Dibalik Suara Lantang Tersirat Sinyal Kekecewaan Bupati H. Mirwan

APEL perdana ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) bersama para Kepala Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK) di lingkungan Pemkab Aceh Selatan di Halaman Kantor Bupati Aceh Selatan, Jalan T. Ben Mahmud, Tapaktuan, pada Selasa (10/3/2026) bisa jadi sebuah sinyal kuat akan ada “Tsunami besar” di birokrasi daerah itu.

Usai mencermati pidato perdana bupati pasca aktif kembali, banyak pengamat berspekulasi, akan ada “Ledakan rudal hipersonik” menghantam birokrasi Aceh Selatan dalam waktu dekat. Pada apel perdana pasca Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) meng-aktifkan kembali H. Mirwan sebagai Bupati Aceh Selatan itu, suara orang nomor satu di Negeri Pala itu mendadak keras dan tegas menggema se-antero Bumi Teuku Cut Ali.

Bacaan Lainnya

Dengan suara lantang bak melepas perasaan terpendam selama ini, Bupati H. Mirwan menyerukan dan meminta kepada para pejabat yang tidak dapat bekerja sama untuk memajukan pembangunan daerah, agar lebih baik mengundurkan diri saja sejak dini. Dengan tegas Mirwan menyebut, apa yang ia alami==penonaktifan oleh Mendagri selama 3 bulan== ada hikmah besar dibaliknya.

Ia sadar betul, banyak persepsi dan penilaian yang berkembang ditengah masyarakat selama ini bahwa ia terkesan lemah dalam memimpin roda pemerintahan Kabupaten Aceh Selatan yang memasuki tahun ke dua. Padahal menurut H. Mirwan, kondisi tersebut bukan mencerminkan tidak tegas dirinya dalam memimpin, melainkan murni sikap dan perasaannya yang penuh pertimbangan kepada semua pihak.

Dalam pemikirannya, ia tak mengenal lagi perbedaan arah politik saat berlangsungnya pesta demokrasi Pilkada 2024 lalu. Baginya, setiap individu ASN khususnya para pejabat yang bisa bekerja sama menyukseskan Visi dan Misi pasangan MANIS (Mirwan dan Baital Mukasi) maka tetap bisa dipertahankan untuk sama – sama bekerja dipemerintahannya.

“Pertimbangan-pertimbangan yang selama ini saya lakukan tak lain adalah untuk saling menghargai, bukan untuk sebuah kondisi saling tuding – menuding ke arah negatif. Karena Kabupaten Aceh Selatan ini adalah milik kita bersama. Kita di gaji oleh pemerintah untuk melayani rakyat,” tegas H. Mirwan dengan rawut wajah serius.

Karena itu, H. Mirwan berharap kepada seluruh SKPK di Aceh Selatan agar serius sama-sama bertekad bekerja tulus ikhlas memajukan pembangunan daerah dan meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Sanksi yang diberikan kepada saya baru-baru ini, ada hikmah besar dibaliknya. Saat ini saya telah kembali bekerja, fokus saya hanya satu ingin mengabdi kepada rakyat di sisa masa jabatan ini dengan menyukseskan program kerja yang telah ditetapkan sebelumnya”.

“Apakah bapak/ibu siap bersama-sama memajukan pembangunan Aceh Selatan dan siap menyukseskan program kerja yang di arahkan?,” tanya Bupati Mirwan yang dijawab “Siap” secara serentak.

Terlepas dari semua itu, memang harus diakui bahwa publik Aceh Selatan saat ini menanti sikap tegas dan terukur Bupati Mirwan dalam membenahi birokrasi pasca menjalani sanksi di Kemendagri. Ucapan bupati bahwa “Ada hikmah besar dibalik kejadian itu” dapat dipahami dan dimaknai beragam oleh publik hari ini. Itu sebabnya, jika warning tegas itu tak di implementasikan secara nyata dilapangan maka akan terus menjadi spekulasi liar para pengamat politik di warung-warung kopi.

Soalnya, dengan sisa waktu sekitar 3 tahun lagi pemerintahannya Bupati Mirwan harus mampu “berlari kencang” mengejar ketertinggalan dari daerah – daerah lainnya di Aceh. Banyak pekerjaan rumah yang selama ini terbengkalai harus segera dirampungkan kembali, terutama program kerja pasangan MANIS yang belum terealisasi tuntas.

Selamat bertugas kembali Pak Bupati Aceh Selatan H. Mirwan, semoga tetap amanah mengemban mandat rakyat. []

Pos terkait