Dihadapan Aktivis GERPAS, Bupati Tgk. Amran: Saya Memang Bukan Lulusan Sarjana Tapi Saya Orang yang Terbuka Menerima Kritikan dan Masukan

  • Whatsapp

TheTapaktuanPost | Tapaktuan. Pertemuan tatap muka langsung antara aktivis GERPAS yang sebelumnya menggelar aksi unjuk rasa di Halaman Kantor Bupati Aceh Selatan pada Jumat pekan lalu, dengan Bupati Tgk. Amran di Hall Pendopo, Rabu (26/5/2021) menarik dan menyedot perhatian public di daerah yang dijuluki “Bumi Teuku Cut Ali” tersebut.

Betapa tidak, Bupati Tgk. Amran yang di demo oleh aktivis GERPAS disaat ia sedang berada di luar daerah. Setibanya dalam daerah langsung menyambut kedatangan GERPAS di Pendopo Bupati dan menggelar diskusi interaktif selama 4 jam di Hall Pendopo. Bisa jadi, ini akan menjadi catatan sejarah baru di dunia “pergerakan aktivis” di Kabupaten Aceh Selatan, karena baru kali ini orang nomor satu di daerah itu meluangkan waktu khusus bertemu dengan pihak yang menggelar aksi demo terhadap dirinya lalu menggelar diskusi secara terbuka selama 4 jam dengan menghadirkan langsung beberapa Kepala SKPK terkait dijajarannya.

Bacaan Lainnya

Dihadapan aktivis GERPAS, Bupati Tgk. Amran mengaku bahwa dirinya memang hanya tamatan Sekolah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di Kecamatan Kluet Selatan yang kemudian hanya melanjutkan pendidikan di pondok pesantren, sebelum akhirnya menghabiskan sisa hidupnya bergerilya di hutan belantara dengan jabatan terakhir sebagai Panglima daerah (Pangda) wilayah III Komando GAM wilayah Lhok Tapaktuan saat Aceh berkecamuk konflik bersenjata belasan tahun silam.

“Saya memang bukan orang pandai lulusan sarjana, sebab saya hanya tamatan sekolah MAN. Tapi prinsip saya adalah selalu terbuka menerima kritikan, saran dan masukan dari semua pihak dan terus ingin belajar dan belajar. Hal itu boleh dibuktikan, selama menjabat bupati saya tidak pernah mengganti nomor HP. Siapa pun yang ingin berdiskusi demi kemajauan daerah saya terima. Pintu pendopo dan kantor bupati selalu terbuka bagi seluruh rakyat Aceh Selatan,” ungkap bupati.

Bupati mengaku tidak pernah melarang dan menghindari masyarakat yang ingin bertemu dengannya, termasuk dengan kalangan mahasiswa baik yang ada di Aceh Selatan maupun di Banda Aceh. Saat sedang berada di Banda Aceh dalam sebuah urusan dinas, ia mengaku sering di hubungi oleh adek-adek mahasiswa yang meminta bertemu sekedar berdiskusi dan memberikan saran masukan. Setelah menyelesaikan tugas dinasnya, ia sering menjumpai kalangan mahasiswa tersebut di Banda Aceh.

Tgk. Amran mengaku tidak pernah membeda-bedakan pelayanan terhadap masyarakat karena factor berbeda pilihan politik saat pesta demokrasi Pilkada tahun 2018 lalu. Sebab selaku Bupati Aceh Selatan sekarang ini, maka ia merupakan pemimpin Aceh Selatan yang berpenduduk sekitar 200 ribu jiwa lebih.

“Boleh dibuktikan, bahkan termasuk dalam penempatan pejabat daerah. Contoh konkrit, disamping saya ini ada Asisten I Setdakab, Asisten II, dan Kepala Bappeda. Boleh tanya kepada masing-masing pejabat ini, kemana pilihan politik mereka saat Pilkada 2018 lalu. Tapi karena saya nilai kinerjanya bagus secara profesional, ya harus tetap saya pakai. Tidak mungkin juga roda pemerintahan yang besar ini bisa saya jalankan sendiri-sendiri atau hanya dengan orang-orang pendukung saya saja. Tidak akan maju daerah kit aini,” ungkap bupati.   

Terkait aksi unjuk rasa aktivis GERPAS, Bupati Tgk. Amran menyatakan bahwa baik atas nama pribadi maupun Pemkab Aceh Selatan, pihaknya mengucapkan terimakasih dan apresiasi yang tinggi kepada GERPAS. Karena telah peduli dan berinisiatif mengontrol jalannya roda pemerintah.

“Sebenarnya aksi unjuk rasa adek-adek dari GERPAS ini sangat bermanfaat bagi saya pribadi selaku bupati. Sebab telah ada pihak yang mengingatkan saya terkait realisasi janji-janji kampanye dulu. Melalui momentum ini, saya akan memacu lagi kinerja masing-masing SKPK agar lebih giat dan maksimal bekerja demi memenuhi ekspektasi public sebagaimana di sampaikan oleh adek-adek dari GERPAS,” ucap Tgk. Amran.    

Senang Segera Didampingi Wabup

Dalam kesempatan itu, Bupati Tgk. Amran juga menanggapi terkait desakan agar segera memiliki pendamping yaitu Wakil Bupati Aceh Selatan yang saat ini masih lowong.

Menurut Tgk. Amran terkait masalah pengisian Wabup jelas-jelas domain atau ranahnya partai politik (Parpol) pengusung pasangan AZAM saat Pilkada 2018 lalu.

Silahkan parpol pengusung menjaring nama calon yang akan di usung kemudian mendapatkan rekomendasi DPP masing-masing. Dua nama yang nantinya mengerucut, akan diserahkan ke DPRK Aceh Selatan untuk dipilih dan ditetapkan dalam rapat paripurna.

“Parpol pengusung tersebut adalah PKB, Hanura dan PDIP minus PNA karena saya selaku Ketua DPW PNA Aceh Selatan. Silahkan tanyakan kepada parpol – parpol ini sudah sejauh mana kesiapan mereka,” ucap Tgk. Amran.

Bahkan, sambung bupati, sekitar 2 hari bulan puasa ramadhan lalu dirinya telah pernah dipanggil khusus ke Jakarta untuk menemui Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDIP, Hasto Kristiyanto, menanyakan terkait perkembangan pengisian posisi Wabup Aceh Selatan.

“Saya telah menjelaskan bahwa, parpol pengusung pasangan AZAM ada PKB, Hanura dan PDIP serta PNA. Silahkan dimusyawarahkan dengan parpol pengusung tersebut untuk di kerucutkan 2 nama yang nantinya akan di serahkan ke DPRK Aceh Selatan. Artinya bahwa, terkait posisi Wabup ini tinggal sejauh mana perkembangannya di internal masing-masing parpol pengusung. Saya sendiri tentu gembira dan senang jika sudah ada Wabup karena akan ada yang menangani beberapa tugas dan tanggungjawab bupati. Tentu beban saya semakin ringan,” tutup bupati.

Pos terkait