/10/2026).

Sebanyak enam kotak material PVC dilaporkan dibakar oleh sekelompok pemuda setempat akibat dugaan kesalahpahaman. Kerugian ditaksir mencapai Rp6 juta.

Kasus tersebut disebut telah ditangani pihak kepolisian di wilayah Bakongan Timur dan diselesaikan melalui perdamaian dengan pihak sekolah. Pihak yang terlibat juga dilaporkan bersedia mengganti kerugian.

Meski demikian, Najur tetap mendatangi Gampong Ujong Pulo Cut pada Kamis malam untuk memperoleh penjelasan langsung.
Kedatangannya selepas salat Isya mengejutkan Keuchik Ujong Pulo Cut, Cut Hasyimi.

“Saya tidak menyangka Bapak Kadis akan turun ke lokasi saat itu juga. Saya sangat gembira dengan sikap beliau. Seorang kepala dinas mau turun malam-malam untuk menjumpai dan berdiskusi langsung dengan saya,” ungkap Cut Hasyimi.

Menurutnya, Najur juga memberikan nomor telepon pribadinya untuk mempermudah komunikasi apabila muncul persoalan pendidikan.

“Beliau memberikan nomor HP dan berpesan, jika ada persoalan dengan sekolah, jangan segan-segan melapor langsung kepada saya,” tuturnya.

Cut Hasyimi berharap komunikasi antara pemerintah gampong dan Disdikbud terus diperkuat agar persoalan sekolah dapat diselesaikan melalui musyawarah sebelum berkembang menjadi konflik.

Rangkaian kunjungan Najur ke tiga wilayah dalam dua hari mendapat respons positif dari aparatur pemerintahan dan masyarakat.

Namun, langkah cepat tersebut tetap perlu diikuti penyelesaian konkret, terutama terkait polemik pengelolaan SD Negeri Titi Poben, kepastian kualitas proyek revitalisasi SMP Rahmatul Ibad, serta pemenuhan kesepakatan penggantian kerugian akibat pembakaran material SD Negeri Ujong Pulo Cut.

Hingga berita ini disusun, Kepala Disdikbud Aceh Selatan, M. Najur, belum berhasil dimintai konfirmasi oleh TheTapaktuanPost. Panggilan telepon ke nomor ponselnya tidak mendapat jawaban, sementara pesan singkat melalui WhatsApp juga belum dibalas.

Redaksi tetap membuka ruang bagi M. Najur untuk memberikan penjelasan mengenai hasil kunjungan dan tindak lanjut penanganan ketiga persoalan tersebut.

Sebab, respons cepat memang layak diapresiasi. Namun, keberhasilan penanganan persoalan pendidikan tetap diukur dari penyelesaian yang nyata, transparan, dan tuntas.

Pos terkait