Warga Meukek Keluhkan Jaringan Telkomsel Padam Total Selama Dua Pekan

TheTapaktuanPost | Meukek. Bobroknya layanan Telkomsel dikeluhkan oleh ribuan masyarakat Kecamatan Meukek, Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh. Warga setempat mengaku sudah selama dua pekan lebih mengalami hambatan berkomunikasi ke luar termasuk tak bisa mengakses informasi. Juga dihadapkan dengan persoalan “Black Out” arus PLN makin komplit membawa kembali historis kehidupan ke zaman 80-an.

Akibatnya, warga setempat mengaku menanggung kerugian besar karena menghambat berbagai aktivitas penting baik layanan kesehatan, pendidikan, bisnis dan lainnya. Warga berharap, provider jaringan telekomunikasi terbesar di Indonesia tersebut lebih serius memberikan layanan jangan hanya meraup keuntungan saja.

Bacaan Lainnya

Informasi dirangkum di Kecamatan Meukek, beberapa tower Base Transceiver Station (BTS) yang ada di wilayah itu langsung padam dan lumpuh total setiap kali arus listrik PT. PLN (Persero) padam. Pemadaman arus PLN menyusul tumbangnya 5 tower SUTT akibat diterjang banjir bandang besar di Bireuen baru-baru ini, yang mengakibatkan pemadaman PLN selama dua pekan lebih, selama itu juga jaringan Telkomsel di Kecamatan Meukek lumpuh total.

Operasional jaringan Telkomsel di Kecamatan Meukek sangat bergantung kepada suplai arus listrik PLN, menurut warga setempat, merupakan sebuah bentuk layanan sangat buruk. Sebab, disetiap keberadaan tower BTS seharusnya disediakan baterai khusus untuk memastikan jaringan tetap berjalan normal, sehingga layanan terhadap pelanggan Telkomsel tak terganggu.

“Padahal mayoritas warga disini pelanggan Telkomsel. Kondisi ini menunjukkan managemen provider telekomunikasi terbesar di Indonesia itu tak profesional hanya mengambil keuntungan saja, sementara layanan yang diberikan kepada masyarakat sangat bobrok,” kata sejumlah warga Meukek menumpahkan kekesalannya, Sabtu (13/12/202).

Masyarakat setempat menilai Telkomsel telah gagal memastikan kualitas layanan di Kecamatan Meukek berlangsung normal.

“Ini soal komitmen dan tanggung jawab. Telkomsel tidak bisa hanya menikmati pasar dan keuntungan besar tanpa memastikan infrastruktur memadai. Setiap BTS seharusnya punya cadangan daya agar tetap berfungsi saat listrik padam,” sesal warga.

Masyarakat menilai gangguan berulang dan berlangsung cukup lama itu menunjukkan lemahnya manajemen Telkomsel di lapangan. 

Dengan matinya listrik, semestinya Telkomsel sudah punya solusi, bukan membiarkan pelanggan kehilangan akses komunikasi selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu.

Karena itu, masyarakat setempat mendesak managemen pusat Telkomsel segera mengevaluasi kinerja petugas Telkomsel di Provinsi Aceh khususnya di Kabupaten Aceh Selatan yang dinilai gagal memelihara dan merawat tower BTS di wilayah itu. Masyarakat juga meminta pemerintah daerah dan DPRK Aceh Selatan ikut mengawasi persoalan itu.

“Komunikasi sudah jadi kebutuhan dasar. Kalau layanan seluler saja tidak bisa diandalkan, bagaimana masyarakat bisa bekerja, belajar, bahkan mengakses layanan darurat,” ujar warga.

Masyarakat berharap Telkomsel segera membenahi layanan dengan menyiapkan sistem cadangan daya di setiap BTS. 

“Perusahaan sebesar Telkomsel tidak boleh kesulitan menyediakan genset atau baterai cadangan. Ini bukan sekadar soal sinyal, tapi hak masyarakat untuk mendapatkan layanan komunikasi yang layak menjadi kewajiban Negara,” pungkasnya.

Pos terkait