Oleh : Amiruddin
KEMBALI kita terenyuh dengan situasi sedang terjadi saat ini. Disaat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Selatan bersama masyarakat sedang gencar-gencarnya berupaya melawan darurat pandemi Covid-19, di tambah lagi datangnya bulan suci Ramadhan memberikan harapan semoga wabah yang telah mengguncang jagat belahan dunia ini terhindar di Bumi Teuku Cut Ali.
Namun apa hendak di kata, ditengah semua pihak sedang fokus menghadapi wabah Covid-19, bencana banjir kembali melanda dan merendam pemukiman penduduk di wilayah Trumon Raya.
Ibarat kata pepatah “Sudah jatuh ketimpa batu besar”, ya, beginilah gambaran sekilas situasi yang terjadi sejak 3 hari terakhir ini di beberapa gampong dalam Kecamatan Trumon Raya yang terdiri dari Trumon, Trumon Tengah dan Trumon Timur, Kabupaten Aceh Selatan.
Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi sejak Minggu (3/5/2020) lalu, telah mengakibatkan banjir luapan menggenangi beberapa wilayah yang telah menjadi langganan banjir selama ini.
Limpahan banjir yang disebabkan oleh tidak beres-nya saluran-saluran pembuangan air, telah menyebabkan air menggenangi pemukiman penduduk. Genangan banjir ini semakin diperparah lagi oleh kiriman limpahan air Krueng Gelombang/Krueng Singkil.
Bencana yang saban tahun rutin terjadi ini telah mengakibatkan Gampong Titi Poben, Seunebok Pusaka di Kecamatan Trumon Timur. Kemudian Gampong Lhok Raya dan Cot Bayu di Kecamatan Trumon Tengah. Dan selanjutnya Gampong Padang Harapan di Kecamatan Trumon, terendam banjir setinggi 30 – 50 cm. Bahkan terhitung sejak Selasa (5/5/2020) kemarin, sebanyak 21 Kepala Keluarga (KK) penduduk Gampong Lhok Raya, Kecamatan Trumon Tengah terpaksa mengungsi ke lokasi pengungsian yang telah di sediakan didepan Mako Brimob Trumon.
Langganan Banjir
Seperti telah diketahui oleh semua pihak bahwa, setiap telah tiba musim hujan dengan intensitas curah hujan sedang hingga tinggi setiap tahunnya, tiga kecamatan di Trumon Raya ini selalu menjadi langganan banjir.
Akibat dari bencana banjir tersebut bukan hanya rumah beserta seluruh isinya terendam tapi masyarakat juga terpaksa harus mengungsi. Termasuk aktivitas proses belajar mengajar (PBM) di sejumlah rumah sekolah disemua jenjang pendidikan juga terpaksa diliburkan.
Yang sangat menyedihkan lagi, ratusan hektar lahan pertanian dan perkebunan milik masyarakat seperti tanaman pangan, sayuran dan buah-buahan mengalami gagal panen bahkan ada yang mati.
Persoalan yang mengakibatkan terganggunya perekonomian masyarakat dampak dari bencana yang saban tahun terjadi ini, adalah gagal panen hingga rusaknya tanaman perkebunan sawit yang notabenenya adalah komoditas “primadona” yang menjadi mata pencaharian unggulan mayoritas masyarakat di Trumon Raya.
Jika banjir telah melanda, maka masyarakat petani pemilik kebun sawit dengan “air mata berlinang” terpaksa harus merelakan milihat bunga dan Tandan Buah Segar (TBS) sawit yang masih dibatang membusuk akibat terendam banjir.
Untuk mendapatkan atau menghasilkan bunga dan TBS sawit berkualitas bagus seperti semula, maka masyarakat petani terpaksa harus menunggu selama enam bulan kemudian baru dapat memanennya kembali.
Persoalannya pun belum berhenti di sini. Sebab biasanya setelah banjir reda sering ditemukan kasus sejumlah warga terserang diare dan penyakit kulit gatal-gatal.
Sehingga lengkap sudah penderitaan yang terpaksa harus ditanggung masyarakat selama ini. Betapa tidak, rumah terendam banjir sehingga harus mengungsi, lahan pertanian dan perkebunan rusak dan gagal panen, diserang penyakit kulit ditambah lagi ekonomi warga hancur daya beli menurun.
Meskipun terasa sangat menyakitkan dan menyedihkan, tapi masyarakat tak berdaya untuk melawan. Menghadapi persoalan yang terus terulang setiap tahunnya ini, warga tak punya pilihan lain selain tetap harus bertahan sambil terus beradaptasi dengan kondisi yang ada.
Memang tak bisa juga kita pungkiri dan menutup mata bahwa telah ada berbagai upaya yang dilakukan pihak pemerintah guna mengatasi persoalan ini.
Seperti baru-baru ini, telah ada inisiasi dari 4 kabupaten/kota dalam wilayah DAS Lawe Alas Singkil (Aceh Tenggara, Aceh Selatan, Subulussalam dan Aceh Singkil) untuk penanggulangan bencana banjir Krueng Singkil ini.
Langkah ini adalah kerja atau program besar karena mesti harus ada intervensi atau campur tangan pihak Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat baik dari design maupun pembiayaannya.
Untuk itu, kami berharap kesungguhan Pemerintah Pusat dan Provinsi dalam penanggulanagan bencana banjir yang selalu terjadi setiap tahun diwilayah DAS Lawe Alas Krueng Singkil tersebut.
Sehingga pada waktunya nanti warga yang selalu menderita akibat di hantam banjir, semoga suatu saat nanti akan indah pada waktunya. Mereka dapat hidup tentram, nyaman dan tentunya lebih produktif, sehingga lebih tenang dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Penulis adalah anggota DPRK Aceh Selatan Fraksi Partai Nanggroe Aceh (PNA) dari dapil 5 Bakongan – Trumon Raya.






