Pengendalian Diri

  • Whatsapp

Oleh: Zainal Putra, S.E., M.M.

SECARA definisi yang dimaksud pengendalian diri adalah menahan diri dari segala perilaku yang dapat merugikan diri sendiri dan juga orang lain, seperti sifat amarah, serakah atau tamak.

Bacaan Lainnya

Banyak fenomena yang terjadi dalam kehidupan nyata yang membuat kita terkadang sulit untuk mengendalikan diri. Ketika tiba di situasi yang demikian, maka adakalanya timbul sikap serakah, tamak, rasa kesal dan amarah dalam diri kita. Dampak dari serakah atau tamak yang kita lakukan, tentu akan merugikan pihak lain. Sedangkan luapan emosi akibat kesal dan amarah tersebut bisa saja ditumpahkan kepada siapa saja yang kita temui di lingkungan terdekat.

Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah, dalam HR Bukhari dan Muslim, pernah  bersabda, “Orang yang perkasa bukanlah orang yang menang dalam perkelahian, tetapi orang yang perkasa adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah”.

Abu Dzar Al-Ghifari merupakan sahabat Nabi yang sangat lemah dalam pengendalian diri. Tipikalnya bertemperamen tinggi dan sangat mudah tersinggung. Abu Dzar ini dapat dikatakan sangat lemah dalam dimensi pengelolaan amarahnya. Sampai-sampai pada suatu ketika Nabi Muhammad SAW pernah menegurnya. Begini kisahnya.

Para sahabat berkumpul dalam satu majelis, sementara Rasulullah SAW tidak bersama mereka. Hadir dalam majelis itu antara lain Khalid bin Walid, Abdurrahman bin Auf, Bilal, dan Abu Dzar.

Dalam sidang majelis tersebut Abu Dzar berbicara dan menyampaikan sebuah usulan, “Aku mengusulkan agar pasukan diperlakukan demikian dan demikian”.  Lalu Bilal menimpali,  “Tidak, itu adalah usulan yang salah”.  Lantas Abu Dzar berkata, “Beraninya kamu menyalahkanku, wahai anak wanita berkulit hitam, bercerminlah engkau. Lihatlah siapa dirimu sebenarnya?”

Setelah itu Bilal mengadu penghinaan Abu Dzar kepada Rasullullah SAW. Kemudian Nabi menegur Abu Dzar dengan bersabda, “Wahai Abu Dzar, engkau telah menghinakannya dengan merendahkan ibunya. Di dalam dirimu terdapat sifat jahiliyah.” (HR. Bukhari). Namun dengan jiwa besarnya, kemudian Abu Dzar telah meminta maaf kepada Bilal dan Bilalpun telah memaafkannya.

Dalam menjalani kehidupan ini, setiap orang tentu saja ingin sukses sesuai dengan bidang masing-masing. Ada orang ingin sukses dalam bisnis. Ada orang yang ingin sukses dalam karir. Juga tidak kalah penting adalah, ada orang yang ingin sukses dalam membina rumah tangga.

Berdasarkan hasil penelitian, untuk meraih kesuksesan ternyata tidak hanya ditopang oleh kecerdasan intelektual semata. Akan tetapi yang paling penting adalah pengendalian diri yang baik, yang oleh Daniel Goleman disebut sebagai kecerdasan emosi.

Daniel Goleman dalam Buku Kecerdasan Emosional, mengatakan bahwa pengendalian diri sangat berkaitan dengan kesuksesan seseorang. Dalam bukunya, Daniel Goleman membeberkan sebuah hasil penelitian yang dilakukan oleh psikolog Walter Mischel dari Stanford University, yang kemudian dikenal dengan tes marshmallow.

Mischel mengundang anak-anak berusia empat tahun masuk satu per satu ke ruang bermain di Bing Nursery School di Kampus Stanford. Di ruangan itu, mereka diperlihatkan sebuah baki berisi permen marshmallow dan beberapa sajian enak lainnya. Lantas kepada anak-anak tersebut diminta memilih satu yang mereka sukai. 

Namun pada saat itu juga Mischel memberitahu anak-anak, “Permenmu bisa dimakan sekarang kalau kau mau. Tapi, kalau kau tidak makan permen itu sampai aku kembali dari mengerjakan tugas, kau bisa mendapatkan dua lagi saat itu”. Pengendalian diri adalah pencapaian besar bagi seorang anak umur empat tahun di bawah kondisi yang begitu sulit.

Hasilnya adalah sekitar sepertiga langsung memakan permen itu. Sedangkan sepertiga lainnya menunggu selama lima belas menit yang terasa bagaikan tanpa akhir sampai mereka dihadiahi dua permen lagi. Yang paling penting di sini adalah mereka yang berhasil melawan godaan memiliki skor lebih tinggi dalam pengukuran pengendalian diri, artinya pengendalian diri mereka sangat baik. Sedangkan bagi mereka yang tidak mampu menahan godaan diberi skor rendah, artinya pengendalian diri mereka sangat buruk.     

Tiga puluh tahun kemudian dilacak kembali keberadaan anak-anak tersebut. Hasilnya membuktikan bahwa semakin baik kendali diri mereka saat anak-anak, semakin baik pula kondisi anak itu pada usia tiga puluh tahun. Mereka memiliki kesehatan yang mantap, lebih sukses secara finansial dan merupakan warga yang taat hukum.

Sebaliknya, semakin buruk pengendalian diri mereka pada masa kanak-kanak, semakin sedikit penghasilan mereka, semakin tidak begitu baik kondisi kesehatan mereka, dan semakin besar pula peluang mereka memiliki catatan kriminal.

Kejutan besarnya, berdasarkan analisis statistik menemukan bahwa semakin baik tingkat pengendalian diri seseorang, diperkirakan tingkat keberhasilan seseorang semakin tinggi, baik kesuksesan finansial maupun kesehatannya.   

Jadi untuk mencapai kesuksesan atau keberhasilan, kita dituntut untuk memiliki kompetensi hidup berupa pengendalian diri. Latihlah diri Anda dari sekarang dalam pengendalian diri, demi mencapai puncak karir yang gemilang. Wassalam.

Zainal Putra, S.E., M.M. adalah Manajer Kantor Akuntan I Putu Gede Diatmika Perwakilan Aceh dan CEO PT Putra Human Capital Learning Consultant.

Pos terkait