Kemandirian Pangan, Harga Diri Bangsa: Pesan Kuat Bupati Mirwan Dukung Program Prabowo

TheTapaktuanPost | Kluet Timur. Di tengah ketidakpastian geopolitik global yang kian terasa, mulai dari krisis pangan, krisis energi, hingga dampak perubahan iklim dan gejolak ekonomi dunia, menjadi kegelisahan nyata yang kini disuarakan dari daerah, salah satunya oleh Bupati Aceh Selatan, H. Mirwan MS.

Bupati Mirwan menegaskan bahwa kemandirian pangan bukan sekadar isu teknis di sektor pertanian, melainkan menyangkut martabat dan kedaulatan bangsa.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, kemandirian pangan merupakan pilar utama dalam menjaga kedaulatan negara, sejalan dengan arah kebijakan Presiden RI Prabowo Subianto yang mendorong swasembada sebagai fondasi masa depan Indonesia.

“Bangsa yang merdeka harus mampu memberi makan rakyatnya dari hasil tanahnya sendiri,” kata Bupati Mirwan disela-sela Panen Raya Padi di Kluet Timur, Kamis (2/4/2026).

Bupati Mirwan menggambarkan pentingnya kembali pada kekuatan dasar bangsa, yakni tanah dan sumber daya alam yang selama ini menjadi penopang kehidupan masyarakat.

Karena itu, Bupati Mirwan mengajak publik untuk memperhatikan kembali realitas di lapangan, sawah yang mulai ditinggalkan, lahan pertanian yang beralih fungsi, serta generasi muda yang kian menjauh dari sektor agraris.

Menurut Bupati Aceh Selatan ini, secara historis, Indonesia dikenal sebagai negeri yang subur. Tanah yang ditanami akan tumbuh, dan yang dirawat akan berbuah. Namun ironi muncul ketika di tengah kekayaan tersebut, ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar masih terjadi.

Mirwan menilai, persoalan ini tidak semata soal produksi, tetapi juga menyangkut kesadaran kolektif yang mulai melemah. Ketergantungan terhadap pasar luar dinilai telah menggeser nilai-nilai kearifan lokal, termasuk semangat gotong royong yang selama ini menjadi fondasi masyarakat agraris.

“Kita tidak boleh kehilangan jati diri sebagai bangsa yang besar karena tanahnya. Kemandirian pangan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya keberpihakan kebijakan terhadap petani. Mulai dari akses terhadap pupuk, teknologi, hingga jaminan pasar yang adil. Selain itu, perlindungan terhadap lahan pertanian dari alih fungsi yang tidak terkendali menjadi hal krusial dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan.

Di sisi lain, Mirwan mengakui bahwa mewujudkan kemandirian pangan bukan perkara mudah. Dibutuhkan komitmen lintas sektor, keberanian dalam memperbaiki sistem, serta kejujuran dalam merumuskan kebijakan agar benar-benar berpihak kepada rakyat.

Meski demikian, ia tetap optimistis. Harapan, kata dia, masih tumbuh di setiap jengkal tanah yang terus digarap oleh petani, di tengah berbagai keterbatasan yang ada. Aceh Selatan diyakini memiliki potensi besar untuk tidak hanya memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, tetapi juga menjadi daerah penopang bagi wilayah lain.

Lebih jauh, Mirwan berharap kemandirian pangan dapat menjadi bagian nyata dari makna kemerdekaan yang selama ini diperingati setiap tahun. Bahwa tidak ada lagi masyarakat yang mengalami kelaparan di negeri yang kaya akan sumber daya alam.

“Ini bukan hanya soal pangan, tetapi soal kesadaran kita sebagai bangsa. Kita harus kembali percaya pada kekuatan sendiri,” ujarnya.

Dari Aceh Selatan, suara itu kini menggema bahwa dari tanah sendiri, bangsa ini harus mampu berdiri, bertahan, dan memberi makan seluruh rakyat tanpa bergantung pada pihak luar.

Pos terkait