TheTapaktuanPost | Tapaktuan. Akademisi tiga Perguruan Tinggi ternama di negara jiran Malaysia tertarik mengembangkan berbagai sumber daya alam sektor pertanian di Kabupaten Aceh Selatan.
Sebagai langkah awal, sebanyak sembilan orang akademisi dari University Putra Malaysia (UPM), University Kebangsaan Malaysia (UKM) dan Institut Penyelidikan dan Kemajuan Pertanian Malaysia berkunjung ke Kabupaten Aceh Selatan, Rabu (24/7/2019).
Kedatangan rombongan akademisi Malaysia terdiri dari Prof. Muhammad Osman, H. Zulkifli, Puan Suhana, Puan Umi Kalsum, Encik Rosli, H. Sahril, Encik Zainal, Puan Zaihan dan Syaza Syazwani tersebut di sambut oleh Sekdakab Aceh Selatan, H. Nasjuddin S.H,MM di ruang rapat Kantor Bupati Aceh Selatan.
Pertemuan perdana dalam rangka menjalin silaturahmi sembari berbagi pengalaman serta pemberdayaan bidang pertanian tersebut turut dihadiri asisten II Setdakab H. Zaini Bakri S.Sos,MM, Kadis Pertanian Yulizar SP,MM, Kadis PMG Emmifizal SP, para camat se-Aceh Selatan, tenaga penyuluh pertanian bersama Kepala Balai Penyuluh Pertanian (BPP).
Kadis Pertanian Aceh Selatan, Yulizar SP,MM saat memaparkan potensi daerah menyatakan bahwa luas Aceh Selatan ± 4.005,10 km2 dengan jumlah penduduk ± 193.545 jiwa terdiri dari 18 kecamatan, 43 mukim dan 260 desa. Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian di sektor pertanian/perkebunan mencapai 80 % dan usaha-usaha lainnya sekitar 20 %.
“Aceh Selatan berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian RI Nomor : 18/Permentan/RC.040/4/2018 tentang pedoman pengembangan kawasan pertanian berbasis korporasi petani telah ditetapkan sebagai kawasan pengembangan pertanian untuk komoditi padi, jagung dan pala,” sebut Yulizar.
Aceh Selatan memiliki potensi sektor pertanian masing-masing lahan sawah seluas 7.816,59 Ha, lahan perkebunan seluas 38.420 Ha, lahan padang pengembalaan seluas 786 Ha, lahan kering seluas 86.461,4 Ha, alsintan sebanyak 901 unit dan jumlah kelompok tani sebanyak 1.451.
Pada tahun 2017, lanjut Yulizar, realisasi tanam padi di Aceh Selatan mencapai 14.445 Ha, dengan produksi gabah mencapai 77.920,30 ton. Sedangkan pada tahun 2018 terus mengalami peningkatan realisasi luas tanam padi yakni telah mencapai 14.988 Ha, dengan produksi gabah mencapai 88.873,90 ton.
Demikian juga terhadap komoditi jagung. Pada tahun 2018 luas tanam telah mencapai 5.562 Ha, dengan jumlah produksi mencapai 32.823,50 ton. Sedangkan komoditi pala, luas tanam pada tahun 2018 mencapai 16.941 Ha dengan jumlah produksi sekitar 5.251 ton.
Menurutnya, permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan komoditi padi di Aceh Selatan antara lain karena pola tanam padi belum dapat dilaksanakan secara serentak. Hal ini disebabkan karena terbatasnya alat pengolahan lahan (traktor/handtraktor), terbatasnya jaringan irigasi dan sebagian saluran irigasi yang ada mengalami kerusakan akibat terjadinya bencana alam banjir.
Selain itu, juga disebabkan karena faktor masih rendahnya produktivitas padi (5,51 ton/hektar tahun 2018). Masih terbatasnya pemakaian bibit padi unggul oleh petani karena bantuan benih padi dari pemerintah sering tidak tepat waktu antara lain akibat proses lelang pengadaan barang.
Meningkatnya alih fungsi lahan pertanian terutama lahan sawah menjadi lahan non-pertanian seperti untuk pabrik industri, perumahan, jasa dan sarana olah raga. Terbatasnya modal usaha para petani sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan sarana produksi seperti pupuk dan pestisida dan masih terbatasnya petugas penyuluh pertanian.
“Bahkan sekarang ini masih ada juga ditemukan pemahaman kepercayaan masyarakat petani kepada tokoh-tokoh adat (keunonong) dalam menentukan jadwal turun ke sawah. Sebagian lainnya ada juga faktor masih bersifat subsistem dalam mengelola padi atau hanya memenuhi kebutuhan beras untuk keluarga saja (non bisnis),” ungkap Yulizar.
Demikian juga terhadap komoditi jagung. Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangannya antara lain masih rendahnya produktivitas jagung (5,90 ton/Ha). Terbatasnya modal usaha petani jagung, sehingga terbatas akses terhadap sarana produksi seperti benih, pupuk dan obat-obatan.
Sebagian petani jagung ada yang sangat bergantung pada tengkulak/pemberi modal akibatnya nilai tawar petani jagung rendah. Masih terbatasnya bantuan pemerintah terhadap para petani jagung, karena bantuan selama ini hanya mampu disalurkan dalam bentuk benih tidak dilengkapi dengan sarana produksi lainnya seperti mesin pertanian petani jagung.
Sedangkan terhadap komoditi tanaman pala, permasalahan yang dihadapi dalam pengembangannya antara lain disebabkan karena sebahagian besar tanaman pala milik petani di Aceh Selatan sekarang ini diserang hama penyakit jamur akar putih dan hama penggerek batang sehingga populasi tanaman pala sekarang ini jauh menurun dibandingkan 20-30 tahun silam.
Kemudian faktor lainnya karena produktivitas pala juga makin berkurang, tata niaga minyak pala masih dikuasai oleh kartel yang berdomisili di Medan sehingga nilai tawar tingkat petani sangat rendah dan kemauan petani untuk mengendalikan hama serta penyakit tanaman pala lainnya sebahagian besar masih rendah karena terbatasnya kemampuan modal usaha dan sumber daya manusia.
Terkait serangan hama, jelas Yulizar, dimulai sekitar tahun 1999. Gejala pertama daun tanaman pala layu mendadak, berlangsung selama 1-2 minggu. Kemudian tanaman pala mati. Pangkal batangnya berwarna coklat kehitaman, bila pangkal batang dibelah terlihat kambiun berwarna kecoklatan jika akar dibongkar maka akan terliat miselia jamur berwarna putih.
Gelaja kedua, lanjut Yulizar, tanaman pala tumbuh meranggas, daun berwarna kekuningan. Jika kulit batangnya dikelupas terlihat kambium berwarna coklat kehitaman, tetapi jika serangan sudah lama maka pada pangkal batang terlihat jamur berwarna putih.
“Sedangkan untuk hama penggerek batang, berdasarkan hasil amatan secara visual gejala kerusakan oleh hama adalah batang pala digerek membentuk bulatan seperti dibor dan menghasilkan serbuk yang menempel disekitar lubang. Selain batang, cabang pala juga digerek namun tidak separah gerekan dibatang,” ungkapnya.
Pemantauan wartawan, setelah selesai pertemuan dan pemaparan potensi sumber daya alam sektor pertanian di aula rapat Kantor Bupati Aceh Selatan, rombongan akademisi dari tiga perguruan tinggi Malaysia, didampingi pejabat dari dinas terkait turun ke lapangan meninjau langsung sejumlah potensi pertanian di daerah itu.