Tingginya harga daging kerbau dan sapi saat meugang di daerah penghasil pala itu mendapat tanggapan beragam dikalangan masyarakat setempat. Bahkan, harga tersebut dinilai terlalu tinggi dibandingkan dengan daerah lainnya.
Kendati harga daging tembus Rp. 200 ribu/Kg, konsumen tetap membeli untuk persiapan hari makan-makan pada Minggu (5/5) dan memasuki bulan puasa pada Senin (6/5) keesokan harinya.
Namun sebagian konsumen yang telah jeli dengan situasi pasar seperti itu, memilih membeli daging pada pagi dan siang harinya.
Sebagaimana pemantauan wartawan di Pasar Inpres Tapaktuan, pada Sabtu (4/5) siang, harga daging yang semalam tembus Rp.200 ribu/Kg sudah mulai turun Rp. 170.000 /Kg.
Sejumlah pedagang mengatakan, tingginya harga daging karena dipicu tingginya harga beli hewan ternak di pasaran luar daerah.
“Satu ekor kerbau dengan isi total daging 100 kilogram lebih dibeli agen seharga puluhan juta rupiah,” ungkap Rahmad, salah seorang pedagang daging di Pasar Inpres.
Terkait tingginya harga daging mencapai Rp 200 ribu/Kg, dibantah Kepala Bidang (Kabid) Disdagperinkop dan UKM Aceh Selatan Saiful Rahman SE.
Ia mengaku sejak Jum’at malam telah memantau harga daging sejumlah kecamatan dalam Kabupaten Aceh Selatan.
“Tidak benar harga daging Rp 200 ribu/Kg, karena setelah saya tanyakan kepada pedagang rata – rata harga jual daging kerbau dan sapi Rp. 190 ribu/Kg,” kilahnya.



