Atasi Mahalnya Harga Gas, Pemkab Aceh Selatan Diminta Bangun SPBE

TheTapaktuanPost | Tapaktuan. Pemkab Aceh Selatan diminta berinisiatif segera membangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji (SPBE) di daerah itu untuk mengatasi persoalan kelangkaan dan melonjaknya harga gas bersubsidi isi 3 Kg dipasaran.

“Pemkab Aceh Selatan diminta tidak tinggal diam menyikapi persoalan kelangkaan dan mahalnya harga gas elpiji 3 Kg yang sudah cukup lama dikeluhkan masyarakat. Salah satu solusinya segera diwujudkan rencana pembangunan SPBE di daerah ini,” kata Abdurrahman (45), salah seorang warga setempat kepada wartawan di Tapaktuan, Selasa (9/4/2019).

Menurutnya, dengan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap penggunaan LPG bersubsidi 3 Kg selama ini, dinilai sudah sangat layak dibangun satu unit SPBE di daerah itu.

Sebab selama ini, seluruh kebutuhan LPG 3 Kg di daerah tersebut harus dipasok dari SPBE Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat yang memiliki jarak tempuh cukup jauh yakni sekitar 3-4 jam perjalanan.

Abdurrahman meyakini, jika SPBE telah diwujudkan di Aceh Selatan, maka manfaat yang akan dirasakan oleh masyarakat cukup banyak. Selain sebagai solusi konkrit mengatasi persoalan kelangkaan elpiji, juga sebagai solusi untuk menekan harga elpiji sehingga mampu di jangkau masyarakat miskin.

“Jika harga elpiji selama ini mencapai Rp 30.000 – Rp. 35.000/tabung isi 3 Kg. Maka jika sudah ada SPBE harganya bisa turun sekitar Rp 16.000-Rp. 18.000/tabung,” ungkap Abdurrahman.

Demikian juga, lanjutnya, terkait pasokan gas ke masyarakat juga akan lebih cepat. Jika selama ini baru sampai ke Aceh Selatan dari Meulaboh pukul 03.00 WIB dinihari, maka ke depannya sekitar pukul 16.00 WIB sore, masyarakat sudah bisa membawa pulang gas ke rumahnya masing-masing.

Bahkan, jika dilihat dari aspek letak geografis, pembangunan SPBE di Kabupaten Aceh Selatan juga dinilai sangat strategis. Sebab, Aceh Selatan persis berada di tengah-tengah yang bisa mengcover tiga kabupaten/kota yakni Aceh Singkil, Pemko Subulussalam dan Aceh Barat Daya (Abdya).

“Atas dasar itu, pembangunan SPBE di Aceh Selatan dinilai sudah sangat tepat dan mendesak. Kami meminta kepada Pemkab Aceh Selatan segera memprogramkannya pada tahun 2020 mendatang. Dari modal yang dibutuhkan sekitar Rp. 25 miliar, dipastikan akan memberi kontribusi PAD untuk daerah setiap bulannya sekitar Rp. 180 juta atau Rp 1,8 miliar per tahun,” pungkasnya.

Tak Ada Penambahan Kuota

Sementara itu, Kabag Ekonomi Setdakab Aceh Selatan, Fujianto S.STP yang dimintai tanggapannya terkait hal itu mengatakan, pihaknya sangat mendukung usulan dibangunnya SPBE di daerah itu.

“Kita sangat mendukung dan siap membantunya. Tapi perlu diketahui bahwa, meskipun telah dibangun SPBE kuota tabung gas LPG 3 Kg tetap tidak berubah melainkan tetap sama, karena jatah kuota itu langsung ditentukan oleh PT. Pertamina Pusat,” ujarnya.

Meskipun demikian, keberadaan SPBE di Aceh Selatan tetap memberi dampak positif yang luar biasa besar terhadap masyarakat selaku konsumen. Salah satu dampak nyata, kata Fujianto, Harga Eceran Tertinggi (HET) LPG 3 Kg langsung dapat diturunkan dikisaran harga Rp. 20.000/tabung. Disamping itu, suplai gas ke masyarakat juga makin cepat dari biasanya.

“Manfaat yang luar biasa terhadap masyarakat itu sudah pasti harga HET-nya turun. Karena penentuan HET oleh Pemkab Aceh Selatan berdasarkan pertimbangan jarak tempuh dari SPBE yang selama ini di Meulaboh, Aceh Barat,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Fujianto juga menyatakan bahwa meskipun secara aturan tidak melarang Pemda mengalokasikan penyertaan modal untuk pembangunan SPBE tersebut, tapi pihaknya belum pernah melihat atau menemukan ada Pemda di Indonesia terlibat langsung dalam pembangunan SPBE dimaksud.

“Kami belum pernah menemukan Pemda langsung terlibat. Sebab lazimnya, pembangunan SPBE tersebut ditangani oleh pihak ketiga sama persis seperti pembangunan SPBU yang langsung dikelola oleh pihak ketiga,” pungkasnya.