TheTapaktuanPost | Banda Aceh — Tokoh sekaligus mediator perdamaian Aceh asal Finlandia, Juha Christensen, mengingatkan semua pihak agar persoalan penggunaan bendera bulan bintang tidak mengganggu suasana perdamaian Aceh yang telah berlangsung selama 21 tahun.
Menurut Juha, bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) harus ditempatkan sebagai bagian dari sejarah perdamaian Aceh, bukan dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu.
“Merupakan pendapat dan hasil diskusi dalam perundingan Helsinki tahun 2005. Kita harus menghormati bendera GAM sebagai bagian dari sejarah. Itu yang paling penting,” kata Juha saat diwawancarai Kompas.com seusai menghadiri peringatan Hari Damai Aceh di Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026).
Namun, Juha menegaskan penggunaan simbol GAM untuk kepentingan lain yang dapat memicu ketegangan sebaiknya dihindari.
“Menggunakan bendera GAM untuk kepentingan lain, menurut saya, tidak bagus. Itu tidak baik untuk suasana,” ujarnya.
Juha juga mengingatkan seluruh pihak pada salah satu prinsip penting dalam Nota Kesepahaman (MoU) Helsinki, yakni dignity for all atau penghormatan terhadap martabat semua pihak.
“Artinya, ada pihak pemerintah pusat dan ada pihak yang mewakili GAM. Kita harus menjaga agar tidak ada hal-hal sensitif yang justru kita munculkan kembali,” tuturnya.
Perdamaian Aceh Semakin Kuat
Memasuki 21 tahun perdamaian Aceh, Juha menilai fondasi perdamaian saat ini semakin kuat. Meski demikian, menurutnya, masih terdapat sejumlah pekerjaan bersama yang perlu dilanjutkan.
“Perdamaian Aceh sudah menjadi contoh dan fondasi yang sangat luar biasa. Karena itu, harus sama-sama kita jaga,” katanya.
Ia menyebut setidaknya ada dua hal penting yang perlu terus diperkuat. Pertama, membangun kepercayaan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
“Kedua, konsolidasi dan persatuan politik di Aceh harus kuat,” ujarnya.
Juha mengakui belum seluruh butir kesepakatan perdamaian terealisasi sepenuhnya. Karena itu, ia mendorong semua pihak untuk terus mengupayakan penyelesaian berbagai agenda perdamaian secara bersama-sama.
“Tentu tidak semua butir sudah terealisasi 100 persen. Itu harus terus kita upayakan dan jaga bersama-sama supaya bisa mencapai 100 persen,” pungkasnya. []



