oleh

Aceh Selatan Usulkan Program Budidaya Udang Vaname ke KKP, Nilai Investasi Capai ratusan Miliar

TheTapaktuanPost | Pasie Raja. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh Selatan, Dzumairi S.Pi,M.T, mengatakan, dari sejumlah program yang diusulkan Pemkab Aceh Selatan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan telah ditindaklanjuti dengan peninjauan lapangan, salah satunya adalah pengembangan budidaya udang vaname, sebagai upaya menyukseskan program ketahanan pangan yang di canangkan Presiden RI Joko Widodo.

Bahkan, dalam serangkaian kegiatan peninjauan sarana dan prasarana kelautan dan perikanan di Aceh Selatan, Koordinator Penasihat Menteri KKP, Prof. Rokhmin Dahuri bersama beberapa direktur jenderal (Dirjen), telah meninjau lokasi rencana pengembangan budidaya udang vaname di Pasie Asahan, Kecamatan Pasie Raja seluas 20 hektar lebih.

“Dinilai strategisnya daerah ini dikembangkan budidaya udang vaname, karena di Aceh Selatan banyak tersedia lahan yang tidak termanfaatkan terutama lahan-lahan di pinggir pantai. Padahal saat ini ada tekhnologi yang bisa memelihara udang vaname di atas lahan yang marginal itu,” kata Dzumairi disela-sela mendampingi pejabat tinggi KKP meninjau lokasi, Kamis (12/11/2020).

Menurutnya, lahan yang termarginal itu adalah lahan pasir dan lahan yang sedikit terendam air yang notabenenya lahan-lahan seperti ini cukup banyak tersedia di Kabupaten Aceh Selatan. Itu sebabnya, lanjut Dzumairi, dalam presentasinya dihadapan pejabat tinggi KKP pihaknya menjadikan program pengembangan budidaya udang vaname menjadi usulan program prioritas.

“Kita ingin menjadikan lahan-lahan yang terlantar di sepanjang pinggir pantai di Aceh Selatan menjadi lahan produktif untuk dikembangkan budidaya udang vaname. Karena sangat potensial dikembangkan di daerah ini,” ungkapnya.

Bak gayung bersambut, dalam paparan presentasinya di Aula Pendopo Bupati sebelum peninjauan lokasi, Prof. Rokhmin Dahuri pun juga mengatakan bahwa dulu teori-teori di sekolah pernah disebutkan bahwa pengembangan budidaya udang kultur tanahnya harus ditentukan dan lahan pasir tidak layak untuk dikembangkan budidaya udang vaname. Tapi kondisi sekarang ini justru sebaliknya, lahan pasir pun sangat layak dan potensial dikembangkan budidaya udang vaname.

“Artinya bahwa, kalau dulu dianggap daerah pesisir pantai kita tidak layak budidaya udang karena lahan yang tersedia di daerah kita merupakan lahan termarginalkan, maka sekarang ini anggapan itu tidak berlaku laku. Karena sudah bisa kita lakukan perubahan tekhnologi dengan tekhnik-tekhnik atau cara – cara tertentu,” tegas Dzumairi.

Selain lahan yang tersedia cukup mudah di dapatkan di Aceh Selatan, budidaya udang vaname ini juga sangat menjanjikan bagi kesejahteraan masyarakat. Sebab komoditi udang vaname ini merupakan komoditas ekspor dengan harga jual bisa mencapai Rp. 100 ribu per kilogramnya. Bahkan, dalam masa sekali pemeliharaan, panennya bisa mencapai sebanyak lima kali.

“Diwaktu-waktu tertentu harganya itu bisa mencapai Rp. 100 ribu/kg. Tapi rata-rata harga jualnya itu tidak kurang dari Rp. 70.000/kg. Dalam sekali pemeliharaan bisa panen sebanyak lima kali,” sebutnya.

Memang ia mengakui bahwa, cara budidaya udang vaname ini tergolong rumit bagi masyarakat pemula. Tapi masyarakat tidak usah khawatir, Pemkab Aceh Selatan melalui Dinas Kelautan dan Perikanan siap memfasilitasinya. Sebab sekarang ini, sudah banyak distributor-distributor pakan yang selalu stanby menyediakan tekhnisinya yang siap menstransfer ilmu kepada masyarakat yang serius membudidayakan udang vaname. “Jika ada modal dan yakin usaha ini akan berhasil, maka InsyaALLAH kami siap membantu memfasilitasinya. Segalanya akan kita permudah. Meskipun bantuan yang akan disalurkan oleh pemerintah daerah tetap ada, tapi kan terbatas. Makanya kita siap memfasilitasi dengan pihak-pihak tekhnisi yang memiliki keahlian khusus,” ujar Dzumairi.  

Demikian juga terkait nilai investasi untuk pengembangan budidaya udang vaname ini tergolong besar yaitu 1 hektar mencapai Rp. 1,2 miliar. Tapi, dalam dua kali siklus budidaya dengan system budidaya yang bagus, modal yang dikeluarkan itu dipastikan bisa langsung lunas.

Meskipun butuh biaya besar, pihaknya tetap mendorong masyarakat untuk mencobanya terlebih dahulu. Sebab, untuk pengembangan budidaya udang vaname ini ada program kucuran modal usaha dari kementerian kelautan dan perikanan dengan bunga hanya 3 persen per tahun yang tergolong sangat murah. Jika masyarakat sudah memahami cara budidaya udang vaname ini, maka bisa mengusulkan pinjaman kredit ke kementerian melalui Badan Layanan Umum (BLU) KKP dengan besaran kredit yang akan keluar bisa mencapai Rp. 5 miliar lebih, dengan tetap melampirkan anggunan tertentu sesuai aturan yang ditetapkan.

Menurutnya, ada 3 skema program budidaya udang vaname yang akan dikembangkan di Aceh Selatan yaitu melalui penyaluran bantuan dari KKP yang akan disalurkan melalui koperasi atau kelompok, melalui modal kredit dari KKP dan terakhir dengan cara melobi investor yang berminat menanamkan investasinya di Aceh Selatan.

“Tapi, pesan pak Prof. Rokhmin Dahuri tadi, kalau bisa para investor yang akan menanamkan modalnya itu harus berasal dari orang-orang kaya yang ada di Aceh Selatan sendiri, sebab usaha ini betul-betul sangat menjanjikan sekarang ini. Terbukti banyak di daerah-daerah lain di Indonesia sudah berhasil,” ungkapnya.

News Feed