Cerita RR Sembuh dari Corona Setelah di Isolasi 34 Hari di RSUDYA Tapaktuan, Gagal Masuk Unsyiah Berharap di Terima di IPDN

TheTapaktuanPost | Tapaktuan. RR, seorang remaja asal Tapaktuan telah dinyatakan sembuh dari terpapar virus Covid-19 setelah menjalani perawatan dan di isolasi selama 34 di RSUDYA Tapaktuan. RR masuk ke ruang isolasi Covid-19 RSUDYA sejak 17 Juni 2020 lalu dan resmi dinyatakan sembuh serta sudah diperbolehkan pulang ke rumahnya Senin (20/7/2020) pagi.

“Alhamdulillah, lega rasanya telah dinyatakan sembuh. Sudah lama ingin pulang ke rumah berkumpul kembali dengan keluarga,” kata RR saat berbincang-bincang dengan TheTapaktuanPost via sambungan telephon pasca keluar dari rumah sakit, Senin (20/7/2020).

Bacaan Lainnya

Remaja yang baru menamatkan sekolah di salah satu SMA di Kota Tapaktuan ini, mengaku telah lama memendam rindu berkumpul kembali dengan keluarga khususnya sang ibu tercinta serta kerabat lainnya pasca di tinggal pergi oleh sang ayah tercinta untuk selama-lamanya (meninggal dunia).

Ia mengaku, setelah keluar dari rumah sakit akan bertahan di rumah yang berlokasi di salah satu gampong di Kota Tapaktuan tidak kembali dulu ke Kota Medan. Karena ingin menyelesaikan dulu pengambilan ijazah di rumah sekolahnya serta melengkapi syarat-syarat seluruh keperluan dokumen untuk mengikuti seleksi penerimaan calon praja sekolah kedinasan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) tahun 2020.

Akibat divonis terpapar Covid-19, ujar RR, telah memupuskan harapan dan cita-citanya ingin menuntut atau menimba ilmu di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh selepas tamat dari jenjang pendidikan SMA. Padahal sebelum di vonis positif Covid-19, ia bersama kawan-kawannya telah memasukkan berkas pendaftaran di perguruan tinggi ternama dan tertua di Provinsi Aceh itu.

“Untuk kuliah di Unsyiah sudah tak mungkin lagi bang, karena jadwal tes seleksinya sudah lewat saya tidak bisa ikut waktu itu. Karena masih di isolasi di rumah sakit,” ucap RR dengan nada sedih dari ujung telephon.

“Saat ini saya sedang mempersiapkan ikut seleksi penerimaan sekolah kedinasan (IPDN). Semoga pilihan kedua ini memberi keberuntungan bagi saya. Tolong do`akan ya,” tambahnya.

Saat di singgung pengalamannya selama di isolasi di RSUDYA Tapaktuan, RR bercerita bahwa ia merasakan seperti tidak ada sakit apa-apa karena memang tidak ada gejala apapun. Seperti penanganan pasien-pasien biasa lainnya, setiap jadwal yang telah ditentukan masuk tenaga medis dokter dan perawat melakukan pemeriksaan sembari membawa obat-obatan dan vitamin untuk dikonsumsi. Termasuk dilakukan pengambilan sample swab di waktu-waktu tertentu yang telah ditentukan.

Hanya saja, yang membedakan penanganannya dengan pasien-pasien biasa adalah setiap datang tenaga medis dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan, selalu memakai alat pelindung diri (APD) lengkap

“Obat-obatan yang diberikan itu diantaranya vitamin C, obat untuk meningkatkan imun tubuh serta berbagai jenis obat-obatan lainnya. Salah satunya yang masih saya ingat itu setelah saya searching di google adalah obat untuk pasien malaria,” ujarnya.

Ia mengaku, selama dalam ruangan isolasi tidak bisa keluar kemana-mana. Ia hanya istirahat (tidur), ibadah (shalat) dan searching internet baca-baca artikel persiapan ikut seleksi sekolah kedinasan menggunakan smart phone android miliknya.

“Memang sebuah kendala juga bagi pasien corona yang di isolasi di RSUDYA, karena diruangan isolasi tak dilengkapi fasilitas wifi internet dan jaringan TV. Sehingga jadinya suntuk banget,” ungkapnya, seraya berharap ke depannya seluruh fasilitas itu segera dilengkapi untuk menghilangkan rasa penat dan suntuk jika ada masuk pasien-pasien lainnya.

Kendala lainnya yang ia rasakan, lanjut RR, selama berada dalam ruang isolasi RSUDYA Tapaktuan, ia tidak pernah terkena sinar matahari. Soalnya matahari setiap harinya terbit dari sebelah timur sedangkan ruangannya berada di sebelah barat. Di ruangan itu, katanya, baru terkena matahari sekitar pukul 13.00 WIB siang, sehingga tidak mendukung lagi untuk ia berjemur karena sinar matahari sudah sangat panas.

“Saya baru bisa berjemur di bawah matahari pagi itu pada Rabu (15/7/2020) pekan lalu, karena sudah di izinkan keluar untuk berjemur di ruangan sebelah timur. Setelah berjemur badan saya terasa lumayan enak setelah 30 hari tak terkena sinar matahari pagi,” ungkapnya.

Berdasarkan pengalamannya itu, RR berpesan kepada masyarakat agar tetap mematuhi protocol kesehatan saat beraktivitas di luar rumah seperti selalu memakai masker, mencuci tangan yang bersih, perilaku hidup sehat dan bersih serta mematuhi aturan sosial distanching dan phicycal distanching.

Namun demikian, ia juga berpesan kepada masyarakat agar tidak terlalu takut berlebihan kepada virus corona karena bisa menimbulkan trauma. Menurutnya, virus corona itu bisa di lawan dengan cara memperkuat imun atau anti body tubuh diri sendiri.

Anti body itu, kata RR, akan naik atau kuat sendiri dengan adanya dukungan moril dan physicis dari keluarga, sahabat dan pihak-pihak terkait lainnya serta dari obat-obatan pendukung yang diberikan oleh pihak rumah sakit. Karena itu, RR mengucapkan terima kasih banyak kepada pihak keluarga, tim medis RSUDYA, Bupati Aceh Selatan, Tim Gugus Tugas PP Covid-19, teman-teman se-angkatan seolahnya, masyarakat dan berbagai pihak terkait yang selama ini telah memberikan support dukungan moril kepadanya selama menjalani perawatan dan isolasi di rumah sakit tersebut.

“Kita harus tetap optimis mampu melawan virus corona, sebab virus corona yang belum ditemukan vaksinnya itu InsyaALLAH akan berhasil sembuh kembali dengan cara menaikkan imun atau kekebalan tubuh diri sendiri. Jangan lupa selalu jaga kesehatan dan kebugaran tubuh, konsumsi vitamin dan makanan bergizi, rutin berolah raga dan tetap mematuhi protocol kesehatan,” tutupnya.         

Pos terkait