oleh

Satreskrim Polres Aceh Selatan Tahan Oknum PNS KPLP Tapaktuan

TheTapaktuanPost | Tapaktuan. Penyidik Satreskrim Polres Aceh Selatan menetapkan tersangka dan menahan salah seorang oknum petugas Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Tapaktuan, inisial RC (35), karena diduga telah melakukan tindak pidana penganiayaan terhadap seorang anak cacat mental sejak lahir (disabilitas) inisial DP (27).

Kapolres Aceh Selatan AKBP Ardanto Nugroho S.I.K,S.H,M.H melalui Kasatreskrim Iptu Bima Nugraha Putra S.I.K mengatakan, proses hukum terhadap oknum petugas KPLP Tapaktuan tersebut dilakukan menindaklanjuti Laporan Polisi Nomor : LP-B/46/XII/RES.6./2020/POLDA ACEH/RESASEL/SPKT yang diadukan oleh orang tua korban pada 8 Desember 2020.

“Setelah menjalani serangkaian proses pemeriksaan secara intensif dan gelar perkara, akhirnya penyidik memutuskan meningkatkan proses pengusutan kasus ini ke tahap penyidikan dengan menetapkan status tersangka terhadap pelaku dan langsung menahannya,” kata Iptu Bima Nugraha Putra kepada wartawan Rabu (9/12/2020).

Menurutnya, status tersangka terhadap pelaku di tetapkan pada Rabu pagi sekitar pukul 10.00 WIB dan pelaku resmi di tahan di sel Mapolres Aceh Selatan sekitar pukul 16.00 WIB sore.

Kasus dugaan tindak pidana penganiayaan terhadap korban yang merupakan anak yang mengalami cacat mental (disabilitas) yang dilakukan oleh oknum PNS KPLP Tapaktuan inisial RC ini, terjadi pada Senin 7 Desember 2020 sekitar pukul 20.30 WIB bertempat di Halaman Masjid depan BRI Unit Gampong Lhok Bengkuang, Kota Tapaktuan.

Dugaan penganiayaan dilakukan dengan cara memukul menggunakan kepalan tangan kanan dan kiri ke arah wajah bagian pipi kanan dan kiri korban. Serta arah dagu serta menendang menggunakan kaki kanan yang mengakibatkan korban mengalami luka memar dibagian pipi kanan dan kiri. Bahkan, satu gigi seri bagian bawah korban mengalami goyang atau hampir terlepas serta mengeluarkan darah.

“Korban juga mengalami rasa sakit dan nyeri dibagian ulu hati termasuk dalam perut serta luka goresan dibagian lutut sebagaimana hasil Visum et repertum dari pihak medis Nomor: 145/5721/SKV/KUCS/2020 tanggal 8 Desember 2020,” ungkap Iptu Bima.

Merasa keberatan dan tidak dapat menerima atas perlakuan pelaku, kemudian ibu korban bernama Nurlina (52) melaporkan kejadian tersebut ke Polres Aceh Selatan untuk dilakukan proses penyidikan sampai ke penuntutan.

Sementara berdasarkan pengakuan pelaku kepada penyidik polisi, ujar Kasatreskrim, alasan atau modus operandinya melakukan penganiayaan terhadap korban karena pelaku menduga korban telah menyentuh alat kelamin anak laki-lakinya yang masih berusia 8 tahun.

Atas perbuatannya, kata Kasatreskrim, pelaku dijerat dengan pasal 351 KUHP tentang perbuatan penganiayaan dengan ancaman hukuman 2 tahun 8 bulan penjara. [] Naidy Beurawe  

News Feed