Aceh Selatan bisa Pantau kondisi Kesehatan Traveller Covid-19 via Aplikasi Handphone, Begini Pola Kerjanya

  • Whatsapp

TheTapaktuanPost | Tapaktuan. Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Aceh Selatan, bisa memantau perkembangan kondisi kesehatan masyarakat perantauan dari kota transmisi lokal yang pulang ke kampung halamannya di Aceh Selatan baik yang berstatus traveller, OTG maupun ODP melalui aplikasi Pantau-Covid 19 (P-Covid 19) di handphone masing-masing.

Inovasi terbaru sistem pemantauan Covid-19 berbasis website dan android ini merupakan ciptaan dosen Politeknik Aceh Selatan (Poltas), Herry Setiawan, berkolaborasi dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bersama surveilans P2P Dinkes Aceh Selatan serta dosen UTU dan AKN Meulaboh.

Sebagai tanda telah resmi dioperasionalkan, aplikasi P-Covid 19 ini resmi di launching oleh Plt. Bupati Aceh Selatan, Tgk. Amran.

Acara seremonial launching produk hasil kreatifitas dosen Poltas bekerjasama dengan IDI dan Dinkes Aceh Selatan ini, berlangsung di Ruangan Media Center Covid-19 Aula Bappeda, Tapaktuan, Jumat (24/4/2020).

Hadir pada acara ini, Istri Plt. Bupati Aceh Selatan Ny. Khailida Amran, Dandim 0107 Aceh Selatan Letkol Inf. R. Sulistya Herlambang HB,SIP, Kabag Ops Polres, Sekdakab H. Nasjuddin S.H,M.M, para asisten, Plt. Kadis Kesehatan Novi Rosmita S.E,M.Kes, Direktur Poltas Dr. M Yasar STP,M.Sc dan Ketua IDI Cabang Aceh Selatan, dr. Syah Mahdi Sp.PD.

Seusai menyaksikan langsung persentasi sistem kerja aplikasi tersebut, Plt. Bupati Aceh Selatan, Tgk. Amran sangat berbangga hati dan mengisyaratkan perasaan kekagumannya.

Atas nama pemerintah daerah dan masyarakat, ia menyampaikan ucapan terimakasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada dosen Poltas serta berbagai pihak lainnya yang telah berkontribusi merancang aplikasi pemantauan Covid-19 berbasis Web dan androin tersebut.

“Semoga aplikasi yang dirancang begitu simple dan mudah digunakan ini, dapat membantu para petugas dalam memantau dan mencegah penyebaran wabah virus corona di daerah ini. Kita berharap dan selalu memanjatkan doa kepada ALLAH SWT semoga masyarakat kita terhindar dari penyakit yang sangat berbahaya ini,” harap Tgk. Amran.

Ketua IDI Aceh Selatan, dr. Syah Mahdi Sp.PD menjelaskan bahwa, aplikasi yang diberi nama P Covid-19 itu dirancang oleh dosen Poltas, namun saat mengisi kontensnya bekerjasama dengan IDI.

“Setelah resmi di launching oleh Plt. Bupati yang juga Ketua Tim Gugus Aceh Selatan, maka saat ini telah resmi berstatus produk gugus Covid-19 Aceh Selatan,” tuturnya.

Sasarannya adalah traveller yang masuk dari area transmisi lokal ke Aceh Selatan. Setiap traveller yang masuk akan di download aplikasi P Covid-19 ini oleh petugas yang berjaga di pos pantau perbatasan.

“Kita usahakan aplikasi ini langsung di download di pos pantau perbatasan, tapi jika sinyal HP tidak memungkinkan di perbatasan akan dicari tempat untuk didirikan posko khusus disekitar lokasi terdekat dengan pos pantau perbatasan,” ujar Syah Mahdi.

Ia menyatakan, data yang telah di download nantinya langsung masuk ke dalam HP orang bersangkutan dan HP admin. Adminnya adalah yang pertama tim gugus tugas tentunya leading sektor Dinas Kesehatan dan admin yang kedua adalah pihak Puskesmas yaitu Puskesmas tempat domisili traveller dimaksud.

“Nah, nantinya akan dipantaulah perkembangan kondisi kesehatan traveller tersebut dari hari ke hari. Nantinya, traveller tersebut harus menjawab sekitar 15 pertanyaan yang referensinya kita ambil dari penelitian-penelitian tim medis luar negeri. Setelah dijawab, nantinya disesuaikan dengan nilai skor yang telah ditentukan skornya, jika skornya rendah maka cukup mengisolasi mandari di rumah dengan syarat yang bersangkutan bersedia mengupdate aplikasi itu setiap hari selama 14 hari,” papar Syah Mahdi.

Namun jika tak bersedia mengikuti prosedur tetap (Protap) karantina mandiri dirumah, lanjut Syah Mahdi, maka orang tersebut terpaksa harus dibawa ke tempat karantina yang telah disediakan oleh tim gugus tugas Pemkab Aceh Selatan di Desa Panjupian, Kota Tapaktuan.

Menurut Syah Mahdi, melalui update perkembangan kesehatan dengan aplikasi ini, petugas kesehatan Puskesmas akan selalu memantau perkembangan orang yang baru pulang dari kota transmisi tersebut. Jika kondisinya tetap sehat statusnya pun tetap traveller, tapi jika mulai ada gejala maka statusnya akan ditingkatkan menjadi ODP sehingga akan ada penanganan kesehatan yang akan dilakukan pihak Puskesmas. Yaitu terhadap ODP dan PDP ringan akan ditangani di pusat isolasi Puskesmas Sedar Samadua. Sebaliknya, jika gejala klinisnya makin berat sehingga statusnya pun berubah menjadi PDP sedang dan berat, maka orang tersebut langsung dijemput untuk dibawa ke Rumah sakit guna menjalani tindakan perawatan medis.

“Artinya bahwa, ada dasar report (laporan) melalui aplikasi P Covid-19 tersebut, dalam kita melakukan tindakan medis. Bukan cuma sekedar kontak via telephon, tetapi betul-betul terecord. Apa yang kita tanya harus dijawab secara jujur, begitulah pola kerjanya,” ucap Syah Mahdi.

Terkait adanya kekhawatiran terkait pertanyaan-pertanyaan yang diajukan nantinya tidak dijawab secara jujur, menurut Syah Mahdi, hal itu akan merugikan pasien itu sendiri. Asumsinya, jika orang tersebut tidak menjawab secara jujur padahal ada gejala klinis, maka orang tersebut akan terlambat mendapat pelayanan medis dan itu sangat berbahaya terhadap kesehatan dirinya sendiri.

Sebaliknya juga, sambung Syah Mahdi, jika dia menjawab tidak jujur misalnya tidak ada gejala namun dijawab ada gejala, maka resikonya juga akan ditanggung sendiri, sebab orang tersebut secara otomatis akan mendapatkan tindakan medis sesuai protokol kesehatan Covid-19.

“Orang tersebut akan di isoslasi diruang isolasi khusus rumah sakit padahal gejalanya tidak ada. Jadi yang dirugikan tetap dia sendiri. Makanya, saat pertama masuk di pos pantau perbatasan kita edukasi traveller tersebut agar menjawab pertanyaan secara jujur melalui aplikasi P Covid-19 nantinya agar tidak berimplikasi terhadap dirinya sendiri,” tegas Syah Mahdi.

“Intinya adalah, di ciptakan aplikasi ini untuk membantu traveller tersebut tidak perlu dikarantina ditempat yang membuatnya tidak nyaman karena harus digabung dengan banyak orang disatu lokasi. Kemudian untuk memudahkan petugas kesehatan memantau perkembangan kondisi kesehatannya tanpa harus mendatangi langsung orang tersebut,” tambah dr. Syah Mahdi Sp. PD.

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Aceh Selatan, Novi Rosmita S.E,M.Kes menyatakan, pasca launching aplikasi P Covid-19 hasil inovasi dosen Poltas ini, pihaknya segera akan melakukan sosialisasi ke seluruh jajarannya khususnya Puskesmas sehingga bisa segera diterapkan.

“Aplikasi ini sangat membantu bukan hanya dalam penanganan dan pencegahan tapi juga dalam hal pelaporan. Aplikasi ini juga sangat membantu Puskesmas dalam pemantauan ke depan. Jika nantinya pandemi Covid-19 telah berakhir, aplikasi ini masih bisa dipakai untuk memantau pasien yang memiliki riwayat penyakit kronis lainnya seperti TBC, diabetes dan lainnya yang mengharuskan selalu rutin meminum obat,” ungkap Novi.

Pos terkait