Hendak Menyeberang ke Tapaktuan, Ishak Daud Tewas Ditembak di Alue Nireh

  • Whatsapp
PENGAWAL ISHAK DAUD. Umar, salah seorang pengawal setia sedang berjalan di depan mengawal Panglima GAM Wilayah Peureulak, Aceh Timur, Alm. Ishak Daud. Foto : dok @acehkini/kumparan.

TheTapaktuanPost | Aceh Timur. Umar kini telah berusia 36 tahun, masih terus mengenang sosok Alm. Ishak Daud, Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Istri beliau, Cut Rostina yang telah meninggal dalam sebuah perang, 15 tahun lalu, atau tepat 8 September 2004. Umar adalah pengawal setia sang panglima.

Dia kini hidup tenang, membuka sebuah warung kopi di kawasan Idi, Kabupaten Aceh Timur. Mengenang perang terakhir bersama Abu Chik, begitu dia memanggil sosok Alm. Ishak Daud, sebuah hajatan kecil dibuat dengan lantunan doa-doa untuk almarhum dan almarhumah.

“Kemarin saya mengunjungi makam Abu Chik dan Ummi (sebutan umar untuk Alm. Ishak Daud dan Cut Rostina), selanjutnya menggelar doa di warung saya,” katanya kepada acehkini.

Perang itu, masih menyisakan luka di tubuh Umar. Sembilan butir peluru masih bersarang hingga kini di tubuhnya: di punggung, dada, ketiak hingga ujung jarinya. Sesekali rasa nyeri muncul. Peluru tak bisa dikeluarkan lagi karena berdekatan dengan saraf-sarafnya, operasi diyakini bisa membuatnya lumpuh.

Lama Umar memendam kisah itu. Tapi, saat ditemui awak media pada medio September 2007, ia baru buka suara. Inilah untuk pertama kalinya Umar bersedia buka mulut tentang kisah di balik meninggalnya Ishak Daud. “Kalau ada yang tanya saya gak mau cerita. Ini pertama kali saya cerita tentang kejadian ini. Saya cerita begini sedih,” ujarnya dengan suara tersendat-sendat.

Umar tak pernah melupakan kejadian itu: detik-detik ketika nyawanya dipertaruhkan. Ia sering mengenang pertempuran penghabisan itu dengan hati teriris. Pertempuran itu bermula saat lima orang rombongan Ishak Daud sedang menempuh perjalanan menuju Tualang.

Mereka adalah Ishak Daud, istrinya Cut Rostina, Umar, Raider, dan Abu Bakar. Hari itu, rencananya, mereka mau naik ke Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan karena Ishak Daud dipindahtugaskan ke sana. ”Kami mau jalan lewat laut menuju Jeunieb, lalu menyeberang ke Tapaktuan,” kenang Umar.

Hari naas itu, 8 September 2004, Ishak Daud bersama istri dan tiga pengawalnya sedang mengambil wuduk untuk shalat Dhuhur di pinggir kali, tak jauh dari kamp darurat mereka. Saat itu, ia hanya mengenakan baju kaos dan celana jeans. Sungai itu letaknya di lembah, dikelilingi perbukitan. Tiba-tiba, dari atas bukit ter dengar suara senjata menyalak. Ishak Daud yang berada di bibir sungai terperanjat. Ternyata, keberadaannya sudah terendus pasukan TNI.

Umar yang tidak jauh dari Ishak Daud segera tiarap sembari melepas tembakan balasan. “Abu Chik, kita harus mundur,” seru Umar.

Abu Chik adalah panggilan kehormatan pasukan GAM kepada Ishak Daud. “Tidak, ini saatnya kita bertempur habis-habisan. Ini penentuan hidup dan mati,” sergah Ishak di antara peluru yang berdesing seraya mengambil posisi menyerang.

Cut Rostina sang istri yang sedang hamil, juga tak mau lari. “Hidup dan mati saya bersama suami,” ujarnya kepada Umar. Hari itu adalah hari kelima Cut Rostina berkumpul bersama suaminya.

Tret…tret…..rentetan tembakan terus berdesing. Mereka mencari benteng perlindungan. Untungnya, tak jauh dari mereka ada pohon sawit. Di sanalah, mereka berlindung sambil melepas tembakan balasan.

Umar berusaha menarik Cut Rostina untuk berlindung di balik pohon sawit menyusul Ishak. Saat itulah, sebutir peluru merobek lengannya. Ia terlempar ke belakang sejauh dua meter. ”Saya kena,” teriak Umar spontan. Ia sempat melihat sang penembak tak jauh darinya. Sambil melepas tembakan balasan, ia sempat mengajak Ishak Daud mundur. Tapi, lagi-lagi ajakan itu ditampik. ”Jangan, hari ini kita perang,” kata Ishak.

Ibarat adegan di film laga, mereka bertempur dengan posisi saling melindungi: satu di depan, satu belakang. Umar mengambil posisi di depan. Sementara Ishak dan istrinya di belakang. Dengan tubuh berlumur darah, Umar berdiri di tempat terbuka, seraya memberondong tembakan ke arah tentara.

Umar berseru,” Neupleung droe neuh, bah lon dong (lari saja dulu, biar saya yang hadapi),” seru Umar sambil merangsek ke depan memberondong tembakan. Naas, sebutir peluru kembali terpacak di belakang tubuhnya.

”Abu Chik…., saya kena,” teriak Umar. Mendengar teriakan itu, Ishak Daud melongok dari balik pohon kelapa sawit. Saat itulah, sebutir peluru menembus dahinya. Ishak terjatuh dengan posisi telungkup. Darah segar keluar dari hidungnya. Saat itu juga, malaikat maut menjemput.

Umar lalu membuka baju dan celana Ishak. Yang tersisa hanya celana dalam. Sebelum menjauh, ia sempat menyelimutinya dengan kain hitam. Ia juga membawa lari senjata dan buku catatan Ishak. ”Saya membuka bajunya agar tentara tak mengenali beliau,” kenang Umar.

Pukul 14.30 perang mereda. Cut Rostina menyuruh Umar menyelamatkan diri, sementara ia tetap di sana, meratapi jasad sang suami. Umar sempat tak tahu nasib istri Ishak Daud, sampai akhirnya koran atau media memberitakan Rostina juga tewas dalam pertempuran itu. ”Saat kami berpisah Bunda (Rostina) masih hidup,” tutur Umar.

Dalam kondisi sembilan peluru bersarang di tubuhnya, Umar merangkak mencari perlindungan. Ia sempat pingsan. Ketika tersadar, ternyata ia berada di kandang babi, 50 meter dari lokasi pertempuran. Sadar suasana sudah sepi dan tentara sudah menjauh, dengan luka tembak di sekujur tubuh, ia merangkak ke desa terdekat. Nyawanya terselamatkan.

Tiga hari kemudian Aceh geger, setelah berita kematian Ishak muncul di media lokal. Ternyata, tentara mengenalinya. Hanya saja, tubuhnya sudah dipenuhi luka tembak.

”Sepertinya beliau ditembak lagi setelah meninggal,” duga Umar. Raider dan Abu Bakar, dua pengawal Ishak yang lain, juga ikut meninggal.

Lahir di Idi Rayeuk, Aceh Timur, 1960, Ishak pernah ditangkap TNI karena menyerang pos ABRI Masuk Desa (AMD) dan merampas 21 pucuk senjata milik TNI pada Maret 1990 di Buloh Blang Ara, Aceh Utara. Ketika itu dua tentara Indonesia dan dua bocah yang berada di dekat pos menjadi korban.

Tak lama ditahan, Ishak kabur ke Malaysia. Pada Maret 1996 ia ditangkap dalam sebuah operasi intelijen bersama Indonesia-Malaysia. Ishak lalu diserahkan polisi Malaysia ke Polisi Resor Bengkalis, Riau. Dari Riau dibawa ke Polda Aceh. Setelah ditahan lebih dari dua tahun, sidang Ishak baru digelar.

Lelaki yang tak lulus sekolah dasar itu lalu dituntut hukuman seumur hidup—meski akhirnya pada Desember 1998 ia dijatuhi hukuman 20 tahun penjara. Setahun di penjara, Ishak Daud bersama 30 tahanan politik asal Aceh mendapat amnesti dari Presiden Indonesia, B.J. Habibie. Ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Siborongborong, Tapanuli Utara, Ishak lalu bebas. Ia kembali ke asalnya, mengangkat senjata melawan Jakarta

Bagi Umar, Ishak adalah panutan. Ia sempat dua tahun menjadi pengawal Ishak Daud. Di mana ada Ishak, di sana ada Umar. Pria yang mengaku hanya sekolah sampai kelas dua SD ini, bergabung dengan GAM pada 1999. Saat itu usianya masih 17 tahun. Umar menyimpan kenangan khusus terhadap Ishak Daud.

Baginya, Ishak ibarat orang tua sendiri. Satu petuah Ishak yang selalu diingatnya: ”Si droe tanyoe, beuna manfaat keu ureung ramee (kita harus bermanfaat untuk orang ramai).”

Hingga kini, Umar masih sulit menerima kematian Ishak. Tak jarang, ia berkunjung ke kuburan Ishak Daud hanya sekadar mengenang kebersamaan mereka. ”Masak saya tidak bisa menjaga orang yang selama ini membimbing saya,” tutur Umar dengan nada sedih.

Ia sendiri tak pernah menyangka masih bisa hidup. Apalagi dengan kondisi sembilan peluru bersarang di tubuhnya. ”Ini masih bisa diraba pelurunya,” ujarnya seraya memperlihatkan bekas luka tembak di badan, punggung dan ujung jarinya.

Usai pertempuran itu, Umar sempat dua bulan melarikan diri ke Medan. Dari sana, ia melanjutkan pelarian ke Riau. Enam bulan di sana, ia sempat berobat. Tapi, biayanya na’udzubillah, mencapai Rp 2 juta sekali berobat.

Dalam kondisi tak menentu, lewat seorang penghubung, Umar bertolak ke Malaysia. Di sana, lewat bantuan UNHCR, badan PBB yang menangani urusan pengungsi, ia menjalani perawatan intensif. Beruntung, meski peluru masih bersarang di tubuhnya, nyawa Umar terselamatkan.

Saat perjanjian Damai Aceh, 15 Agustus 2005, Umar masih tergolek di rumah sakit. Lima bulan setelah damai, ia balik ke Aceh. Awalnya ia sempat tak percaya Pemerintah Indonedia dan GAM telah sepakat berdamai. ”Tapi ini rahmat dari Tuhan,” katanya.

Sampai kini, Umar masih terus memendam rindu kebersamaan bersama Ishak Daud, apalagi mengingat detik-detik menegangkan di Alue Nireh. Sebuah perang penghabisan bagi mereka. (kumparan/acehkini).